Menuju konten utama

Sumsel Waspadai Karhutla di 12 Daerah akibat Kemarau Panjang

BMKG prediksi kemarau 2026 di Sumsel datang lebih awal dan lebih kering, 3 kabupaten sudah tetapkan status siaga.

Sumsel Waspadai Karhutla di 12 Daerah akibat Kemarau Panjang
Petugas dari Manggala Agni Daops Banyuasin melakukan pemadaman kebakaran lahan di Desa Soak Batok, Indralaya Utara, Ogan Ilir (OI), Sumatera Selatan, Minggu (10/8/2025). ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/YU
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan menetapkan status waspada kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di 12 kabupaten/kota menyusul prediksi BMKG bahwa musim kemarau tahun 2026 akan datang lebih awal dan bersifat lebih kering. Kondisi ini memicu langkah antisipasi cepat di sejumlah daerah, bahkan tiga kabupaten di antaranya telah resmi mengajukan status siaga darurat untuk menekan risiko kabut asap.

Berdasarkan prakiraaan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), musim kemarau di Sumsel dimulai Mei dan Juni 2026. Dari analisis Zona Musim (ZOM) periode 1991-2020, kemarau di provinsi itu akan lebih panjang dan lebih kering dari tahun-tahun sebelumnya.

"Sebagian besar wilayah Sumsel akan mengalami awal musim kemarau pada Mei hingga Juni nanti. Artinya kemarau tahun ini lebih maju dari tahun sebelumnya," ungkap Kepala BMKG Sumsel, Wandayantolis, Senin (13/4/2024).

Parahnya, kemarau datang lebih awal terjadi di daerah-daerah bagian selatan yang menjadi langganan karhutla parah, yakni Ogan Komering Ilir (OKI) dan Ogan Ilir. Sementara kemarau di wilayah Sumsel bagian barat, seperti Palembang, Banyuasin, dan Musi Banyuasin, akan datang pada awal hingga pertengahan Juni 2026.

Kabupaten Banyuasin dan Musi Banyuasin juga masuk dalam daerah rawan karhutla karena memiliki lahan gambut yang cukup luas. Belum lagi daerah-daerah itu terbentang areal perkebunan, baik milik perorangan maupun korporasi.

Wandayantolis menyebut kemarau di Sumsel diprediksi bersifat di bawah normal. Artinya, curah hujan lebih rendah dari rata-rata.

Sementara puncak musim kemarau diprakirakan terjadi pada Juli hingga Agustus 2026. BMKG mengimbau masyarakat dan pemerintah mewaspadai dan antisipasi sejak dini agar dampak kemarau dapat diminimalkan.

"Kondisi ini perlu menjadi perhatian bersama agar dampaknya bisa ditekan seminimal mungkin," kata Wandatantolis.

Sementara itu, Kepala Bidang Penanganan Darurat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel Sudirman menjelaskan, 12 daerah di provinsi itu yang masuk dalam kategori rentan karhutla. Dengan rincian, Kabupaten OKI, Ogan Ilir, Banyuasin, Musi Banyuasin, Muara Enim, Penukal Abab Lematang Ilir, Lahat, Musi Rawas, Musi Rawas Utara, Ogan Komering Ulu, Ogan Komering Ulu Timur, dan Ogan Komering Ulu Selatan.

"Sudah kita petakan ada 12 daerah rawan karhutla," ungkap Sudirman.

Dari 12 daerah itu, tiga di antaranya telah mengajukan penetapan status siaga karhutla, yakni OKI, Ogan Ilir, dan Muara Enim. Status ini sebagai upaya antisipasi sejak dini menghadapi potensi karhutla.

"Tiga daerah itu memiliki lahan gambut yang luas dan sangat berisiko terjadi kebakaran," kata Sudirman.

Menghadapi musim kemarau, BPBD Sumsel mengimbau masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar sehingga rentan merambat ke sekitar dan menimbulkan kabut asap yang berbahaya bagi kesehatan. Pihaknya juga diperkuat patroli di titik rawan, hingga memetakan sumber air untuk pemadaman, dan koordinasi lintas sektor.

"Semua tim akan bergerak mengatasi karhutla baik melalui darat maupun udara. Semaksimal mungkin kita cegah agar karhutla tahun ini tidak parah seperti tahun-tahun lalu," pungkas Sudirman.

Baca juga artikel terkait TITIK KARHUTLA atau tulisan lainnya dari Irwanto

tirto.id - Flash News
Kontributor: Irwanto
Penulis: Irwanto
Editor: Siti Fatimah