Menuju konten utama
TirtoEco

Cuaca Bogor, Hujan Orografis dan Bayang-Bayang El Nino Godzilla

Saat musim kemarau 2026 di Jawa Barat diperkirakan datang lebih cepat dan lebih panjang, Bogor jadi pengecualian.  

Cuaca Bogor, Hujan Orografis dan Bayang-Bayang El Nino Godzilla
Potret Gunung Salak. Foto/ Ali Zaenal

tirto.id - Saya menetap di selatan Bogor dan sudah terbiasa dengan ritme alamnya yang kadang penuh kejutan. Kawasan ini diapit Gunung Gede dan Pangrango yang menjulang di ufuk tenggara, juga Gunung Salak yang memagari sisi selatan.

Sudah lebih dari dua minggu terakhir, dinamika cuaca seperti punya kepribadian ganda dalam siklus harian yang ekstrem. Saat pagi menyingsing hingga menjelang siang hari, sengatan matahari mulai membakar kulit. Menjelang pukul sepuluh pagi, termometer biasanya sudah menunjuk angka 28 derajat Celcius.

Itu dibarengi kelembapan udara kental yang membuat atmosfer menguras keringat, juga menciptakan fatamorgana tipis di aspal jalanan, seakan wilayah ini bersiap menyambut musim kemarau.

Namun, semuanya berubah drastis saat matahari mulai tergelincir dari titik puncaknya. Selepas zuhur, langit yang semula benderang tanpa awan mendadak berubah menjadi gulita. Sapuan awan kumulonimbus abu-abu pekat menggulung turun dari arah lereng pergunungan.

Tanpa peringatan yang panjang, hujan deras pun tumpah seketika, menghantam atap-atap rumah dengan beringas. Dingin datang, bertolak belakang dengan kondisi pagi yang terik. Bahkan, beberapa hari yang lalu, badai petir mengamuk tanpa ampun selepas zuhur dan sempat reda setelah asar. Hujan deras berlanjut usai Magrib hingga pukul sembilan malam. Kilat menyambar-nyambar disusul dentuman guntur yang menggetarkan kaca jendela, yang pada akhirnya memicu pemadaman listrik massal.

Informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau 2026 di Jawa Barat diperkirakan datang lebih cepat, lebih panjang, dan lebih kering dibanding tiga dekade terakhir.

"Lebih kering dibanding rata-rata selama 30 tahun, bukan paling kering sepanjang 30 tahun. Memang tahun ini lebih kering. Tapi kalau dibanding tahun ke tahun, jelas tahun 1997 dan 2015 lebih kering," terang Direktur Perubahan Iklim BMKG, Fachri Radjab.

Sekitar 56 persen zona musim akan masuk fase kemarau sejak Mei hingga Juni, dengan puncak kekeringan ekstrem pada Agustus. Pergeseran angin monsun dan berakhirnya La Nina lemah pada Februari memaksa 93 persen wilayah Jawa Barat, termasuk lumbung pangan Sumedang, Kuningan, dan Tasikmalaya, menghadapi defisit hujan di bawah normal.

Namun Bogor menjadi pengecualian. Catatan Stasiun Klimatologi Dramaga menunjukkan wilayah ini beriklim satu musim, di mana batas antara kemarau dan hujan nyaris tak terlihat.

Kemarau menurut BMKG jika curah hujan kurang dari 50 milimeter dalam satu dasarian berturut-turut. Di Bogor, hujan turun sepanjang tahun, hanya sesekali berkurang intensitasnya, menjadikannya kawasan iklim yang tak tunduk pada kerontang di sekitarnya.

Kawasan Paling Basah di Dunia

Dalam sebuah agenda kenegaraan, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa Indonesia memiliki limpahan air yang luar biasa, bahkan di tengah krisis iklim global.

"Kita ketawa kelebihan air, ini karunia, satu hari air (hujan) turun di Bogor sama dengan satu tahun air (hujan) turun di Australia Barat," ujarnya dalam sebuah kesempatan di Istana Negara.

Pernyataan presiden ternyata memiliki data meteorologi yang akurat. Australia Barat dikenal sebagai wilayah kering yang dikendalikan sabuk tekanan tinggi subtropis. Sistem ini menekan kelembapan dan mencegah pembentukan awan hujan. Hasilnya adalah gurun dan lanskap semi-arid dengan curah hujan minim.

Laporan Biro Meteorologi Australia mencatat rata-rata hujan tahunan sekitar 348 milimeter, sementara beberapa titik ekstrem seperti Carnarvon hanya mencatat 54 milimeter setahun, dan Kalbarri 108 milimeter. Kota pedalaman seperti Marble Bar bahkan pernah mengalami suhu di atas 37,8 derajat Celcius selama 162 hari berturut-turut tanpa hujan berarti.

