Menuju konten utama

Rupiah dan IHSG Menguat pada Pembukaan Perdagangan 31 Juli

Rupiah menguat ke Rp18.074 per dolar AS dan IHSG naik 0,54 persen pada pembukaan perdagangan 31 Juli 2026 di tengah sentimen pasar global.

Rupiah dan IHSG Menguat pada Pembukaan Perdagangan 31 Juli
Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Senin (13/7/2026). Nilai tukar rupiah berada di level Rp18.109 per dolar AS pada perdagangan Senin (13/7) sore, rupiah melemah 44 poin atau 0,24 persen dibandingkan dari penutupan sebelumnya di level Rp 18.065 per dolar AS imbas ketegangan geopolitik AS-Iran yang meningkat di Timur Tengah. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/foc.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Rupiah pada pembukaan hari ini, Jumat, 31 Juli 2026 menguat 37 poin atau 0,20 persen ke posisi Rp18.074 per dolar AS setelah sempat mengalami tekanan pada hari sebelumnya. Penguatan ini juga dialami oleh bursa saham Indonesia.

Sebelumnya, pada penutupan perdagangan Kamis, rupiah melemah 38 poin atau 0,12 persen menjadi Rp18.111 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan sehari sebelumnya di level Rp18.073 per dolar AS. Pelemahan tersebut dipengaruhi kombinasi faktor global, terutama menguatnya indeks dolar AS dan masih tingginya harga minyak dunia.

Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menjelaskan bahwa meskipun tren harga minyak mulai mengalami penurunan, level harganya masih jauh di atas asumsi yang digunakan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa biaya impor energi yang lebih tinggi dapat memperbesar defisit fiskal maupun defisit neraca perdagangan Indonesia, sehingga memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Selain faktor harga minyak, sentimen global juga dipengaruhi oleh hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang menunjukkan sikap hawkish dari bank sentral Amerika Serikat (The Fed).

Sikap hawkish mengacu pada kecenderungan bank sentral untuk mempertahankan kebijakan moneter yang ketat guna mengendalikan inflasi.

Menurut Rully Nova, kondisi tersebut mendorong kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah di berbagai tenor. Yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik sekitar 0,5 basis poin (bps), tenor 2 tahun, 3 tahun, dan 6 tahun masing-masing meningkat 1,2 bps, 1,4 bps, dan 2,6 bps.

Ia juga menyoroti bahwa tenor 6 tahun mengalami kenaikan paling signifikan, meskipun kondisi tersebut belum diikuti oleh arus keluar modal asing (capital outflow) dari pasar keuangan domestik.

"Tenor 6 tahun naik paling besar, 14 bps, walaupun tidak terjadi capital outflow," ungkap Rully Nova dikutip Antara News, Kamis (30/7/2026).

IHSG Lanjutkan Tren Menguat Hari Ini

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) melanjutkan tren positif pada perdagangan Jumat pagi dengan dibuka menguat 33,26 poin atau 0,54 persen ke level 6.219,62.

Sejalan dengan IHSG, indeks saham unggulan LQ45 juga bergerak di zona hijau dengan naik 2,54 poin atau 0,41 persen ke posisi 621,40, menandakan bahwa minat beli juga terjadi pada saham-saham berkapitalisasi besar dan memiliki tingkat likuiditas tinggi.

Pada awal perdagangan, sejumlah saham dalam indeks LQ45 menjadi pendorong utama penguatan pasar. Saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) mencatat kenaikan tertinggi dengan menguat sekitar 4 persen, diikuti PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) yang naik 3,08 persen, serta PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang menguat 2,47 persen.

Di sisi lain, tekanan jual masih terjadi pada beberapa saham, dengan PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) menjadi saham dengan pelemahan terbesar setelah turun 1,92 persen, disusul PT United Tractors Tbk (UNTR) yang terkoreksi 1,44 persen, dan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) yang melemah 1,38 persen.

Kinerja positif pada pembukaan perdagangan Jumat melanjutkan penguatan yang telah terjadi pada penutupan perdagangan Kamis, ketika IHSG ditutup melonjak 94,97 poin atau 1,56 persen ke level 6.186,36, sedangkan indeks LQ45 naik 12,34 poin atau 2,03 persen menjadi 618,86.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menjelaskan bahwa penguatan IHSG didorong oleh meningkatnya minat investor terhadap saham-saham berkapitalisasi besar (blue chip) di tengah musim penyampaian laporan keuangan semester I 2026 oleh perusahaan-perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia.

"IHSG rebound di tengah tekanan pasar eksternal dan ketidakpastian mengenai suksesi bank sentral Indonesia. Penguatan indeks ditopang kenaikan emiten bluechip dan musim rilis laporan keuangan," paparnya, dikutip Antara News, Kamis.

Pelaku pasar disebut masih mencermati sejumlah faktor yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan pasar. Nico menilai penguatan IHSG masih dibatasi oleh ketidakpastian mengenai proses suksesi kepemimpinan di Bank Indonesia (BI), kondisi fiskal pemerintah yang masih menjadi perhatian investor, serta hambatan pada sektor ekspor mineral.

Selain itu, investor juga mulai bersikap hati-hati menjelang rilis sejumlah indikator ekonomi penting pada pekan berikutnya, seperti data inflasi Juli 2026, neraca perdagangan, dan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) kuartal II 2026. Data-data tersebut dinilai akan menjadi acuan bagi investor dalam mengukur kondisi ekonomi nasional sekaligus prospek kebijakan ekonomi ke depan.

Baca juga artikel terkait RUPIAH atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra