tirto.id - Di tengah perubahan pilihan pendidikan masyarakat, pesantren menghadapi tantangan yang tidak lagi sederhana. Orang tua kini tidak hanya mencari lembaga yang mampu membentuk pemahaman agama dan akhlak anak, tetapi juga mempertimbangkan kualitas akademik, keterampilan, keamanan, hingga kesiapan anak menghadapi dunia yang semakin kompetitif.
Perubahan ekspektasi itu ikut memengaruhi wajah pesantren. Sejumlah pondok mengalami penurunan jumlah santri baru, sementara sebagian lainnya justru mampu mempertahankan minat masyarakat. Ada yang beradaptasi dengan teknologi, memperluas pendidikan keterampilan, memperkuat bahasa asing, hingga membenahi sistem pengasuhan dan perlindungan santri.
Artinya, persoalan pesantren hari ini tidak semata-mata soal bertambah atau berkurangnya jumlah santri. Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana pesantren mempertahankan identitas dan tradisi keislamannya, sembari menjawab kebutuhan generasi yang tumbuh di tengah perkembangan teknologi dan perubahan sosial.
Di Pondok Pesantren Al-Hamidiyah, Depok, upaya itu diterjemahkan melalui konsep yang mereka sebut sebagai pesantren urban. Tradisi pengkajian kitab kuning tetap menjadi fondasi, tetapi pendidikan juga diperluas dengan penguasaan teknologi, robotik, bahasa, forum diskusi, hingga berbagai kegiatan pengembangan diri.
Konsep tersebut dirangkum dalam dua pendekatan yang menjadi ciri Al-Hamidiyah: STEAMI dan SANTRI KITAB. Teknologi dan ilmu pengetahuan diperkenalkan tanpa menanggalkan karakter santri, sementara kemampuan berpikir kritis dan berargumentasi tetap ditempatkan dalam kerangka adab dan tradisi keilmuan pesantren.
Pilihan itu juga menjadi cara Al-Hamidiyah merespons perubahan karakter santri dan orang tua. Di tengah lingkungan urban seperti Depok, santri datang dari keluarga dengan ekspektasi yang semakin beragam. Mereka tidak hanya dituntut memahami agama, tetapi juga diharapkan mampu melanjutkan pendidikan tinggi, menguasai keterampilan modern, dan memiliki bekal untuk memasuki dunia profesional.

Pada saat yang sama, pesantren menghadapi tuntutan lain yang tak kalah penting: memastikan lingkungan pendidikan tetap aman. Kasus kekerasan dan penyalahgunaan relasi kuasa yang mencuat di sejumlah pesantren membuat aspek pengasuhan dan perlindungan santri semakin menjadi perhatian masyarakat.
Al-Hamidiyah mencoba menjawab seluruh tantangan itu melalui pembenahan kurikulum, pengembangan keterampilan, penguatan tata kelola, serta aturan pengasuhan yang lebih ketat. Bagi mereka, beradaptasi bukan berarti meninggalkan tradisi, melainkan mencari cara agar nilai-nilai pesantren tetap relevan bagi generasi yang terus berubah.
Lantas, bagaimana Al-Hamidiyah membaca perubahan minat masyarakat terhadap pesantren? Sejauh mana inovasi seperti STEAMI dan SANTRI KITAB mampu menjawab kebutuhan santri urban? Dan bagaimana pesantren mempertahankan tradisi sekaligus mempersiapkan santri menghadapi dunia modern?
Berikut petikan wawancara Tirto dengan Wakil Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hamidiyah Bidang Pengasuhan dan Pembinaan, KH Abdul Rasyid Marhaly:
Belakangan muncul isu bahwa jumlah santri di Indonesia mengalami penurunan. Bagaimana Al-Hamidiyah melihat fenomena tersebut?