Bogor berada di kutub sebaliknya. Julukan "Kota Hujan" dibuktikan dengan rata-rata curah hujan tahunan melampaui 3.095 milimeter, menjadikannya salah satu kawasan paling basah di dunia.

Hujan di depan Stasiun Bogor

Hujan di depan Stasiun Bogor. Foto/ Ali Zaenal

Fakta bahwa hujan harian di Bogor mampu melampaui total hujan setahun di wilayah terkering Australia Barat benar adanya. Fenomena ini lahir dari mekanisme atmosfer lokal yang digerakkan oleh topografi pergunungan, dikenal dalam literatur sains sebagai hujan orografis.

Topografi Bogor dengan bentuk cekungan menyerupai mangkuk raksasa yang terbuka ke utara, sementara sisi selatan dan tenggara dijaga oleh dinding vulkanik Gunung Salak serta Gede-Pangrango.

Lereng pergunungan tersebut menjadi perangkap kelembapan. Angin monsun dari Samudra Hindia dan Laut Jawa membawa uap air masif, lalu terpaksa naik ketika menabrak dinding Bogor. Udara lembap yang dipaksa mendaki mengalami pendinginan adiabatik (penurunan suhu karena pemuaian), kehilangan kemampuan menahan uap, dan segera berubah menjadi awan kumulonimbus tebal.

Penelitian jurnal hidrologi pada 2022 menunjukkan bahwa wilayah lereng Pangrango dan sekitarnya memang mengalami penguatan curah hujan akibat efek orografis lokal yang dipicu interaksi angin dan topografi.

Penguatan curah hujan di Bogor tidak hanya ditentukan oleh efek orografis, tetapi juga oleh siklus termal harian yang khas wilayah tropis pergunungan. Radiasi matahari memanaskan lereng dan lembah sejak pagi, memicu arus anabatik—aliran udara hangat yang naik mengikuti kontur gunung.

Proses itu meningkatkan konvergensi uap air di lapisan bawah dan mempercepat pertumbuhan awan konvektif. Studi observasi di wilayah maritim Indonesia (2020) menunjukkan bahwa sirkulasi darat-laut dan gunung–lembah secara konsisten memperkuat konveksi pada siang hingga sore hari.

Di dalam menara awan, mekanisme mikrofisika seeder-feeder mengambil alih. Kristal es dari awan atas jatuh, bertabrakan dan menyatu (koalesensi) dengan partikel air di awan bawahnya. Hasilnya adalah butiran hujan masif yang turun dengan intensitas ekstrem.

Simulasi atmosfer dengan model Weather Research and Forecasting (WRF) dan berbagai studi observasi di Indonesia memperlihatkan pola yang konsisten ketika topografi, sirkulasi termal harian, dan proses mikrofisika bertemu, hujan yang dihasilkan bukan hanya sering, tetapi juga ekstrem. Proses akumulasi awan ini biasanya mencapai puncak setelah tengah hari, menjelang senja, lengkap dengan kilatan petir yang mengoyak langit.

Hujan harian ekstrem yang sering kali tak terprediksi itu kerap kali memicu bencana. Lereng pergunungan yang dibombardir curah hujan ribuan milimeter bertemu dengan ekspansi beton yang menggerus kawasan resapan.

Tanah vulkanik jenuh air kehilangan kohesi, longsor pun terjadi. Pemetaan risiko geospasial yang digabungkan dengan analisis sejarah bencana dari basis data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menunjukkan zona rawan di Megamendung, Cisarua, Cijeruk, hingga Leuwiliang, di mana material lumpur dan batu kerap menelan korban serta memutus akses desa.

Air yang tak terserap berubah menjadi limpasan permukaan agresif. Limpasan permukaan ini meluncur deras ke cekungan rendah, memenuhi saluran sempit, lalu menjadi banjir bandang.

Ketika banjir besar melanda Bekasi pada 2020, merujuk penelitian Institut Pertanian Bogor (IPB) yang bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Universitas Nagoya Jepang (2025), hujan harian di Bogor mencapai 188 milimeter dan melonjak hingga 236 milimeter pada 2025.

Penelitian yang menggunakan modelan Rainfall-Runoff-Inundation (RRI) itu juga mencatat jeda waktu hanya tujuh jam antara puncak hujan di hulu dengan gelombang banjir di permukiman padat hilir, termasuk Sungai Ciliwung dan Bekasi. Infrastruktur transportasi, dari jalan arteri hingga jembatan di Jonggol, Cileungsi, dan Citeureup, sering kali hancur oleh abrasi aliran, memutus jalur evakuasi dan logistik warga.

