Menuju konten utama

Godzilla El Nino: Bencana Ekologis dan Ekonomi Nelayan Indonesia

Furqon mengingatkan fenomena 'Godzilla' El Nino akan menyulitkan bagi nelayan tradisional karena stok ikan menurun dan membuat nelayan melaut lebih jauh.

Godzilla El Nino: Bencana Ekologis dan Ekonomi Nelayan Indonesia
Ilustrasi Godzilla El Nino. (Instagram/@brin_indonesia)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengumumkan bahwa Indonesia akan mengalami peristiwa alam yaitu 'Godzilla' El Nino lewat laman Instagram mereka. Istilah Godzilla sendiri pertama kali digunakan oleh peneliti NASA, Quirin Schiermeier, pada 2015 sebagai bentuk gambaran atas kedatangan El Nino ekstrem yaitu pola iklim global yang menyebabkan perubahan besar pada suhu laut dan atmosfer di Samudera Pasifik.

Periset Pusat Iklim dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin, memprediksi 'Godzilla' El Nino akan tiba di Indonesia pada April 2026. Dampak dari 'Godzilla' El Nino adalah pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik ekuator. Akibatnya, musim kemarau di Indonesia menjadi lebih panjang dan kering dibandingkan sebelumnya.

Kepala Pusat Riset Oseanologi BRIN, Furqon Aziz Ismail, menyampaikan, 'Godzilla' El Nino memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan para nelayan di Indonesia. Hal itu terjadi karena fenomena alam tersebut berpengaruh langsung pada suhu permukaan laut yang meningkat dan membuat habitat ikan di perairan Indonesia menjadi sensitif.

Akibatnya, terjadi migrasi besar-besaran biota laut yang ada sebelumnya berada di kepulauan Indonesia. Hal itu membuat, para petani harus lebih bersusah payah dalam mengejar tangkapan ikan.

"Saat terjadi El Nino, perairan laut di Indonesia cenderung lebih hangat, stok ikan pelagis bisa menurun dan nelayan perlu melaut lebih jauh untuk mendapatkan ikan," kata Furqon saat dihubungi Tirto, Kamis (26/3/2026).

Furqon menuturkan bahwa dampak fenomena alam yang juga dikenal sebagai El Nino–Southern Oscillation (ENSO) ini membuat cuaca di lautan menjadi kian ekstrem. Hal itu berpengaruh pada nelayan tradisional yang harus melaut lebih jauh dengan fasilitas kemampuan perahu yang jauh dari mumpuni untuk menerjang badai dan kondisi cuaca ekstrem.

"Namun, potensi terjadinya cuaca ekstrem di laut dapat mengganggu aktivitas nelayan," ujarnya.

Furqon menyampaikan bahwa fenomena 'Godzilla' El Nino sudah terjadi beberapa kali di Indonesia. Dia mencatat setidaknya Indonesia pernah mengalami peristiwa serupa pada 1982-1983, 1997-1998, dan 2015-2016. Furqon pun berharap pemerintah dapat banyak belajar dari sejarah iklim tersebut.

Furqon menambahkan, El Nino ekstrem tersebut memiliki pengaruh langsung terhadap rusaknya terumbu karang yang menjadi tempat tinggal dan berkembang biak flora dan fauna di dalam laut. Hal itu berimbas pada biodiversivitas laut dan populasi ikan yang menjadi sumber pencaharian nelayan.

"Dalam aspek sosial-ekonomi nelayan, nelayan kecil kehilangan pendapatan karena hasil tangkapan berkurang, menambah tekanan ekonomi pada masyarakat pesisir," jelasnya.

Furqon mengingatkan bahwa selama El Nino ekstrem berlangsung di masa lalu, masyarakat Indonesia sempat mengalami kekeringan panjang, kekurangan air bersih, krisis pangan, hingga berujung pada masalah sosial politik di penghujung kekuasaan Orde Baru.

"Dampak sosial-politik: krisis pangan dan ekonomi memperparah ketidakstabilan politik, berkontribusi pada krisis 1998," jelasnya.

Ilustrasi Godzilla El Nino

Ilustrasi kemarau. FOTO/iStockphoto

Masyarakat Pesisir Belum Terima Info Soal Godzilla El Nino Dari Pemerintah

Menggantungkan hidup kepada ikan dan lautan, dan tinggal di antara gugus Kepulauan Seribu atau tepatnya di Pulau Pari, Asmania hingga kini belum menerima kabar ataupun sosialisasi terkait fenomena alam 'Godzilla' El Nino.

"Enggak ada, boro-boro kita dikasih tahu untuk perubahan iklim ini, untuk memitigasi bencana kayak gitu saja kita enggak ada imbauan-imbauan ataupun ngasih tahu ke kita," kata Asmania saat dihubungi Tirto, Kamis (26/3/2026).

Sebagai nelayan perempuan yang ikut bekerja melaut bersama suaminya, Asmania bercerita bahwa dia dan masyarakat di Pulau Pari telah terbiasa bekerja secara swadaya dalam menjaga ekosistem laut di sekitar mereka. Oleh karena itu, mereka tidak heran atau terkejut saat pemerintah baik provinsi maupun pusat belum memberikan sosialisasi ataupun arahan untuk menghadapi 'Godzilla' El Nino tersebut.

