Menuju konten utama

85,7 Persen Wilayah Sumsel Masuk Kemarau, Karhutla Jadi Ancaman

BMKG mengatakan saat ini wilayah Sumatra Selatan memasuki musim kemarau ekstrem. Karhutla menjadi ancaman paling berat.

85,7 Persen Wilayah Sumsel Masuk Kemarau, Karhutla Jadi Ancaman
Petugas dari Manggala Agni Daops Sumatera XIV-Banyuasin dibantu helikopter water boombing MI8 AMT milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan pemadaman kebakaran lahan di Kelurahan Sukarami, Kecamatan Pemulutan Barat, Kabupaten Ogan Ilir (OI), Sumatera Selatan, Sabtu (4/7/2026). Kebakaran lahan di daerah tersebut berhasil dipadamkan. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/foc.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat musim kemarau terus meluas di wilayah Sumatra Selatan. Hingga akhir Juni 2026, 12 dari 14 Zona Musim (ZOM) atau 85,7 persen telah memasuki musim kemarau.

Kepala Stasiun Klimatologi Sumsel, Wandayantolis menjelaskan daerah yang memasuki musim kemarau jika memenuhi kriteria klimatologis, yaitu curah hujan selama tiga dasarian berturut-turut kurang dari 50 milimeter per dasarian dengan akumulasi curah hujan selama tiga dasarian tersebut kurang dari 150 mm. Saat ini, sebagian besar wilayah Sumsel sudah memasuki musim kemarau.

"85,7 persen wilayah Sumsel sudah kemarau, hanya dua ZOM yang masih berada pada tahap indikator menuju musim kemarau," ungkap Wandayantolis, Selasa (7/7/2026).

Meski demikian, musim kemarau secara klimatologis tidak berarti hujan berhenti sepenuhnya. Pada beberapa wilayah masih dapat terjadi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang.

Dalam situasi ini, masyarakat dan pemerintah daerah diimbau terus memantau informasi iklim terbaru dan meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi dampak musim kemarau, seperti berkurangnya ketersediaan air, meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan, penyesuaian kegiatan pada sektor pertanian, perkebunan, dan sumber daya air.

"Karhutla menjadi ancaman paling berat saat terjadi musim kemarau, apalagi ketersediaan air menipis," kata Wandayantolis.

Wandayantolis membeberkan wilayah yang telah memasuki musim kemarau di Sumsel berjumlah 13 ZOM dengan waktu awal musim yang berbeda-beda. Yakni ZOM 127 (mulai musim kemarau pada Mei II) meliputi Banyuasin bagian timur, sebagian besar Palembang, Ogan Komering Ilir bagian utara, dan sebagian kecil Ogan Ilir bagian utara.

Kemudian ZOM 132 (mulai musim kemarau pada Mei II) meliputi OKU Selatan bagian barat, OKU bagian selatan, Muara Enim bagian selatan, dan Lahat bagian selatan. ZOM 126 (mulai musim kemarau pada Mei III) meliputi Muara Enim bagian timur, sebagian besar Ogan Ilir, OKI bagian barat, Prabumulih bagian timur, sebagian kecil OKU bagian timur, dan sebagian kecil OKU Timur.

Selanjutnya ZOM 128 (mulai musim kemarau pada Mei III) meliputi sebagian besar Musi Banyuasin dan Banyuasin bagian barat. ZOM 130 (mulai musim kemarau pada Mei III) meliputi Prabumulih bagian barat, sebagian besar Muara Enim, sebagian besar Lahat bagian timur, sebagian wilayah PALI bagian selatan hingga barat, sebagian kecil Musi Banyuasin bagian selatan, sebagian Musi Rawas bagian timur, serta sebagian OKU bagian utara hingga barat.

ZOM 131 (mulai musim kemarau pada Mei III) meliputi seluruh wilayah Musi Rawas Utara, seluruh wilayah Kota Lubuk Linggau, sebagian besar Musi Rawas, dan sebagian Musi Banyuasin bagian barat. ZOM 125 (mulai musim kemarau pada Juni I) meliputi Palembang bagian barat, Musi Banyuasin bagian selatan, Banyuasin bagian barat, PALI bagian timur, Muara Enim bagian utara, dan Ogan Ilir bagian utara.

Musim kemarau juga terjadi ZOM 133 (mulai musim kemarau pada Juni I) meliputi sebagian besar Empat Lawang dan sebagian kecil Lahat bagian selatan. ZOM 135 (mulai musim kemarau pada Juni I) meliputi OKI bagian barat dan sebagian besar OKU Timur, dan ZOM 136 (mulai musim kemarau pada Juni I) meliputi: OKI bagian selatan.

Kemudian, ZOM 137 (mulai musim kemarau pada Juni I) meliputi sebagian besar Kota Pagaralam, sebagian Lahat bagian selatan dan barat, sebagian kecil Musi Rawas bagian selatan, dan sebagian kecil Empat Lawang bagian timur. ZOM 138 (mulai musim kemarau pada Juni I) meliputi OKU bagian selatan, OKU Selatan bagian timur, dan sebagian kecil OKU Timur bagian selatan.

Masih terdapat dua ZOM yang belum secara klimatologis memasuki musim kemarau, yakni ZOM 129 indikator kemarau sejak Juni III meliputi OKI bagian timur dan ZOM 134 indikator kemarau sejak Juni III, meliputi Banyuasin bagiam utara dan OKI bagian utara.

"Kedua wilayah ZOM ini telah menunjukkan penurunan curah hujan dan saat ini berada pada fase transisi menuju musim kemarau. Apabila tren penurunan curah hujan berlanjut sesuai kriteria klimatologis, kedua ZOM tersebut diperkirakan akan segera memasuki musim kemarau pada periode berikutnya," tutupnya.

Baca juga artikel terkait BMKG atau tulisan lainnya dari Irwanto

tirto.id - Flash News
Kontributor: Irwanto
Penulis: Irwanto
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama