Menuju konten utama

Ketika Pesantren Merawat Tradisi dan Merangkul Teknologi

Di tengah tren penurunan jumlah santri secara umum, sejumlah pondok pesantren berhasil mempertahankan minat masyarakat.

Ketika Pesantren Merawat Tradisi dan Merangkul Teknologi
Suasana halaqoh Quran di Pesantren Tajfidz Al Quran dan dan Bahasa Arab Bina Madani, Bogor pada Minggu (2/8/2026). tirto.id/Irfan Amin
2026/08/04/pesantren-3.jpg
Suasana halaqoh Quran di Pesantren Tajfidz Al Quran dan dan Bahasa Arab Bina Madani, Bogor pada Minggu (2/8/2026). tirto.id/Irfan Amin
2026/08/04/pesantren-2.jpg
Suasana halaqoh Quran di Pesantren Tajfidz Al Quran dan dan Bahasa Arab Bina Madani, Bogor pada Minggu (2/8/2026). tirto.id/Irfan Amin
2026/08/04/pesantren-4.jpg
Suasana halaqoh Quran di Pesantren Tajfidz Al Quran dan dan Bahasa Arab Bina Madani, Bogor pada Minggu (2/8/2026). tirto.id/Irfan Amin
2026/08/04/pondok-pesantren-al-hamidiyah-depok.jpg
Suasana santri selepas Salat Jumat di Pondok Pesantren Al Hamidiyah Depok pada Jumat (31/7/2026). tirto.id/Irfan Amin
2026/08/04/kiai-haji-abdul-rasyid.jpg
Wakil Pengasuh Bidang Pengasuhan dan Pembinaan Al Hamidiyah Depok, Kiai Haji Abdul Rasyid. tirot.id/Irfan Amin
2026/08/04/kiai-haji-masrur-syamhari.jpg
Pendiri Pesantren Tahfidz Al Quran dan Bahasa Arab Bina Madani, Kiai Haji Masrur Syamhari. tirto.id/Irfan Amin
2026/08/04/diego-naufal-ben-abdillah.jpg
Santri kelas 12 Madrasah Aliyah Pesantren Al Hamidiyah Depok, Diego Naufal Ben Abdillah. tirto.id/Irfan Amin

tirto.id - Di tengah perbincangan mengenai tren penurunan jumlah santri di berbagai daerah, tidak semua pondok pesantren mengalami kondisi yang sama. Penelusuran Tirto menemukan sejumlah pesantren justru mampu mempertahankan, bahkan meningkatkan minat masyarakat. Ada pula yang sengaja membatasi jumlah santri demi menjaga kualitas pembelajaran dan pendampingan santri.

Tirto menemukan banyak pesantren memilih beradaptasi: mengajarkan robotik, literasi digital, hingga vokasi, tanpa meninggalkan kitab kuning, adab, dan tradisi pesantren. Bagi mereka, teknologi dan keterampilan bukan pengganti pendidikan agama, melainkan pelengkap untuk menyiapkan santri menghadapi tantangan dunia modern.

Pada akhirnya, persoalan pesantren bukan semata-mata tentang bertambah atau berkurangnya jumlah santri. Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana lembaga pendidikan Islam ini menjawab perubahan kebutuhan masyarakat tanpa kehilangan karakter yang menjadi kekuatannya.

Pesantren yang mampu menjaga tradisi sekaligus membuka ruang bagi teknologi, keterampilan, keamanan, dan tata kelola yang lebih baik menunjukkan bahwa lembaga pendidikan ini masih memiliki tempat dalam pilihan keluarga Indonesia. Seperti kaidah yang selama ini hidup dalam tradisi pesantren: menjaga nilai lama yang baik, sembari mengambil hal baru yang lebih baik.

Teks: Irfan Amin/Alfitra (Tirto.id)

Baca juga artikel terkait FOTO-TIRTO atau tulisan lainnya dari Dadan Gustian

tirto.id - Teknologi
Oleh: Dadan Gustian
Reporter: Irfan Amin