tirto.id - Presiden Prabowo Subianto mengundang sejumlah pakar dan akademisi ke Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (24/9/2026), untuk membahas inovasi dan langkah mitigasi pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya pada ekosistem lahan gambut.
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, mengungkapkan, rapat kerja tersebut secara spesifik menyoroti mitigasi karhutla sekaligus tata kelola keberlanjutan 24 juta hektare lahan gambut di Indonesia. Sesuai regulasi yang berlaku, pemanfaatan lahan gambut dibatasi maksimal 70 persen, sedangkan fungsi lindung ditetapkan minimal 30 persen.
"Sehingga kita harus juga berpikirkan di satu sisi sustainable use ini harus benar-benar kita desain dengan baik karena di sana ada 41 juta penduduk yang hidup di kawasan Hidrologis, Gambut. Karena itu, saya yakin hari ini Pak Presiden mengundang para ahli, para pakar untuk membahas masalah pengolahan gambut ini," katanya.
Deretan pakar yang hadir di Istana Kepresidenan antara lain Pakar Lingkungan Nottingham University, Bagus Muljadi, Ahli Gambut dan Guru Besar Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Azwar Maas, dosen dari Universitas Tanjungpura, Zakaria Amsari, Ahli Gambut Universitas Riau (Unri), Haris Gunawan, serta Wakil Rektor Universitas Palangka Raya, Darmae Nasir.
Turut hadir pula Direktur Pusat Pengembangan IPTEK dan Inovasi Gambut Universitas Palangka Raya, Henrik Segah, Guru Besar Fire Safety Engineering (FSE) Universitas Indonesia (UI), Yulianto S. Nugroho, Koordinator Pusat Unggulan Iptek Perguruan Tinggi Reklamasi Lahan Universitas Jambi, Asmari Saad, serta Guru Besar Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (FTSL) Institut Teknologi Bandung (ITB), Puji Lestari.
Selain itu, diskusi mitigasi ini turut menghadirkan Guru Besar Teknik Sipil ITB, Indratmo Soekarno, Profesor Riset Bidang Teknologi Agroforestri BRIN, Made Hesti Lestari, Guru Besar Pertanian Universitas Lambung Mangkurat, Ahmad Kurnain, Pakar Geomatika UGM, Bambang Kun Cahyono, serta Pakar Wilayah Gambut Unri, Sigit Sutikno.
Daftar tersebut diperkuat dengan kehadiran Ahli Kebakaran Hutan dan Lahan IPB, Ati Dwi Nurhayati, Ahli Pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan Gambut UI, Muhammad Agung Santoso, serta Pakar Ekologi ITB, Elham Sumarga.
Selain para pakar dan Kepala BRIN, rapat ini juga dihadiri Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, Mentan, Amran Sulaiman, Mendiktisaintek, Brian Yuliarto, serta Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Teuku Faisal Fathani.
Dalam keterangannya, Teuku Faisal Fathani memaparkan bahwa musim hujan tahun ini mengalami kemunduran akibat pengaruh fenomena El Nino.
"Terkait datangnya musim hujan, karena ini juga salah satu upaya harapan kita gitu agar musim hujan segera datang, tapi karena El Nino sekarang posisinya sangat kuat, fasenya, sehingga musim hujan di Indonesia itu akan sedikit mundur," kata Teuku, di Istana, Jakarta, Kamis (24/9/2026).
Teuku menjelaskan bahwa sejumlah wilayah terdampak karhutla, seperti Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Selatan, diproyeksikan mulai memasuki musim hujan pada Oktober 2026, sedangkan wilayah lainnya pada November dan Desember.
"Dan puncaknya nanti musim hujan di Desember, Januari, Februari," ucap dia.
Kendati demikian, BMKG mengingatkan potensi ancaman bencana hidrometeorologi basah mengingat durasi musim hujan yang lebih singkat.
"Cuma ada satu hal yang kita khawatirkan saat ini, karena sifat hujannya untuk musim hujan 2026-2027 ini adalah normal, tapi durasinya lebih pendek. Sehingga, kita khawatirkan terkait dengan peningkatan dari bencana hidrometeorologi basah seperti banjir dan longsor nantinya," imbuh Teuku.
Penulis: Mochammad Fajar Nur
Editor: Andrian Pratama Taher
Masuk tirto.id


































