tirto.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengatakan pemerintah bakal menyiapkan insentif pajak untuk mendorong investasi di sektor panas bumi/geotermal.
Menurut dia, keekonomian proyek geotermal saat ini telah mencapai 9,5 sen per kWh. Akan terapi, angka tersebut masih dinilai kurang oleh pelaku usaha, sehingga pemerintah akan memberikan sejumlah kemudahan bagi investor.
"Sekalipun sudah mencapai 9,5 sen per kWh, tapi oleh teman-teman asosiasi mengatakan masih kurang. Kita akan memberikan terobosan dengan insentif pajak," kata Bahlil, dalam kegiatan The 12th Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition di Jakarta, Rabu (19/8/2026).
Bahlil menyatakan pemerintah akan mengubah peraturan pemerintah (PP) dan peraturan presiden (Perpres) untuk memberikan kemudahan serta insentif terhadap bisnis investor geotermal.
Ia meminta pengusaha yang telah mendapatkan konsesi panas bumi segera menjalankan pengembangan proyek.
Bahlil lantas mengingatkan agar konsesi tidak hanya ditahan karena dapat memperlambat pengembangan geotermal di Indonesia.
"Bagi teman-teman pengusaha yang sudah mendapatkan konsesi, harus juga cepat. Jangan konsesinya ditahan," ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Bahlil turut menyoroti masih adanya konsesi yang mengalami perpanjangan berulang. Terdapat izin yang telah diperpanjang satu kali dan kembali diajukan untuk perpanjangan 2-3 kali.
"Izin sudah diperpanjang satu kali, mau bukan dua kali diperpanjang, ada juga yang mau tiga kali," kata Bahlil.
Ia mengklaim pemerintah tidak mempermasalahkan pihak yang mengerjakan proyek geotermal selama pengembangannya dapat dilakukan dengan cepat.
Bahlil berkata Indonesia sejatinya memiliki potensi geotermal sekitar 27–30 gigawatt (GW). Namun, pemanfaatannya dinilai masih belum optimal.
"Karena itu konsesi ini, yang tadi sudah ditandatangani, itu pun kita bisa lakukan," ujarnya.
Bahlil pun meminta pengembangan geotermal tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan listrik. Panas bumi diyakini dapat dimanfaatkan untuk mendorong kegiatan ekonomi dan menciptakan lapangan pekerjaan.
Ia mencontohkan pemanfaatan panas bumi untuk pengeringan kopi dan sejumlah industri lainnya, termasuk petrokimia. Target pengembangan geotermal diminta diperbesar dalam bauran energi nasional.
Oleh karena itu, Bahlil menargetkan kontribusi geotermal minimal 15 persen pada 2050.
Target itu disebut dapat dicapai dengan dukungan teknologi dan pendanaan yang memadai. Inovasi teknologi dinilai menjadi faktor penting agar pengembangan geotermal Indonesia dapat dilakukan secara kompetitif.
"Kita pengin untuk bauran energi, targetkan saja lah sampai dengan 2050 itu, minimal itu 15 persen dari total energi nasional kita," tutur Bahlil.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id




