Namun di balik kerasnya iklim, lahir ketangguhan budaya. Komunitas adat Urug di pergunungan Bogor menjaga sistem peringatan dini bencana melalui pendekatan antropologis budaya. Menukil studi Universitas Djuanda berjudul "Penerapan Nilai-nilai Masyarakat Adat Urug" (2023), mereka membaca tanda alam, seperti migrasi fauna, fase flora, hingga penentuan waktu tanam yang tidak pernah lepas dari otoritas adat. Kearifan ini menjaga ritme tanam padi tetap selaras dengan curah hujan ekstrem.

 Gunung Gede Pangrango

Potret Gunung Gede Pangrango. Foto/ Ali Zaenal

Bayang-Bayang El Nino Godzilla

Menjelang kemarau 2026, publik dihadapkan pada narasi El Nino Godzilla, istilah populer sejak 2015 untuk menggambarkan pemanasan ekstrem di Samudra Pasifik. Ketakutan ini diperkuat oleh prediksi bahwa fenomena tersebut bisa beriringan dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif, yang secara teoritis menyedot awan hujan dari Nusantara dan meninggalkan daratan dalam cekikan kering.

BMKG kemudian turun tangan meredam kepanikan. Pemantauan satelit menunjukkan indeks El Nino-Southern Oscillation (ENSO) masih netral. Proyeksi yang lebih realistis adalah transisi menuju El Nino lemah hingga moderat, dengan peluang 55–80 persen, mulai terasa antara Juni hingga Agustus.

Meski tidak mencapai skala Godzilla, kombinasi kemarau panjang dan suhu laut Indonesia yang lebih dingin tetap berisiko menurunkan curah hujan, memicu krisis air bersih, dan memperbesar ancaman kebakaran gambut di Sumatra dan Kalimantan, di mana titik panas sudah muncul sejak awal tahun.

Pertanyaan masyarakat Bogor tentang mengapa hujan deras tetap turun meski sudah ada alarm kemarau El Nino, sesungguhnya berakar pada sifat pancaroba yang rumit dan status Bogor sebagai zona iklim satu musim.

Ironi antara ancaman kemarau panjang nasional dan badai hujan lokal menuntut tata ruang baru. Menurut Ahli Meteorologi IPB, Sonni Setiawan, banjir di Bogor justru diperparah oleh saluran air warisan kolonial Belanda yang dipaksa menampung limpasan perkotaan. Infrastruktur yang semula dirancang untuk irigasi kecil kini kelebihan beban.

Sonni menambahkan, kini frekuensi hujan di Bogor mengalami penurunan dalam beberapa dekade terakhir. "Namun intensitas hujan deras meningkat. Hal ini dikaitkan dengan perubahan iklim global dan alih fungsi lahan di Bogor," sambungnya.

Kajian hidrologi perkotaan kontemporer hasil kolaborasi lintas universitas pada 2018 menunjukkan kerusakan sistemik banjir di wilayah Bogor dan sekitarnya justru karena eksploitasi berlebihan jaringan infrastruktur saluran air warisan era kolonial Belanda.

Saluran-saluran kuno itu beralih fungsi menjadi drainase untuk menampung buangan air dari kawasan perkotaan yang dijejali oleh permukaan beton kedap air. Penelitian menawarkan solusi masa depan yang dimulai dengan taman hujan di sudut kota, revegetasi lereng curam dengan tanaman berakar kuat, serta sumur biopori di rumah-rumah warga. Upaya ini dapat meredam energi limpasan, memulihkan ekologi sungai, dan menurunkan suhu kota.

Solusi lain ada di ranah teknologi, di mana mitigasi kini ditopang kecerdasan buatan. Misalnya kajian yang dilakukan IPB dan BRIN pada Juni 2025 dengan peramalan prediksi cuaca modern untuk memprediksi curah hujan harian di Bogor.

Algoritma hibrida Support Vector Classification (SVC), Recurrent Neural Network (RNN), dan Long Short-Term Memory (LSTM) mengolah data satelit GSMaP menjadi peta lokal beradius 5 km persegi. Hasilnya adalah prediksi presisi yang langsung diterjemahkan ke sistem peringatan dini banjir perkotaan, juga memberi waktu evakuasi krusial bagi ribuan warga.

Bogor sebagai Kota Hujan punya peluang dalam manajemen air masa depan. Itu bisa dimulai dengan pemanfaatan teknologi, rekayasa ekologi perkotaan, dan kearifan lokal yang melihat setiap tetes hujan sebagai sumber kehidupan.

Baca juga artikel terkait BOGOR atau tulisan lainnya dari Ali Zaenal

tirto.id - TirtoEco
Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi