Menuju konten utama

6 Fakta Dugaan Kekerasan Seksual Pimpinan Ponpes Lombok Tengah

Pimpunan Ponpes Abul Barokat Wannafahat di Lombok Tengah diduga melakukan kekerasan seksual pada beberapa santri. Berikut sebagian fakta hingga saat ini.

6 Fakta Dugaan Kekerasan Seksual Pimpinan Ponpes Lombok Tengah
Ilustrasi pelecehan. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Dugaan kasus kekerasan seksual oleh pimpinan pondok pesantren (ponpes) kembali tersiar. Kali ini, kasus kekerasan seksual diduga terjadi di Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Pimpinan Ponpes Abul Barokat Wannafahat diduga telah melakukan serangkaian kekerasan seksual kepada santrinya sendiri.

Dugaan kasus kekerasan seksual ini pertama kali diketahui melalui laporan investigasi yang disiarkan BBC pada Minggu (20/9/2026). Dalam laporan itu, pemimpin Ponpes Abul Barokat Wannafahat bernama Muhammad Imanuddin Sumar diduga telah melakukan kekerasan seksual kepada sejumlah santri.

Laporan itu menyebut, Imanuddin diduga melakukan berbagai bentuk kekerasan seksual kepada sejumlah santri selama bertahun-tahun. Dugaan ini juga membuat para korban mengalami tekanan ketika mencari keadilan. Sejumlah santri lain yang bertindak untuk membantu korban turut dilaporkan mengalami tekanan.

Sebuah rekaman berisi pernyataan Imanuddin juga tersiar di media sosial. Dalam rekaman ini, pihak Imanuddin tampak mengakui perbuatannya, kendati turut menekan pihak korban agar tidak melanjutkan proses hukum atas kasus tersebut.

Fakta-Fakta Dugaan Kekerasan Seksual oleh Pimpinan Ponpes Abul Barokat Wannafahat

Kini, dugaan kasus kekerasan yang dilakukan Imanuddin masih bergulir. Proses hukum atas dugaan ini tengah dilakukan. Sejauh ini, berikut sejumlah fakta yang telah terungkap.

1. Kronologi Terbongkarnya Dugaan Kekerasan Seksual di Ponpes Abul Barokat Wannafahat

Dalam kasus ini, para pihak yang telah secara gigih berupaya untuk membongkar dugaan kekerasan seksual Imanuddin adalah para santri dan alumni ponpes. Selama bertahun-tahun, mereka berupaya untuk mengungkap dugaan kejahatan yang dilakukan guru mereka itu. Laporan BBC kemudian mengamplifikasi apa yang diperjuangkan para santri.

Upaya pengungkapan itu dilakukan oleh sekelompok santri dan alumni ponpes tersebut. Mereka terdiri dari para korban dan santri lain yang tergerak untuk membantu korban mendapat keadilan.

Kasus ini dilaporkan mulai terbongkar setelah seorang santri bernama Moch Yusron Azzahidi mendapatkan cerita bahwa temannya menjadi korban kekerasan seksual. Korban tersebut berinisial ZR.

Pada 2022, Yusron pertama kali mendapatkan kronologi dugaan kekerasan seksual yang dialami ZR. Kronologi itu menyebut, Imanuddin diduga telah memaksa untuk mencium dan meraba tubuh ZR.

Sejak itu, Yusron menghimpun para santri lain untuk menelusuri kebenaran dari kronologi tersebut. Dari penelusuran itu, Yusron dan kawan-kawan justru mendapati temuan bahwa terdapat beberapa korban selain ZR.

Selain kronologi kasus kekerasan yang menimpa ZR, Yusron dkk. menemukan kronologi kekerasan dari empat santri lainnya. Salah satunya datang dari pengakuan seorang alumni berinisial SRF.

SRF menyebut, ia pernah mengalami kekerasan seksual yang dilakukan oleh Imanuddin. Dalam kasusnya, Sukma mengatakan bahwa Imanuddin pernah suatu ketika berupaya untuk memerkosanya.

Hal itu terjadi pada suatu malam. Imanuddin memanggil SRF ke ruangan di rumahnya berusaha untuk memerkosa. Beruntung, SRF berhasil kabur.

Kesaksian-kesaksian itu kemudian dihimpun oleh Yusron dkk. Mereka bahkan menyusun laporan setebal tujuh halaman untuk menjelaskan kronologi kejadian yang mereka himpun dan mengidentifikasi para saksi dan korban.

Usai kesaksian terkumpul, Yusron kemudian menelepon Imanuddin pada Juni 2023. Yusron menghubungi gurunya itu untuk mengonfirmasi temuannya. Imanuddin, kala itu, mengakui apa yang ditemukan Yusron.

Imanuddin kemudian memohon Yusron untuk tidak mengedarkan temuan tersebut. “Tutup aib gurunya, Nanda. Walau salah tak apa. Yang penting guru Nanda selamat,” kata Imanuddin.

Dari sana, Yusron dkk. kemudian menyetorkan dokumen temuan ke Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI), organisasi yang menaungi ratusan pondok pesantren. Namun, sejak penyetoran itu, Yusron dan para korban justru mendapatkan tekanan dari pihak Imanuddin.

