tirto.id - Pasar keuangan Indonesia pada hari ini menunjukkan pergerakan yang cukup menarik. Nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kompak menguat, sementara harga emas—aset yang biasanya diburu saat ketidakpastian meningkat—malah terkoreksi.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai pergerakan ketiga instrumen tersebut mencerminkan membaiknya risk appetite investor. Menurut dia, dana yang sebelumnya banyak ditempatkan pada aset lindung nilai kini mulai mengalir kembali ke instrumen yang menawarkan potensi imbal hasil lebih tinggi.
"Ketika selera risiko membaik, aliran dana cenderung masuk ke pasar saham dan mata uang negara berkembang, sementara permintaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai berkurang," ujar Nafan kepada Tirto, Selasa (21/7/2026).
Sinyal tersebut tercermin dari apresiasi terhadap rupiah di pasar valuta asing. Pada jam makan siang, Mata Uang Garuda menguat 49 poin atau 0,27 persen ke level Rp17.899 per dolar AS, setelah sehari sebelumnya ditutup di Rp17.948 per dolar AS.
Menurut Nafan, optimisme investor saat ini tak hanya ditopang oleh sentimen global melainkan juga domestik. Keputusan S&P Global Ratings mempertahankan peringkat utang Indonesia pada level BBB dengan outlook stabil memperkuat keyakinan pasar terhadap fundamental ekonomi nasional.
Meski demikian, ia mengingatkan investor tetap akan mencermati sejumlah agenda penting pekan ini, mulai dari hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia, rilis PMI global, hingga keputusan suku bunga Bank Sentral Eropa (ECB), yang dapat memengaruhi arah arus modal.

Sementara di bursa, pergerakan indeks saham di pasar domestik hari ini berada di zona hijau. Berdasarkan data RTI Business, IHSG dibuka di level 6.273,571 dan bergerak pada kisaran 6.261,513 hingga 6.278,095. Penguatan itu memperpanjang reli indeks menjadi delapan hari berturut-turut setelah pada perdagangan Senin (20/7/2026) ditutup menguat 0,91 persen atau 56,24 poin ke level 6.231,78.
Dari sisi teknikal, Nafan melihat ruang penguatan IHSG masih terbuka. Ini lantaran indikator pasar masih menunjukkan momentum positif, meski belum ada katalis global yang benar-benar dominan. "Berdasarkan indikator, Stochastics K_D dan RSI menunjukkan sinyal positif, didukung kenaikan volume," katanya.
Pandangan tersebut sejalan dengan riset Samuel Sekuritas Indonesia. Dalam riset hariannya, Samuel memperkirakan IHSG masih berpeluang melanjutkan penguatan pada perdagangan Selasa (21/7/2026), didukung sentimen positif dari bursa regional.
Pada perdagangan sebelumnya, mayoritas bursa Asia ditutup menguat, dengan Hang Seng melonjak 2,36 persen dan Shanghai Composite naik 0,85 persen. IHSG sendiri ditutup menguat 0,91 persen ke level 6.231,78, disertai aksi beli bersih (foreign net buy) investor asing sebesar Rp96,7 miliar di seluruh pasar.
Sementara itu, bursa Amerika Serikat justru ditutup melemah akibat kembali meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak dan memicu kekhawatiran terhadap inflasi serta arah suku bunga.
Pelemahan Harga Emas
Sementara itu, harga emas justru bergerak ke arah sebaliknya. Berdasarkan data Logam Mulia, harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) turun Rp9.000 menjadi Rp2.601.000 per gram. Harga buyback juga terkoreksi dengan besaran yang sama menjadi Rp2.332.000 per gram.
Pelemahan itu bukan hanya terjadi di pasar domestik. Mengutip Bloomberg, harga emas spot dunia masih bergerak di sekitar level 4.000 dolar AS per ons setelah anjlok 2,5 persen sepanjang pekan lalu. Pada perdagangan Selasa waktu New York, harga emas kembali turun 0,2 persen menjadi 4.008,05 dolar AS per ons.
Menariknya, pelemahan emas terjadi ketika konflik Amerika Serikat dan Iran justru memasuki bulan kelima. Dalam kondisi normal, eskalasi geopolitik biasanya mendorong investor memborong emas sebagai aset safe haven.

Respons terbatas pasar emas terhadap konflik Amerika Serikat dan Iran dilatarbelakangi oleh upaya mediasi antara kedua negara. Langkah tersebut telah meredakan sebagian kekhawatiran investor, sehingga fokus pasar bergeser ke isu yang dinilai lebih menentukan arah harga emas, yakni kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Analis Global X ETFs, Justin Lin, mengatakan lonjakan harga minyak akibat konflik Timur Tengah memang berpotensi meningkatkan tekanan inflasi. Namun, kondisi itu sekaligus membuka peluang The Fed kembali menaikkan suku bunga.
Bagi pasar emas, prospek tersebut justru menjadi sentimen negatif karena biaya memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil menjadi lebih mahal.
"Reaksi emas terhadap lonjakan harga minyak relatif terbatas. Menurut saya, hal ini mencerminkan berkurangnya perhatian investor terhadap faktor geopolitik dan meningkatnya fokus pada keputusan suku bunga The Fed," ujar Lin kepada Bloomberg.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id

































