Menuju konten utama

Banjir Nepal: Ribuan Hilang, Evakuasi Berpacu dengan Waktu

Proses evakuasi korban bencana banjir bandang dan tanah longsor Nepal masih terus berlangsung.

Banjir Nepal: Ribuan Hilang, Evakuasi Berpacu dengan Waktu
Foto udara memperlihatkan derasnya aliran air berlumpur yang menerjang melewati rumah-rumah dan mengalir di Sungai Trishuli pascabanjir bandang di Betrawati, Distrik Nuwakot, Nepal, pada 29 Agustus 2026. (Foto oleh PRABIN RANABHAT / AFP)
2026/09/04/banjir-bandang-nepal-0904.jpg
Personel militer dan anggota Nepal Scouts memasang jalur *zip-line* melintasi Sungai Trishuli pascabanjir bandang di Devighat, distrik Nuwakot, Nepal, pada 3 September 2026. (Foto oleh Arun SANKAR / AFP)
2026/09/03/banjir-bandang-nepal--4.jpg
Sebuah pemandangan dari udara memperlihatkan derasnya aliran air berlumpur yang menerjang melewati rumah-rumah dan mengalir di Sungai Trishuli pascabanjir bandang di Trishuli Center, Distrik Nuwakot, Nepal, pada 1 September 2026. (Foto oleh Arun SANKAR / AFP)
2026/09/03/banjir-bandang-nepal--1.jpg
Kerabat berduka dalam acara doa bersama bagi para korban hilang akibat banjir bandang di sebuah biara Buddha di Trishuli Bazar, distrik Nuwakot, Nepal, pada 2 September 2026. (Foto oleh Arun SANKAR / AFP)
2026/09/03/banjir-bandang-nepal--3.jpg
Warga mencari barang-barang yang masih bisa digunakan di tengah puing-puing akibat banjir bandang di distrik Nuwakot, Nepal, pada 1 September 2026. (Foto oleh Arun SANKAR / AFP)
2026/08/31/afp__20260829__c6td3pq__v2__highres__topshotnepaldisasterflood.jpg
Seorang petugas penyelamat bencana mengamati lokasi bangunan yang rusak akibat banjir bandang di Trishuli Bazar, Distrik Nuwakot, Nepal, pada 29 Agustus 2026. (Photo by MANAN VATSYAYANA / AFP)
2026/09/04/banjir-bandang-nepal-03-4.jpg
Personel tentara Nepal bersiap membangun jembatan melintasi Sungai Trishuli di Devighat, Distrik Nuwakot, Nepal, pada 3 September 2026. (Foto oleh Arun SANKAR / AFP)
2026/09/03/banjir-bandang-nepal.jpg
Petugas penyelamat Tiongkok yang membawa perbekalan dan peralatan memasuki wilayah pusat bencana melalui jalur darat yang baru dibuka di Pelabuhan Gyirong, Kabupaten Gyirong, Daerah Otonom Tibet di wilayah barat Tiongkok, pada 2 September 2026. (Foto oleh CNS / AFP) / Tidak untuk disiarkan di Tiongkok
2026/09/04/banjir-bandang-nepal-03-3.jpg
Petugas keamanan memindahkan jenazah korban banjir yang belum teridentifikasi dari ambulans ke kamar jenazah di Kuil Pashupatinath, Kathmandu, pada 2 September 2026. (Foto oleh Prakash MATHEMA / AFP)
2026/09/04/banjir-bandang-nepal-03-2.jpg
Para pelayat membawa jenazah korban banjir bandang, Dayaram Lamsal, untuk dikremasi di Kuil Pashupatinath, Kathmandu, pada 2 September 2026. (Foto oleh Prakash MATHEMA / AFP)
2026/08/27/afp__20260826__c6kh76g__v2__highres__nepalweatherlandslideflood.jpg
Seorang warga berjalan menyusuri jalan yang tertutup lumpur setelah bencana banjir bandang dan tanah longsor di Devighat, distrik Nuwakot, Nepal, pada 26 Agustus 2026. Bencana banjir dan tanah longsor besar di perbatasan Nepal-Tibet menewaskan sedikitnya 103 orang pada 26 Agustus 2026 dan menyebabkan ratusan orang hilang, banyak di antaranya merupakan wisatawan asing. Petugas bantuan menyatakan bahwa seluruh permukiman telah "rata dengan tanah". Menurut kementerian pariwisata, sekitar 403 wisatawan—341 di antaranya warga asing—belum diketahui keberadaannya selama beberapa jam setelah bencana terjadi. PRAKASH MATHEMA / AFP

tirto.id - Banjir bandang dahsyat melanda wilayah perbatasan Nepal dan Tibet, Cina, pada Rabu (26/8/2026) memasuki hampir satu pekan. Otoritas penanggulangan bencana Nepal melaporkan sedikitnya 1.252 orang meninggal dunia dan lebih dari 4.000 orang hilang per Kamis (3/9/2026).

Dalam video-video yang tersebar di media sosial, terlihat bagaimana kawasan perbatasan Nepal dan Tibet tiba-tiba dilanda banjir bandang. Bencana tersebut terjadi setelah material batu, es, dan air dalam jumlah besar bergerak dari kawasan pegunungan Himalaya menuju lembah.

Sejumlah laporan awal sempat mengaitkan bencana dengan gempa bumi, namun analisis lanjutan menunjukkan bahwa getaran yang tercatat kemungkinan berasal dari energi seismik akibat longsor besar.

Tim SAR saat ini masih menghadapi tantangan besar karena ada material tumpukan sampah debris hingga lebih dari 2,2 juta ton di tengah upaya evakuasi korban. Proses evakuasi makin dipersulit dengan banyaknya material sisa bangunan dan puing-puing yang memenuhi aliran sungai dan wilayah terdampak lainnya.

Kondisi terkini, proses evakuasi masih berpacu dengan waktu karena melihat banyaknya jumlah korban yang hilang dan material yang harus dibersihkan.

Teks: tirto.id

FOTO: AFP

Baca juga artikel terkait BANJIR BANDANG atau tulisan lainnya dari Dadan Gustian

Oleh: Dadan Gustian
Editor: Maya Saputri