"Selama ini enggak ada deh imbauan dari pemerintah, (bagaimana) kita menghadapi krisis iklim ini, enggak ada," jelasnya.

Selain mengeluhkan ketiadaan uluran bantuan atau bahkan informasi dari pemerintah terkait El Nino ekstrem tersebut, Asmania juga khawatir dirinya bersama suami dan kelompok nelayan lainnya akan semakin sulit dalam mencari ikan. Hal itu terjadi karena dirinya dan kelompok nelayan di Pulau Pari hanya mengandalkan perahu dengan kapasitas 10 gross tonnage (GT) dengan ukuran panjang 10-15 meter dan lebar 2-4 meter. Perahu dengan jenis tersebut memiliki kemampuan terbatas sehingga tidak bisa menerjang ombak besar maupun laut yang lebih untuk menangkap ikan.

"Kalau di Kepulauan Seribu itu berapa sih paling besar, paling di bawah 10 GT semua kapal kayak gitu," keluhnya.

Ilustrasi Godzilla El Nino

Ilustrasi kemarau. FOTO/iStockphoto

Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara), Susan Herawati, menyampaikan bahwa nyawa para nelayan tradisional menjadi taruhan apabila tidak ada upaya mitigasi dalam menghadapi 'Godzilla' El Nino. Dia mencontohkan, terdapat 11 orang nelayan di Serdang Bedagai, Sumatra Utara yang meninggal dan hilang akibat cuaca ekstrem pada tahun 2023 lalu.

"Nah, ini yang kemudian penting untuk kami terus mengingatkan ya pemerintah untuk punya skema yang senggaknya tuh peta jalan lah gitu negara ini mau ngapain menyikapi dampak krisis iklim yang dihadapi oleh nelayan dan perempuan nelayan," kata Susan kepada Tirto.

Sebagai lembaga swadaya masyarakat, Susan mengatakan, Kiara telah berupaya membangun proteksi ekonomi di sejumlah daerah agar nelayan yang tak dapat melaut akibat cuaca ekstrem tetap memiliki pemasukan. Dia mencontohkan bahwa koperasi tersebut berupaya agar para nelayan dapat bekerja di sektor lain seperti dengan budidaya udang yang notabene di pesisir laut ataupun melakukan kerjasama dengan pihak swasta agar mereka dapat dikaryakan.

"Mereka itu butuh tetap pergi melaut. Kalau mengkonversi misalkan mendorong mereka berbudidaya udang ataupun ya berbudidaya lain itu agak berat juga gitu karena kan hari ini kan yang punya proyeksian budidaya kan juga pemerintah sama private sector gitu. Secara insting, sulit mereka yang biasa berburu kemudian harus menunggu berbudidaya itu tidak mudah buat nelayan," jelasnya.

Susan juga meminta untuk pemerintah aktif dalam mensosialisasikan fenomena 'Godzilla' El Nino tersebut kepada para nelayan dari Sabang sampai Merauke. Menurut Susan, nelayan yang tak mendapat informasi terkait El Nino tidak hanya Asmania dari Pulau Pari, tetapi juga nelayan lain. Oleh karena itu, Susan berharap pemerintah turun langsung dan tidak mengandalkan media sosial atau media elektronik dalam menyampaikan informasi.

"Bayangkan kalau ada nelayan-nelayan yang enggak punya gadget seperti Android gitu ya, itu ya bismillah aja sih gitu. Itu itu jadi common banget. Kecuali mereka kumpul di tempat pelelangan ikan ketemu sama nelayan-nelayan lain gitu itu baru mereka bisa tahu update gitu," terangnya.

Jawaban Pemerintah

Terkait langkah pemerintah menghadapi 'Godzilla' El Nino, Tirto telah berupaya meminta konfirmasi kepada jajaran pemerintah. Akan tetapi, Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) belum menanggapi terkait hal tersebut.

Terpisah, Kepala Stasiun Meteorologi Maritim BMKG Tanjung Priok, Retno Widyaningsih, mengimbau kepada para nelayan untuk menyimpan persediaan air dalam menghadapi El Nino ekstrem. Suhu bumi yang kian memanas membuat stok air kian terbatas, meski demikian sejumlah pihak diuntungkan dari fenomena alam yaitu mereka yang memiliki tambak garam dan udang yang diprediksi akan mengalami kenaikan produksi.

"Banyak menyimpan air, selagi masih ada hujan, bisa membuat tampungan air. Diprediksi akan terjadi krisis air, jadi harus siap-siap simpan air," kata Retno.

Ilustrasi Godzilla El Nino

Ilustrasi kemarau. FOTO/iStockphoto

Baca juga artikel terkait EL NINO atau tulisan lainnya dari Irfan Amin

tirto.id - News Plus
Reporter: Irfan Amin
Penulis: Irfan Amin
Editor: Andrian Pratama Taher