tirto.id - Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada awal perdagangan Senin, 27 Juli 2026. Rupiah dibuka melemah 9 poin atau sekitar 0,05 persen ke level Rp17.972 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya di Rp17.963 per dolar AS. IHSG juga bergerak di zona merah.
Pelemahan rupiah hari ini melanjutkan tren negatif yang sudah terjadi pada Jumat (24/7/2026), ketika rupiah ditutup turun 27 poin atau 0,15 persen dari Rp17.936 menjadi Rp17.963 per dolar AS.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa pelemahan rupiah dipicu oleh kebijakan perdagangan terbaru yang diterapkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Pemerintah AS resmi memberlakukan tarif impor baru terhadap barang dari sekitar 60 negara mitra dagang, termasuk Indonesia, yang mulai berlaku pada Jumat (24/7).
Dalam kebijakan tersebut, sejumlah produk impor dikenakan tarif sebesar 10 persen hingga 12,5 persen. Kebijakan ini diberlakukan setelah masa tarif sementara sebesar 10 persen selama 150 hari berakhir.
“Trump resmi memberlakukan tarif impor baru terhadap barang dari 60 mitra dagang mulai Jumat (24/7). Kebijakan tersebut menetapkan tarif sebesar 10 persen dan 12,5 persen terhadap berbagai produk impor, termasuk barang asal Indonesia,” ucapnya dikutip Antara News (24/7/2026).
Selain faktor kebijakan tarif, penguatan dolar AS juga didorong oleh membaiknya data ekonomi Amerika Serikat, khususnya pasar tenaga kerja. Data terbaru menunjukkan klaim pengangguran awal di AS secara tak terduga turun menjadi 187 ribu, level terendah dalam beberapa dekade.
Di sisi domestik, pasar juga mencermati perkembangan di Bank Indonesia setelah Gubernur BI Perry Warjiyo resmi mengundurkan diri dari jabatannya.
Menyusul pengunduran diri tersebut, Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti ditetapkan sebagai pelaksana tugas (pejabat sementara) Gubernur Bank Indonesia berdasarkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Minggu (26/7).
Dalam konferensi pers, Destry Damayanti menegaskan bahwa Bank Indonesia akan tetap menjalankan mandat utama salah satunya adalah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
IHSG Dibuka di Zona Merah pada Perdagangan Hari Ini
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mengawali perdagangan Senin, 27 Juli 2026 dengan bergerak di zona merah. Pada pembukaan perdagangan, IHSG melemah 10,63 poin atau 0,17 persen ke level 6.185,80. Pelemahan juga terjadi pada kelompok saham unggulan yang tergabung dalam Indeks LQ45, yang turun 2,07 poin atau 0,34 persen ke posisi 612,72.
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, memperkirakan IHSG masih berpotensi bergerak melemah dalam jangka pendek dengan kisaran support di level 6.060 dan resistance di level 6.300.
Menurutnya, selama IHSG masih mampu bertahan di atas level support tersebut, tekanan yang terjadi masih tergolong sebagai koreksi yang wajar dan belum menunjukkan perubahan tren yang signifikan. Koreksi ini lebih dipengaruhi oleh sikap investor yang memilih menunggu kepastian arah kebijakan ekonomi global dibandingkan melakukan aksi jual besar-besaran.
Faktor utama yang menjadi perhatian pasar saat ini adalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang digelar 28-29 Juli 2026. Dalam pertemuan tersebut, Bank Sentral Amerika Serikat akan menentukan arah kebijakan suku bunga acuannya. Keputusan The Fed sangat dinantikan karena akan memengaruhi arus modal global, nilai tukar mata uang, hingga pergerakan pasar saham di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Di tengah sentimen kehati-hatian tersebut, Hendra menilai terdapat faktor positif yang dapat membantu membatasi tekanan terhadap IHSG, yakni turunnya harga minyak mentah dunia.
Harga minyak Brent yang sebelumnya sempat mendekati 100 dolar AS per barel kini terkoreksi sekitar 4,5 persen ke kisaran 87 dolar AS per barel.
"Terdapat sentimen positif yang berpotensi membatasi tekanan di pasar saham. Harga minyak mentah Brent yang sebelumnya sempat mendekati level 100 dolar AS per barel kini terkoreksi sekitar 4,5 persen ke kisaran 87 dolar AS per barel,” papar Hendra.
Selain itu, perhatian investor saat ini juga tertuju pada perkembangan di Bank Indonesia setelah Perry Warjiyo resmi mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Gubernur BI dan diganti Destry.
Menurut Hendra, penunjukan Destry memberikan sinyal bahwa arah kebijakan moneter Indonesia akan tetap berlanjut tanpa perubahan signifikan.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id





































