tirto.id - Nilai tukar rupiah pada perdagangan Selasa (28/7/2026) pagi mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Tak hanya rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga mengalami hal serupa.
Rupiah tercatat turun 61 poin atau melemah 0,34 persen menjadi Rp18.070 per dolar AS dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp18.009 per dolar AS.
Pergerakan rupiah tersebut terjadi di tengah perhatian pasar terhadap proses pergantian Gubernur Bank Indonesia (BI) setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri dari jabatannya secara sukarela karena alasan pribadi.
Sebelumnya, BI mengumumkan pengunduran diri Perry Warjiyo dari posisi Gubernur pada Senin (27/7/2026) pagi. Setelah keputusan tersebut, melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Minggu, 26 Juli 2026, BI menetapkan Destry Damayanti sebagai Pejabat Sementara Gubernur BI.
IHSG Dibuka Melemah, Pengunduran Diri Gubernur BI Jadi Sebab?
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Selasa pagi dibuka melemah. IHSG tercatat turun 10,58 poin atau 0,17 persen ke posisi 6.175,20.
Pelemahan tersebut melanjutkan tekanan yang terjadi pada perdagangan sebelumnya, ketika IHSG ditutup di level 6.185,78 atau melemah 0,17 persen pada Senin, 27 Juli 2026.
Tekanan terhadap pasar saham domestik tidak terlepas dari sentimen negatif akibat pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo secara mendadak.
Keputusan tersebut memicu kekhawatiran investor karena terjadi di tengah kondisi rupiah yang masih mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat. Pasar menilai perubahan kepemimpinan secara tiba-tiba di tubuh bank sentral dapat meningkatkan ketidakpastian terhadap arah kebijakan moneter ke depan.
Phintraco Sekuritas dikutip laman Indo Premier (28/7/2026) menjelaskan bahwa transisi kepemimpinan Bank Indonesia yang berlangsung secara mendadak dapat memperbesar ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga. Kondisi tersebut membuat investor menilai risiko makroekonomi meningkat, terutama terkait stabilitas nilai tukar dan arah kebijakan moneter.
Analisis Doo Financial Futures menyebutkan bahwa sebagian pelaku pasar mengaitkan pergantian kepemimpinan BI dengan potensi gangguan terhadap persepsi independensi bank sentral, yang dapat berpengaruh terhadap kebijakan moneter dan pergerakan nilai tukar rupiah.
Kiwoom Sekuritas menilai bahwa meskipun secara aturan Bank Indonesia tetap merupakan lembaga yang independen, ketidakpastian terkait proses penunjukan pengganti Gubernur BI membuat sebagian investor masih bersikap hati-hati.
Kekhawatiran tersebut kemudian mendorong aksi jual di pasar saham, terutama pada saham-saham dengan kapitalisasi besar yang memiliki pengaruh terhadap pergerakan indeks.
Sejalan dengan pelemahan IHSG, indeks saham unggulan yang tergabung dalam kelompok 45 saham dengan likuiditas dan kapitalisasi pasar besar atau Indeks LQ45 juga bergerak turun. Indeks LQ45 tercatat melemah 2,03 poin atau 0,33 persen ke posisi 610,53.
Meski pasar secara umum berada dalam tekanan, sejumlah saham masih mampu mencatatkan penguatan dan masuk dalam daftar saham dengan kenaikan terbesar (top gainers). Saham-saham yang mencatat penguatan tertinggi antara lain ALKA, ZONA, BAJA, BABY, dan MCAS.
Di sisi lain, beberapa saham mengalami penurunan harga paling dalam pada awal perdagangan. Saham yang masuk daftar penurunan terbesar (top losers) antara lain TAMA, TNCA, CASH, PAMG, dan DOOH.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id





