Fenomena ini perlu disikapi secara objektif. Jika kita melihat ke lapangan, tidak semua pesantren mengalami penurunan. Ada yang bertambah, ada yang menurun. Pesantren yang terus tumbuh adalah mereka yang mampu melakukan adaptasi terhadap situasi dan zaman tanpa kehilangan jati diri. Penurunan di sebagian pesantren bukan semata-mata karena masyarakat meninggalkan pesantren, melainkan karena ekspektasi masyarakat terhadap lembaga pendidikan semakin tinggi.Orang tua sekarang ingin anaknya mondok dengan banyak keinginan: akidahnya benar, akhlaknya baik, tetapi akademiknya juga unggul serta punya life skill. Jika pesantren bisa menawarkan hal itu, orang tua pasti tertarik. Bagi kami di Al-Hamidiyah, ini adalah momentum introspeksi. Kami terus melakukan inovasi pola pendidikan dan kurikulum, tetapi tetap mempertahankan tradisi lama seperti pengajian kitab kuning.
Jika melihat data, setelah pandemi COVID-19 sebenarnya sempat ada peningkatan. Namun, memasuki tahun 2023 dan 2024, mulai terasa ada penurunan. Ini mungkin karena munculnya banyak pilihan baru, seperti boarding school yang menawarkan program spesifik, seperti tahfiz Al-Qur'an secara intensif. Itu promosi yang sangat menggiurkan bagi orang tua saat ini.

Lalu bagaimana Al-Hamidiyah memposisikan diri di tengah tren tahfiz tersebut?
Di Al-Hamidiyah, meski kami bukan pesantren yang spesifik di bidang tahfiz, kami tetap memperkuat sisi itu melalui program tahsin dan hafalan. Namun, kami realistis. Tidak semua anak mampu atau mau menghafal Al-Qur'an sambil menjalani sekolah formal yang bebannya luar biasa. Kami memberikan ruang bagi mereka yang ingin menghafal tanpa memaksa mereka yang kapasitasnya berbeda.Al-Hamidiyah dikenal dengan konsep inovasi yang disebut STEAMI dan SANTRI KITAB. Bisa dijelaskan apa itu?
Inovasi kami tidak menghilangkan khittah pesantren. Kami memiliki metode STEAMI (Science, Technology, Art, Mathematics, Montessori, and Islamic). Ini kami padukan dengan karakter "SANTRI KITAB".SANTRI KITAB itu sebuah filosofi sekaligus singkatan: Komunikatif, Inovatif, Terbuka, Argumentatif, dan Berintegritas. Jadi, "Kitab" di sini bukan sekadar buku fisik, tetapi karakter yang harus melekat pada santri. Teknologinya masuk, tetapi jiwanya tetap santri.
Bagaimana dengan kurikulum formal? Apakah mengacu pada Kemenag, mandiri, atau sistem muadalah yang diakui oleh Undang-Undang Pesantren?
Kami mengikuti kurikulum Kemenag, tetapi kami integrasikan dengan kurikulum pesantren. Misalnya, saat belajar fikih dari buku Kemenag di kelas, kami juga mengkaji kitab kuningnya, seperti Sullamun Najah atau Kifayatul Akhyar. Begitu juga dengan akidah yang dipadukan dengan Aqidatul Awam, atau akhlak dengan Ta'lim Muta'allim. Jadi, pembelajaran kitab itu terintegrasi langsung di madrasah, bukan hanya kegiatan tambahan di malam hari.
Sekarang kita memasuki era Gen Z dan Gen Alpha yang cenderung lebih kritis dan berani berdebat. Bagaimana pesantren yang menjunjung tinggi "takzim" kepada kiai menghadapi karakter anak yang lebih "menggugat" ini?