Imanuddin disebut telah menghubungi para korban dan meminta agar mereka tak melaporkan kasus tersebut. Khusus pada Yusron, tekanan bahkan dilakukan dengan mendatangi rumah santri itu di Jakarta dan ditekan lewat perantaraan ibunya.

Upaya pengungkapan kasus ini kemudian sempat terhenti. Hingga akhirnya, para korban dan Yusron bersepakat untuk mengungkapnya melalui media massa.

2. Imanuddin Bantah Lakukan Kekerasan Seksual dan Pilih Mundur

Setelah dugaan kekerasan seksualnya tersiar secara publik, Imanuddin membuat konferensi pers pada Rabu (23/9). Dalam kesempatan itu, ia menyatakan mengundurkan diri sebagai pimpinan Ponpes Abul Barokat Wannafahat.

Dalam keterangannya, Imanuddin menyebut keputusan ini dilakukan agar aktivitas pembelajaran di ponpes tak terganggu dengan proses hukum yang ia jalani. Operasional pondok, katanya, kemudian diserahkan kepada pimpinan NWDI Tuan Guru Bajang Zainul Majdi.

Kesempatan itu juga digunakan Imanuddin untuk membantah tuduhan. Ia membantah telah melakukan kekerasan seksual terhadap para santrinya.

Pihaknya mengeklaim temuan yang dihimpun Yusron “tidak benar” dan “tidak berdasar”. Ia tak merinci lebih lanjut alasannya, namun Imanuddin menyebut akan melaporkan Yusron ke polisi.

3. Pimpinan Ponpes Bersikap Tertutup ke Warga Sekitar

Ponpes Abul Barokat Wannafahat berdiri di Desa Bunkate, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah. Kendati berdiri di tengah masyarakat dan berstatus sebagai pemuka agama, namun pimpinan ponpes itu dikenali warga sebagai sosok yang tertutup.

Tak seperti pemuka agama pada umumnya yang berusaha membangun pengaruh di tempat tinggalnya, Imanuddin disebut warga Bunkate jarang terlibat dengan masyarakat. Salah satu warga bahkan menyebut Imanuddin tak menyatu dengan masyarakat sekitar.

4. Ratusan Santri Ponpes Abul Barokat Wannafahat Dijemput Orang Tua

Ketika kasus dugaan kekerasan seksual ini tersiar, Ponpes Abul Barokat Wannafahat telah memiliki sekitar 800 santri laki-laki dan perempuan. Seiring kasus ini jadi perhatian publik, sejumlah orang tua santri dilaporkan mendatangi ponpes dan menjemput anak mereka.

Dijemputnya para santri itu dilaporkan telah terjadi, setidaknya, sejak Selasa (22/9). Sejumlah orang tua menyebut mereka menjemput anaknya dan tak akan kembali ke pondok tersebut. Tak sedikit yang memilih untuk memindahkan sekolah anaknya karena khawatir dengan perilaku para guru seperti Imanuddin.

Ratusan santri yang belajar di Ponpes Abul Barokat Wannafahat sendiri berasal dari berbagai daerah. Mayoritas berasal dari wilayah NTB dan Kalimantan.

5. Kasus Telah Ditangani Polres Lombok Tengah

Kasus dugaan kekerasan seksual oleh Muhammad Imanuddin Sumar ini kini telah ditangani oleh Polres Lombok Tengah. Seiring viralnya perkara ini, pihak kepolisian menyebut pada Selasa bahwa mereka akan memprioritaskan proses hukum atasnya.

Sementara itu, kuasa hukum para korban, Joko Jumadi, mengataka n upaya pelaporan kasus ini secara hukum sebenarnya telah dilakukan sejak Februari 2025. Namun, kala itu, laporan tidak ditindaklanjuti karena kurangnya alat bukti.

Kemudian, pada Selasa lalu, Joko Jumadi kembali datang ke Polres Lombok Tengah untuk menyerahkan alat bukti ke pihak kepolisian. Pihak kepolisian lalu berjanji untuk menindaklanjutinya, termasuk memberikan pengamanan terhadap para korban yang merasa terancam.

6. DPR Minta Polisi Usut Tuntas

Anggota Komisi III DPR RI Abdullah meminta pihak kepolisian untuk mengusut dugaan kekerasan seksual di Ponpes Abul Barokat Wannafahat dengan tuntas. Pelaku harus diungkap dan saksi hingga korban tidak boleh menjadi takut karena tekanan.

"Jangan sampai status, jabatan, kedudukan, ataupun posisi seseorang di lingkungan pesantren menjadi alasan untuk menghambat pengungkapan perkara,” kata Abdullah, dikutip Antara, Rabu (23/9)

"Jangan sampai korban atau saksi justru merasa takut untuk berbicara karena ada tekanan dari lingkungan sekitar. Kepolisian harus memastikan mereka mendapatkan perlindungan penuh agar fakta sebenarnya terungkap,” tambahnya.

Baca juga artikel terkait KEKERASAN SEKSUAL atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar