tirto.id - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menyoroti kenaikan harga emas sebagai salah satu komponen yang turut mendorong inflasi dalam dua tahun terakhir. Menurutnya, tingginya minat masyarakat membeli emas untuk simpanan ikut tercermin dalam pergerakan harga komoditas tersebut.
Tito mengatakan hal itu diketahui setelah pemerintah mengecek komponen harga yang terus mengalami kenaikan dalam dua tahun terakhir. Setelah berdiskusi dengan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), ia mengetahui bahwa komponen tersebut berkaitan dengan harga emas.
"Dan kemudian yang terus kami lihat terus berjalan hampir dua tahun ini mungkin karena geopolitik itulah elemen komponen perawatan pribadi. Setelah kami cek apa ini ibu-ibu dengan kepala BPS rupanya harga emas," ungkap Tito dalam acara Festival Ekonomi dan Keuangan Digital (FEKDI) di JICC Senayan, Kamis (24/9/2026).
Menurut Tito, masyarakat Indonesia, khususnya ibu-ibu, banyak membeli emas sebagai instrumen simpanan. Ia mengaitkan fenomena tersebut dengan kecenderungan masyarakat memilih emas dibandingkan menyimpan uang atau mata uang asing yang nilainya berfluktuasi.
"Mungkin ibu-ibu yang beli emas untuk dijadikan simpanan dibandingkan dengan menyimpan uang atau mata uang asing yang naik turun. Nah, ini yang sesuatu enggak bisa kita bendung juga," ujarnya.
Selain harga emas, Tito menyoroti kenaikan harga sejumlah komponen pengeluaran masyarakat saat memasuki tahun ajaran baru. Menurutnya, peningkatan kebutuhan pendidikan turut memberikan tekanan terhadap inflasi pada periode tersebut.
Tito juga mengingatkan pemerintah daerah untuk berhati-hati dalam menetapkan kenaikan tarif layanan publik, seperti air minum dan angkutan kota. Sebab, perubahan tarif tersebut dapat langsung memengaruhi inflasi di daerah.
"Nah, ini kami selalu mengingatkan teman-teman di daerah hati-hati kalau untuk menaikkan air minum, tarif angkutan kota, karena berdampak langsung kepada inflasi di daerah itu," terang Tito.
Untuk mengantisipasi gejolak harga, Tito mengatakan pemerintah kini memantau perkembangan harga melalui Indeks Perkembangan Harga (IPH) yang dirilis setiap minggu. Menurutnya, pemantauan mingguan membuat pemerintah dapat lebih cepat mengidentifikasi dan merespons perubahan harga dibandingkan jika hanya mengandalkan data bulanan.
"Sehingga ini boleh merumuskan namanya Indeks Perkembangan Harga (IPH) yang dirilis setiap minggu. Nah, ini kita akan bisa mengontrol lebih mudah, yaitu dalam tahapan mingguan dan biasa kita Zoom meeting setiap hari Senin dengan kepala-kepala daerah atau yang mewakili ada tim pengendali inflasi daerah," jelasnya.
Penulis: Mukhtar Abdullah
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id







