Inilah yang kami sebut sebagai "Risiko Santri Urban". Di pesantren daerah, mungkin santri akan sangat menunduk saat kiai lewat. Tetapi di sini, di depan pondok ada Kopi Kenangan, di samping ada FamilyMart. Masyarakatnya adalah masyarakat kelas menengah yang kritis.Makanya, dalam konsep SANTRI KITAB tadi, ada poin "Terbuka" dan "Argumentatif". Kami memberikan ruang bagi santri untuk berdiskusi, bahkan berbeda pendapat, asalkan ada rujukan atau kitab yang jelas. Guru tidak bisa lagi semena-mena. Kami mengedepankan slogan Al-Adabu Fauqol Ilmi (Adab di Atas Ilmu), tetapi adab yang dibangun adalah komunikasi yang ramah dan sopan, bukan ketakutan yang menutup daya kritis.
Apakah orang tua santri juga memiliki pola pikir yang serupa?
Sangat blak-blakan. Orang tua santri kami banyak yang ASN atau profesional swasta. Mereka tidak hanya bertanya soal hafalan, tetapi juga bertanya, "Lulusan Aliyah sini tembus UI berapa orang?", "Ada program Cambridge nggak?", bahkan sampai menanyakan soal well-being anak. Ini sangat berbeda dengan pola komunikasi orang tua di pesantren tradisional.Ada stigma negatif yang menghantui pesantren belakangan ini: kekerasan seksual dan bullying. Bagaimana Al-Hamidiyah menjawab ini?
Kami memperkuat sistem pengasuhan. Ada instruksi tegas, misalnya menjaga jarak dalam komunikasi antara guru laki-laki dan santri perempuan. Bahkan untuk bersalaman, cukup dari jauh, tidak perlu cium tangan, demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Terkait bullying, kami punya mekanisme mitigasi. Di setiap dua kamar asrama, ada satu ustaz pembina yang melakukan pembinaan setiap malam sebelum tidur. Kami juga bekerja sama dengan Polres Depok untuk program pencegahan kekerasan. Kami memasang spanduk besar berisi pasal-pasal KUHP di lingkungan pondok agar santri dan orang tua tahu bahwa ada konsekuensi hukum bagi pelaku kekerasan. Kami bahkan menjadi pesantren rujukan Kemenag untuk program "Jernasrana" (Rumah Nyaman Anak).

Bagaimana dengan stigma bahwa pesantren itu kolot dan jorok?
Kami mendobrak itu dengan fasilitas modern. Pak Menko PMK, Pratikno, bahkan sempat kaget saat melihat kelas kami yang sangat lengkap dengan Smart Board. Kami juga baru saja mendapatkan sertifikasi ISO. Kami buktikan bahwa pesantren NU itu bisa bersih, modern, dan manajemennya tertata.
Ada anggapan bahwa lulusan pesantren hanya akan menjadi guru ngaji atau kiai. Benarkah demikian di Al-Hamidiyah?
Statistik menunjukkan 98 persen lulusan Aliyah kami diterima di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan kampus luar negeri dengan jurusan yang sangat beragam. Ada alumni yang kuliah di Australia mengambil Biotech. Bayangkan, di sini dia baca kitab kuning, di sana dia jadi scientist.Ada juga alumni kami, Irfan, yang sekarang bekerja di Amazon, Amerika Serikat. Dia tetap takzim kepada gurunya, tetapi kariernya di perusahaan teknologi dunia. Kami membebaskan anak-anak untuk punya mimpi apa saja—menjadi teknokrat, politisi, abdi negara—selama marwah santrinya tetap dijaga. Kami tidak ingin santri menjadi "kolot"; mereka harus maju sesuai zamannya.
Apa harapan Al-Hamidiyah ke depannya di tengah persaingan pendidikan yang semakin ketat?
Di Depok sendiri, banyak pesantren yang akhirnya tutup atau pengelolaannya kurang maksimal karena masih memakai pola lama. Kami bertahan karena kami berinovasi. Menjadi pesantren rujukan yang ramah anak dan terbuka terhadap masa depan adalah kunci agar kami tidak tergerus oleh zaman.Penulis: Irfan Amin
Editor: Alfitra Akbar
Masuk tirto.id





































