Menuju konten utama

Bukan MSCI, DBS Ungkap Ancaman Terbesar IHSG

DBS sebut risiko IHSG kini bukan lagi isu MSCI, melainkan harga minyak tinggi yang menekan laba emiten.

Bukan MSCI, DBS Ungkap Ancaman Terbesar IHSG
Consumer Banking Director PT Bank DBS Indonesia, Melfrida Gultom, memaparkan kinerja segmen Treasures Private Client dalam media briefing DBS Insights Forum 2026 di Jakarta, Rabu (15/7/2026). DBS mencatat pendapatan segmen private banking tumbuh 34 persen yang ditopang peningkatan fee income dari bisnis investasi dan asuransi. FOTO/Nanda Surya Shadan
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - PT Bank DBS Indonesia menilai tekanan terhadap pasar saham Indonesia kini tidak lagi didominasi oleh faktor teknikal seperti keluarnya Indonesia dari penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI). Risiko terbesar justru berasal dari faktor eksternal, yaitu tingginya harga minyak dunia yang berlangsung dalam waktu lama serta dampaknya terhadap kinerja perusahaan.

Head of Investment & Insurance Products PT Bank DBS Indonesia, Djoko Soelistyo, mengatakan pasar telah merespons kekhawatiran mengenai kemungkinan Indonesia keluar dari indeks MSCI Emerging Markets.

“Saat ini, begitu ada concern MSCI akan menempatkan Indonesia keluar dari emerging ke frontier, market udah beraksi atau belum? Udah, market udah beraksi. Indeks kita langsung turun sampai ke level di bawah Rp6.000,” kata Djoko dalam media briefing DBS Insights Forum 2026 di Jakarta, Rabu (15/7/2026).

Menurut dia, reaksi tersebut menunjukkan pelaku pasar telah mengantisipasi potensi perubahan status Indonesia di indeks MSCI sehingga tekanan terhadap IHSG tidak lagi sebesar sebelumnya.

“Jadi sebenarnya kami melihat bahwa sebenarnya market itu udah price in terhadap kemungkinan terjadinya, seandainya pun sampai itu terjadi, market udah banyak price in. Jadi ketekanannya ke bawahnya harusnya udah gak lebih besar," tuturnya.

Menurutnya, perhatian Chief Investment Office (CIO) DBS kini tidak lagi berfokus pada isu MSCI, melainkan pada faktor lain yang dinilai lebih memengaruhi arah pasar.

“Namun kalau dilihat di situ, kondisi yang paling dulu pun itu terjadinya udah bukan konteks MSCI lagi, lebih ke konteks yang lain," ujarnya

Ia juga menambahkan bahwa harga minyak yang bertahan tinggi dalam waktu lama berpotensi menekan kinerja perusahaan karena meningkatkan biaya energi.

“Misalnya harga minyak yang terlalu tinggi, yang terlalu lama, atau misalnya earning dari perusahaan-perusahaan yang otomatis jadi berkurang karena harga minyak terlalu tinggi, sehingga energinya terlalu tinggi. Nah, jadi lebih ke faktor itu dibanding ngomongin MSCI," jelasnya.

Kendati demikian, Chief Investment Office (CIO) DBS memproyeksikan IHSG berada di level 8.000 pada skenario dasar (base case) hingga akhir 2026. Menurut Joko, proyeksi tersebut telah memperhitungkan sejumlah faktor, termasuk isu MSCI, nilai tukar rupiah di kisaran Rp18.000 per dolar AS, serta rasio price to earnings (P/E) sekitar 13 kali.

Baca juga artikel terkait LATEST SC atau tulisan lainnya dari Nanda Surya

tirto.id - Flash News
Reporter: Nanda Surya
Penulis: Nanda Surya
Editor: Hendra Friana