tirto.id - Benua Eropa tengah dilanda fenomena gelombang panas hebat atau heatwave dengan suhu mematikan mencapai lebih dari 40 derajat celcius. Bahkan, Jerman mencatat suhu hingga 41,7 celcius dan Polandia mencapai 40,5 celcius.
World Health Organization (WHO) mencatat bahwa setidaknya 1.300 orang meninggal dunia akibat kondisi cuaca ekstrem ini. Fenomena ini menjadi alarm peringatan bagi seluruh dunia tentang ancaman krisis iklim yang semakin nyata.
Suhu panas ekstrem yang melanda Eropa dipicu oleh fenomena kubah panas atau heat dome. Seturut penjelasan laman Climate Check, heat dome adalah istilah populer untuk menggambarkan sistem atmosfer bertekanan tinggi yang menyebabkan udara hangat dari bagian atas atmosfer turun ke permukaan tanah dan terperangkap di sana untuk jangka waktu yang lama.
“Kubah tersebut memerangkap udara bertekanan tinggi di satu tempat, seperti tutup panci,” demikian Climate Check.
Proses terjadinya heat dome bermula dari terhenti atau melemahnya pergerakanjet stream—aliran udara di lapisan atas atmosfer yang disebabkan oleh rotasi bumi dan momentum saat udara bergerak menjauh dari Khatulistiwa.
Pergerakanjet stream yang melemah menciptakan area dengan tekanan udara tinggi. Kondisi ini membuat udara di lapisan atas atmosfer terkompresi dan turun ke permukaan tanah hingga kemudian suhunya menghangat.
Lapisan atas yang bertekanan tinggi menghalangi udara panas itu untuk naik dan mencegah pembentukan awan. Itulah “kubah panas” yang dimaksud. Terlebih, kondisi ini juga memungkinkan lebih banyak radiasi matahari mencapai permukaan tanah dan membuatnya memanas.
Climate Check menyebutkan kondisi bisa makin memburuk karena akumulasi panas dari udara dan daratan itu terperangkap di bawah sistem “kubah” tekanan tinggi.
“Kubah panas dapat bertahan berhari-hari hingga berminggu-minggu karena siklus umpan balik peningkatan suhu ini,” demikian penjelasan dari Climate Check.
Kondisi gelombang panas kian hari kian parah karena pengaruh krisis iklim global.
Belakangan ini, heatwave ini mengakibatkan sejumlah fasilitas umum di Eropa rusak karena proses pemuaian. Bahkan, rel trem atau jalur kereta api juga melengkung akibat suhu panas yang sangat ekstrem. Terlebih, bangunan di Eropa kebanyakan sudah berumur tua.
Apakah Gelombang Panas Ekstrem Bisa Melanda Asia Tenggara, termasuk Indonesia?
Dalam keterangan resminya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa gelombang panas ekstrem seperti yang terjadi di Eropa tidak akan melanda Indonesia lantaran perbedaan geografis.
Wilayah Indonesia berada di Zona Ekuatorial sehingga memiliki karakteristik dinamika atmosfer yang berbeda dengan wilayah lintang menengah-tinggi (lokasi heatwave lazim terjadi). Selain itu, wilayah Indonesia juga memiliki karakteristik perubahan cuaca yang cepat.
Dengan perbedaan karakteristik dinamika atmosfer tersebut, dapat dikatakan fenomena gelombang panas ekstrem tak akan terjadi di wilayah Indonesia. Meski demikian, BMKG tetap mengingatkan bahwa Indonesia mesti bersiap menghadapi fenomena cuaca lain yang tak kalah ekstrem: El Nino.
Dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah di Jakarta, Senin (29/6/2026), Kepala BMKG Teuku Faisal mengatakan bahwa fenomena El Nino telah memasuki kategori kuat dengan peluang mencapai 98 persen. Kondisi tersebut diperkirakan menyebabkan penurunan curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia, terutama di bagian selatan garis Khatulistiwa saat puncak musim kemarau.
El Nino adalah femomena alam berupa pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang menyebabkan perubahan pola cuaca global. Fenomena ini umumnya memicu musim kemarau yang jauh lebih panjang, kering, dan panas dari biasanya.
Namun, Faisal mengatakan bahwa El Nino berbeda dengan musim kemarau. Katanya, fenomena ini harus diwaspadai jika bertepatan dengan musim kemarau lantaran dapat terjadi selama 9-12 bulan. Pada periode tersebut, curah hujan menjadi lebih sedikit.
Hal ini juga dipertebal oleh penjelasan ahli kehutanan dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Herry Purnomo. Menurutnya, extreme heatwave seperti di Eropa tidak terjadi di Indonesia. Indonesia yang dikelilingi oleh lautan dan beriklim tropis dengan banyak uap air tidak akan mengalami heatwave.
Indonesia berbeda dari Eropa yang daratannya luas dan terkena udara panas yang berhembus dari Gurun Sahara dan melewati Mediterania sehingga dilanda gelombang panas ekstrem. Indonesia, menurutnya, seharusnya lebih mewaspadai efek El Nino yang terjadi karena kekurangan uap udara dari Lautan Pasifik.
“Apa yang terjadi di Eropa tidak akan terjadi di Indonesia dalam konteks gelombang panas. Kalau kita nanti kering sebenarnya," kata Herry kepada Tirto, Rabu (1/7/2026).
Herry mengingatkan El Nino bukan fenomena cuaca yang main-main. Jika suatu negara mengalami kerusakan hutan saat menghadapi El Nino, daya adaptasinya terhadap kekeringan akan berkurang. Pasalnya, hutan merupakan ekosistem yang berperan untuk menyimpan persediaan air.
Dia menyebut kebakaran hutan akan mudah terjadi jika gambut mengalami kekeringan pada periode El Nino. Oleh karena itu, kata Herry, pembasahan gambut harus dilakukan sebelum fenomena ini terjadi dan berdampak lebih parah terhadap lingkungan.
“Kalau gambutnya basah, maka kekeringan itu bisa dikurangi efeknya. Maka pembasahan gambut harus dilakukan sebelumnya," ujar Herry.

