Menuju konten utama

BMKG: Kemarau 2026 Lebih Kering Dibanding 30 Tahun Terakhir

BMKG memprediksi kemarau 2026 akan menjadi kemarau terkering dalam 30 tahun terakhir. Kemarau juga akan lebih panjang dari biasanya.

BMKG: Kemarau 2026 Lebih Kering Dibanding 30 Tahun Terakhir
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menunjukkan peta wilayah prediksi sifat musim kemarau terhadap normalnya saat konferensi pers prakiraan awal musim kemarau 2026 di Gedung D BMKG, Jakarta, Rabu (4/3/2026). Berdasarkan pemantauan dan analisis BMKG sebanyak 325 zona musim (ZOM) atau 46,5 persen dari keseluruhan ZOM di Indonesia akan memasuki musim kemarau lebih awal dibanding normalnya yang diprediksi pada bulan April serta tahun ini diprediksi lebih kering. ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/bar

tirto.id - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau 2026 datang lebih awal dengan durasi lebih panjang. Lalu kondisi itu relatif lebih kering dibandingkan rata-rata klimatologis 30 tahun terakhir.

Direktur Perubahan Iklim BMKG, Fachri Radjab, mengatakan, hasil analisis terbaru menunjukkan pergeseran karakter musim kemarau tahun ini.

Hal tersebut disampaikan Diskusi Hari Meteorologi Dunia ke-76, diselenggarakan Stasiun Klimatologi Jawa Barat yang digelar secara daring, Selasa (14/4/2026).

“Analisis terakhir yang dilakukan BMKG, musim kemarau tahun 2026 akan datang lebih awal. Durasi lebih panjang. Bila dibandingkan dengan rata-rata selama 30 tahun, musim kemarau tahun ini relatif lebih kering," ungkap Fachri.

Kendati begitu, ia menegaskan kondisi itu bukan berarti menjadi yang paling kering dalam tiga dekade terakhir. Kondisi kering tahun ini, menurutnya, bukan dalam artian paling parah, melainkan rata-rata selama masa periode tersebut.

“Lebih kering dibanding rata-rata selama 30 tahun, bukan paling kering sepanjang 30 tahun. Memang tahun ini lebih kering. Tapi kalau dibanding tahun ke tahun, jelas tahun 1997 dan 2015 lebih kering," tegasnya.

BMKG juga mencatat musim kemarau tahun ini beriringan dengan fenomena El Nino. Ia memprakirakan El Nino mulai aktif pada akhir April hingga awal Mei 2026. Intensitas awal lemah dan meningkat menjadi moderat pada triwulan ketiga.

“Saat ini masih intensitas lemah, nanti moderat sekitar triwulan tiga 2026, Agustus, September, Oktober," ucapnya.

Masih berdasarkan catatan BMKG, durasi kemarau diperkirakan mencapai 13-15 dasarian atau lebih panjang dari kondisi normal. Kondisi ini meningkatkan risiko kekeringan meteorologis, berkurangnya ketersediaan air bersih, gangguan irigasi, hingga kebakaran hutan dan lahan.

Respons BMKG Jabar Soal Peringatan Dini Kemarau

Sementara itu, Kepala Stasiun Geofisika Bandung sekaligus Koordinator BMKG Jawa Barat, Teguh Rahayu, menekankan pentingnya respons kolektif terhadap informasi peringatan dini.

“Khusus wilayah Jabar yang memilki potensi resiko bencana yang kompleks, baik sisi meteorologi atau geofisika, peringatan dini tidak cukup hanya disampaikan saja," kata Teguh.

Peringatan dini ini juga harus dipahami serta dipercaya segala pihak. Lalu hal tersebut diproses setiap unsur masyarakat atau melalui komunikasi pentahelix yang melibatkan unsur pemerintah dan swasta.

Adapun saat ini Jawa Barat berada pada masa peralihan dari musim hujan ke kemarau. Kondisi tersebut masih memicu hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di sejumlah wilayah.

“Secara umum wilayah Jabar saat ini memasuki masa peralihan dari musim hujan ke musim kemarau. Sehingga masih terjadi hujan intensitas sedang hingga lebat," sebutnya.

BMKG memprediksi peralihan ke musim kemarau akan berlangsung bertahap hingga Juni 2026, dengan mayoritas wilayah mulai memasuki kemarau pada Mei. Secara umum, sifat hujan diprakirakan berada di bawah normal dengan puncak kemarau terjadi pada Agustus 2026.

Utamanya, lanjut Teguh, wilayah Jawa Barat bagian tengah dan selatan. Dimana kondisi tersebut diperkirakan masih berpotensi terjadi dalam beberapa hari ke depan.

Berdasarkan pemantauan pihaknya, per 1 April 2026, baru satu zona musim di Jawa Barat yang memasuki kemarau, yakni wilayah sekitar Bekasi. Sementara 39 zona lainnya masih berada dalam periode musim hujan.

Ia juga mengingatkan potensi cuaca ekstrem yang masih menyertai masa transisi. Menurutnya, dampak yang ditimbulkan periode ini beragam. Ada wilayah yang disertai angin kencang hingga disertai hujan lebat dengan petir.

"Itu masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah. Oleh karena itu, kami tidak henti-hentinya mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, terhadap potensi cuaca ekstrem dan meningkatkan kesiapsiagaan dalam segala hal yang akan terjadi," imbaunya.

Baca juga artikel terkait KEMARAU atau tulisan lainnya dari Muhammad Nizar

tirto.id - Flash News
Kontributor: Muhammad Nizar
Penulis: Muhammad Nizar
Editor: Dipna Videlia Putsanra