Menuju konten utama

BMKG Prediksi Musim Kemarau 2026 Lebih Kering dan Panjang

Kondisi ini harus mulai diantisipasi untuk memastikan ketersediaan air, kondisi kesehatan, serta multisektor terdampak.

BMKG Prediksi Musim Kemarau 2026 Lebih Kering dan Panjang
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani (tengah) didampingi Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan (kiri) dan Plt.Deputi Bidang Meteorologi Andri Ramdhani (kanan) memberikan keterangan kepada media tentang perkembangan iklim dan pemutakhiran prediksi musim kemarau 2026 di Indonesia di Kantor Pusat BMKG, Jakarta, Rabu (10/6/2026). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/nz

tirto.id - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau di Indonesia akan terjadi pada Juli hingga September 2026. Musim kemarau tahun ini pun diprediksi lebih kering dan panjang daripada rata-rata normalnya.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengatakan kondisi ini harus mulai diantisipasi seluruh lapisan masyarakat untuk memastikan ketersediaan air, kondisi kesehatan, serta kebutuhan multisektor yang terdampak dapat terkendali.

“BMKG secara aktif berkomunikasi, berkoordinasi, serta melakukan pendampingan kepada pemangku kepentingan di tingkat daerah,” ujar Faisal melalui keterangan tertulis, Rabu (10/6/2027).

Faisal menjelaskan wilayah yang diprediksi mengalami puncak kemarau pada Juli 2026 meliputi sebagian Sumatra, sebagian kecil Kalimantan dan Jawa, Nusa Tenggara Timur bagian selatan, Sulawesi Barat bagian utara, dan Sulawesi Tengah bagian barat.

Kemudian sebagian kecil Maluku, Papua Barat Daya bagian selatan, Papua Barat bagian Tengah, dan Papua bagian timur.

“Lalu, pada bulan Agustus 2026, puncak musim kemarau terjadi di Sumatra bagian tengah, sebagian besar Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, sebagian Nusa Tenggara Timur, sebagian besar Kalimantan, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku dan Maluku Utara, serta sebagian besar Pulau Papua,” tuturnya.

Selain itu, 25,41 persen luas daratan memasuki puncak kemarau pada September 2026.

Wilayahnya meliputi Kepulauan Bangka Belitung, sebagian besar Sumatra Selatan, Lampung, sebagian kecil Jawa, sebagian besar Nusa Tenggara Timur, Kalimantan bagian selatan, sebagian besar Sulawesi, sebagian besar Maluku Utara, sebagian Maluku, dan Papua Pegunungan bagian tengah.

Sementara itu, Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menambahkan, berdasarkan pemantauan BMKG hingga akhir Mei 2026, sebanyak 200 ZOM atau 11,83 persen luas daratan sudah memasuki musim kemarau.

Katanya, wilayah yang telah mengalami kemarau di antaranya sebagian Sumatra, sebagian Jawa, sebagian besar Nusa Tenggara, Kalimantan Tengah bagian timur, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku, dan sebagian Papua.

Kata Ardhasena, musim kemarau tahun ini memerlukan penyesuaian ekstra lantaran adanya potensi El Nino. Menurut prediksi BMKG, fenomena El Nino akan terus bertahan hingga awal 2027.

“Dengan peluang intensitas mencapai kategori moderat sebesar 98 persen dan kategori kuat sebesar 62 persen, namun demikian dampaknya untuk wilayah Indonesia ketika bertemu periode musim kemarau hingga pertengahan bulan Oktober,” tutur Ardhasena.

Lebih jauh, BMKG rekomendasikan kepada pelaku sektor pangan untuk menyesuaikan jadwal tanam dan memilih varietas tanaman yang tepat dengan kondisi. Sementara bagi sektor sumber daya air, dapat melakukan revitalisasi waduk, memperbaiki jaringan distribusi air, serta memastikan ketersediaan air untuk kebutuhan masyarakat.

BMKG juga mengimbau pelaku sektor energi untuk memastikan kapasitas air bendungan untuk operasional PLTA. Kemudian, pemerintah daerah diharapkan menyiapkan mekanisme respons cepat untuk antisipasi memburuknya kualitas udara yang berpotensi memicu ISPA.

“Dengan kondisi iklim yang kering, kesiapsiagaan terhadap potensi kekeringan dan kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) perlu ditingkatkan,” ujarnya.

“BMKG bersama pemerintah daerah dan pemangku kepentingan berkoordinasi untuk memperkuat pencegahan karhutla, salah satunya melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC),” sambung dia.

Baca juga artikel terkait PREDIKSI MUSIM KEMARAU atau tulisan lainnya dari Rahma Dwi Safitri

tirto.id - Flash News
Reporter: Rahma Dwi Safitri
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Fadrik Aziz Firdausi