Dia berharap kebakaran hutan yang mungkin saja terjadi pada 2026 ini tidak separah tahun-tahun sebelumnya. Namun, dia juga khawatir kebijakan efisiensi anggaran bakal berdampak pada persiapan menghadapi El Nino ini. Dia juga berharap agar deforestasi bisa dikurangi.
Tindakan manusia terhadap alam dapat menyebabkan percepatan pemanasan global yang memicu perubahan iklim ekstrem. Herry mengajak masyarakat untuk turut membantu pengurangan emisi karbon. Dia juga menyarankan agar jual beli karbon dapat dilakukan dengan lebih mudah agar semakin banyak masyarakat yang terlibat.
“Kalau rata-rata punya 200 pohon, ditanam di mana pun di area Indonesia, dipelihara, itu akan signifikan. Bayangkan kalau ada 100 juta (orang), kita akan punya miliaran pohon yang hidup," tutur Herry.
Herry mengimbau pemerintah mengurangi deforestasi agar siap dalam menghadapi El Nino dan pemanasan global. Namun, dia menyayangkan adanya peningkatan deforestasi pada era Presiden Prabowo Subianto ini. Oleh karena itu, masyarakat harus terlibat untuk membantu melindungi bumi.
Sementara itu, Direktur Kehutanan Auriga Nusantara, Supintri Yohar, mengatakan bahwa gelombang panas yang melanda Eropa bisa terjadi di berbagai wilayah dunia lain, termasuk di Indonesia. Namun, kata Supin, di Indonesia yang lebih memungkinkan terjadi adalah fenomena curah hujan tinggi dan kemarau panjang.
Dia menyebut kerusakan lingkungan dapat meningkatkan potensi bencana di tengah cuaca ekstrem. Supin mencontohkan terjadinya banjir bandang di Sumatra yang menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan dapat memperbesar risiko bencana.

Kata Supin, selain memperbesar risiko bencana, perusakan bentang alam seperti kerusakan hutan akibat deforestasi dapat menurunkan kemampuan lingkungan dalam menghadapi risiko perubahan iklim yang makin tinggi.
"Indonesia yang mengalami deforestasi dalam skala luas setiap tahun, terjadi kerusakan hutan alam di kawasan perbukitan, hulu sungai, lahan gambut, dan mangrove menghadapi risiko yang semakin tinggi terhadap dampak perubahan iklim," kata Supin.
Dia juga menyebut, berdasarkan catatan Auriga, deforestasi di Indonesia terus meningkat, yakni mencapai 1,4 juta hektare pada 2021-2025. Katanya, deforestasi dapat memicu perubahan iklim dan Indonesia memiliki kerentanan pada dampak perubahan iklim.
Rekomendasi BMKG
El Nino dapat menyebabkan kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, penurunan kualitas udara yang mempengaruhi kesehatan masyarakat, hingga potensi tekanan terhaadap inflasi daerah. Oleh karena itu, MBKG meminta pemerintah untuk melakukan sejumlah mitigasi terutama pada wilayah yang akan terdampak secara signifikan seperti Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sumatera bagian selatan, Sulawesi, hingga Papua bagian selatan.
Pertama, pada sektor pengelolaan lahan, peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di wilayah rawan perlu diperhatikan. Sementara itu, di wilayah perkotaan, harus dilakukan pengendalian emisi kendaraan, penguatan transportasi publik, pengembangan kawasan rendah emisi, serta pembatasan aktivitas luar ruangan.

Sementara itu, pada sektor kesehatan, pemerintah daerah diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi peningkatan kasus ISPA maupun penyakit terkait suhu panas ekstrem seperti heatstroke yang dalam beberapa tahun terakhir semakin sering terjadi di berbagai negara.
BMKG juga menekankan pentingnya perencanaan ekonomi dan ketahanan pangan dalam integrasi informasi iklim. Pasalnya, kemarau panjang dapat memengaruhi produktivitas pertanian yang pada akhirnya dapat berdampak terhadap stabilitas harga.
Pada sektor energi, BMKG mendorong optimalisasi pengelolaan waduk dan sumber daya air dengan memanfaatkan informasi prediksi iklim guna menjaga keseimbangan kebutuhan listrik, irigasi pertanian, dan kebutuhan masyarakat. BMKG juga mengingatkan pentingnya pengelolaan sumber daya air yang lebih adaptif, termasuk penguatan cadangan air melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) serta percepatan diversifikasi sumber energi.
Penulis: Auliya Umayna Andani
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id






























