






tirto.id - Di tengah perbincangan mengenai tren penurunan jumlah santri di berbagai daerah, tidak semua pondok pesantren mengalami kondisi yang sama. Penelusuran Tirto menemukan sejumlah pesantren justru mampu mempertahankan, bahkan meningkatkan minat masyarakat. Ada pula yang sengaja membatasi jumlah santri demi menjaga kualitas pembelajaran dan pendampingan santri.
Tirto menemukan banyak pesantren memilih beradaptasi: mengajarkan robotik, literasi digital, hingga vokasi, tanpa meninggalkan kitab kuning, adab, dan tradisi pesantren. Bagi mereka, teknologi dan keterampilan bukan pengganti pendidikan agama, melainkan pelengkap untuk menyiapkan santri menghadapi tantangan dunia modern.
Pada akhirnya, persoalan pesantren bukan semata-mata tentang bertambah atau berkurangnya jumlah santri. Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana lembaga pendidikan Islam ini menjawab perubahan kebutuhan masyarakat tanpa kehilangan karakter yang menjadi kekuatannya.
Pesantren yang mampu menjaga tradisi sekaligus membuka ruang bagi teknologi, keterampilan, keamanan, dan tata kelola yang lebih baik menunjukkan bahwa lembaga pendidikan ini masih memiliki tempat dalam pilihan keluarga Indonesia. Seperti kaidah yang selama ini hidup dalam tradisi pesantren: menjaga nilai lama yang baik, sembari mengambil hal baru yang lebih baik.
Teks: Irfan Amin/Alfitra (Tirto.id)
Reporter: Irfan Amin
Masuk tirto.id































