tirto.id - Sebagian besar wilayah Sumatra Selatan (Sumsel) terancam mengalami kekeringan ekstrem pada musim kemarau tahun ini. Sebab, sungai-sungai makin menyusut dan hujan tidak kunjung turun.
Berdasarkan catatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), beberapa daerah di provinsi itu mengalami hari tanpa hujan (HTH) cukup lama, dengan periode terpanjang selama 87 hari. Daerah-daerah itu berada di Pos Pantau Hujan Babat Supat, Musi Banyuasin, dan Pos Hujan BPP Tanjung Batu, Ogan Ilir.
Ada juga daerah dengan HTH selama 31-60 hari berada di Palembang, Prabumulih, Ogan Komering Ilir, dan Musi Banyuasin. Sementara itu, HTH kategori kekeringan ekstrem atau lebih dari 60 hari terpantau di sebagian besar Ogan Komering Ulu Timur, sebagian PALI, sebagian kecil Banyuasin, Muara Enim, Musi Banyuasin, Ogan Ilir, dan OKI.
Kondisi kering tersebut diperkirakan berlanjut pada dasarian III September. Sebagian besar wilayah Sumsel, terutama bagian tengah hingga timur, memiliki peluang lebih dari 70 persen mengalami curah hujan kategori rendah, yakni 0–50 milimeter.
Minimnya hujan juga terlihat pada kondisi dasarian II September. Pada saat itu, sebagian besar wilayah Sumsel hanya menerima curah hujan kategori rendah, 0–50 milimeter. Curah hujan tertinggi hanya tercatat 80 milimeter di Pos Hujan Gumay Ulu, Kecamatan Gumay Ulu, Lahat.
Di sisi lain, di wilayah bagian barat dan selatan Sumsel masih memiliki peluang hujan lebih tinggi yakni 50 persen dengan kategori menengah yang tersebar di Musi Rawas Utara, bagian barat Musi Rawas, selatan Lahat, Pagar Alam, selatan Muara Enim, bagian barat OKU, dan bagian barat OKU Selatan.

Respons Pemerintah
Kondisi itu menjadi perhatian Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumsel. Sebab, ancaman kekeringan sudah mulai terlihat di sebagian besar wilayah dalam waktu beberapa waktu terakhir.
Gubernur Sumsel, Herman Deru, mengungkapkan, debit sungai mulai terjadi di sejumlah wilayah, salah satunya Sungai Musi. Padahal, masih banyak masyarakat yang mengandalkan air sungai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Saya lihat sungai-sungai kita banyak sekali debitnya turun. Kita harus carikan solusinya biar masalah masyarakat teratasi," ungkap Herman Deru, Selasa (22/9/2026).
Deru mengatakan, periode kering masih berlangsung cukup lama. Berdasarkan prediksi BMKG, hujan baru turun merata di Sumsel pada awal November 2026. Instansi terkait, seperti PDAM, harus melakukan inovasi agar bahan baku yang ada bisa memenuhi kebutuhan air di tengah kekeringan.
Selain itu, pemerintah juga melakukan optimalisasi Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), yang dinilai membantu meningkatkan curah hujan. Sepanjang tahun ini, 58 kali OMC telah dilakukan di Sumsel dengan menyesuaikan keberadaan awan yang berpotensi menghasilkan hujan.
"Sebagai gubernur, saya instruksikan ke Satgas untuk lakukan OMC jika ada bibit hujan. Waktunya juga kita sesuaikan, tengah malam pun kita lakukan jika ada potensinya," kata Deru.

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel, Wandayantolis, mengungkapkan, kondisi kemarau panjang dan kering dipengaruhi El Nino yang berada pada intensitas sangat kuat. Pergerakan angin dari timur juga mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia, sementara pola udara yang dapat membantu pembentukan hujan (Madden-Julian Oscillation) atau MJO sedang tidak aktif.
"Kondisi ini membuat sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi masih mengalami cuaca kering, termasuk juga wilayah Sumsel," ungkap Wandayantolis.
HTH yang lama mengakibatkan debit sungai menyusut yang berimbas pada minimnya ketersediaan air. Musim kering juga diwaspadai meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan.
Berdasarkan prediksi, terdapat tujuh daerah di Sumsel yang berstatus awas dan mengalami kekeringan parah. Yakni Musi Banyuasin, Banyuasin, PALI, Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir, Muara Enim, dan OKU Timur.
Sementara itu, daerah Palembang dan Prabumulih berstatus siaga, sedangkan empat daerah lain masuk dalam status waspada, yakni Musi Rawas Utara, Empat Lawang, Lahat, dan Lubuklinggau.
"Ancaman Sumsel saat ini adalah kekeringan parah dan karhutla yang terus meluas," kata Wandayantolis.
Kepala Pelaksana BPBD Sumsel, M Iqbal Alisyahbana, mengatakan, BPBD Sumsel telah melakukan langkah-langkah mitigasi kekeringan. Optimalisasi pembuatan dan penyiapan kanal sehingga dapat menjaga sumber air di area rawan dan kelembaban tanah gambut.
Terkait krisis air yang dialami masyarakat di sejumlah daerah, Iqbal menyebut telah berkoordinasi dengan berbagai instansi dalam menyuplai air bersih. Masyarakat dapat melapor dan dalam waktu cepat didistribusikan air bersih melalui mobil tangki.
"Distribusi air bersih terus kita lakukan, BPBD masing-masing daerah langsung turun ke lapangan," kata Iqbal.
Iqbal juga merespons instruksi pimpinannya untuk melakukan OMC di titik-titik potensial penyemaian awan menggunakan garam dengan target memicu hujan buatan. Operasi ini juga bertujuan untuk membasahi lahan-lahan yang rawan terbakar.
"OMC diupayakan terus dilakukan, baik oleh pemerintah maupun swasta," kata Iqbal.
Sementara itu, beberapa instansi gencar menyalurkan air bersih ke sejumlah daerah yang membutuhkan. Belum lama ini, Polda Sumsel mendistribusikan bantuan air bersih ke Musi Banyuasin, Ogan Komering Ulu Timur, Ogan Ilir, Musi Rawas Utara, Musi Rawas, Palembang, dan Banyuasin, yang masing-masing daerah mendapatkan 10.000 liter air.
Selain itu, BAZNAS Sumsel juga turun tangan dalam mengatasi kekeringan. BAZNAS mendistribusikan sedikitnya 32.000 liter air bersih ke Desa Teluk Kecapi, Ogan Ilir.
Kabid Humas Polda Sumsel, Kombes Nandang Mu'min Wijaya, mengungkapkan, Polda Sumsel terus mendorong personel di wilayah untuk responsif terhadap berbagai kondisi yang dihadapi masyarakat, termasuk persoalan kekeringan dan keterbatasan air bersih. Kehadiran personel kepolisian sekaligus menjadi bentuk respons cepat terhadap persoalan sosial yang berdampak langsung pada kebutuhan dasar masyarakat.
"Kami berupaya hadir secara langsung membantu masyarakat yang mengalami keterbatasan air bersih. Ini merupakan bentuk kepedulian Polri sekaligus komitmen memberikan pelayanan kepada masyarakat," kata Nandang.

Penulis: Irwanto
Editor: Andrian Pratama Taher
Masuk tirto.id


































