Menuju konten utama

Satu Dolar AS Berapa Rupiah Hari Ini 16 Juli 2026?

Rupiah melemah tipis ke Rp18.071 per dolar AS pada Kamis pagi. Sementara itu, IHSG dibuka menguat 0,28 persen di level 6.058,63.

Satu Dolar AS Berapa Rupiah Hari Ini 16 Juli 2026?
Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Senin (13/7/2026). Nilai tukar rupiah berada di level Rp18.109 per dolar AS pada perdagangan Senin (13/7) sore, rupiah melemah 44 poin atau 0,24 persen dibandingkan dari penutupan sebelumnya di level Rp 18.065 per dolar AS imbas ketegangan geopolitik AS-Iran yang meningkat di Timur Tengah. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/foc.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Nilai tukar rupiah pada perdagangan Kamis (16/7/2026) pagi melemah tipis ke level Rp18.071 per dolar AS. Pelemahan ini sekitar 3 poin atau 0,02 persen dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp18.068 per dolar AS. Di bursa saham, IHSG dibuka menguat.

Pelemahan rupiah tersebut terjadi setelah mencatat penguatan pada perdagangan Rabu sore, ketika rupiah tercatat menguat 23 poin atau 0,13 persen dari level Rp18.091 per dolar AS menjadi Rp18.068 per dolar AS.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa penguatan rupiah pada perdagangan sebelumnya dipengaruhi oleh perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve (The Fed).

Menurutnya, pelemahan data inflasi AS yang berada di bawah perkiraan pasar membuat pelaku pasar memperkirakan ruang bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga menjadi semakin terbatas. Kondisi tersebut memberikan tekanan terhadap dolar AS dan pada saat yang sama mendorong penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

“Rupiah ditutup menguat terhadap dolar AS, didukung oleh data inflasi AS yang lebih lemah dari perkiraan memicu menurunnya ekspektasi pada The Fed untuk menaikkan suku bunga,” terangnya dikutip Antara News, Rabu (15/7/2026).

Selain faktor eksternal dari kebijakan moneter AS, penguatan rupiah juga mendapat dukungan dari keputusan lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB dengan prospek stabil.

Keputusan tersebut menunjukkan bahwa kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih dinilai cukup kuat dan mampu menjaga kepercayaan investor terhadap pasar keuangan domestik.

IHSG Menguat 0,28 persen Hari Ini

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) melanjutkan tren penguatan pada perdagangan Kamis (16/7/2026). IHSG dibuka menguat sebesar 0,28 persen ke level 6.058,63.

Pada perdagangan pagi ini, aktivitas transaksi saham di BEI menunjukkan sentimen positif dari investor. Total volume perdagangan tercatat mencapai sekitar 1,13 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp351,2 miliar.

Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, sebanyak 226 saham mengalami penguatan, sedangkan 148 saham melemah dan 269 saham stagnan.

Di jajaran saham unggulan indeks LQ45, beberapa emiten mencatat kenaikan terbesar, yaitu PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) yang naik 2,76 persen ke level Rp1.490 per saham, disusul PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) yang menguat 1,60 persen menjadi Rp3.820 per saham, serta PT Indosat Tbk (ISAT) yang naik 1,32 persen ke posisi Rp1.920 per saham.

Saham-saham dengan pelemahan terbesar di LQ45 antara lain PT XL SMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) yang turun 1,57 persen ke Rp2.510 per saham, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) melemah 1,10 persen ke Rp1.345 per saham, dan PT United Tractors Tbk (UNTR) turun 1,09 persen ke Rp27.100 per saham.

Penguatan IHSG tersebut melanjutkan tren positif yang telah terjadi sejak perdagangan Rabu (15/7/2026), ketika IHSG ditutup menguat sebesar 2,45 poin atau 0,04 persen ke level 6.041,97. Pada hari yang sama, indeks saham unggulan LQ45 juga mengalami kenaikan sebesar 1,01 poin atau 0,17 persen menjadi 599,90.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menjelaskan bahwa penguatan IHSG dan sejumlah bursa regional Asia dipengaruhi oleh respons positif pasar terhadap data inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih rendah dari perkiraan.

Kondisi tersebut mengurangi kekhawatiran investor terhadap kemungkinan pengetatan kebijakan moneter agresif oleh bank sentral AS.

"IHSG dan bursa regional Asia bergerak menguat, rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) meredam ekspektasi kenaikan suku bunga acuan The Fed," terangnya dikutip Antara News, Rabu (15/7/2026).

Selain faktor inflasi AS, pergerakan pasar global juga masih dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik, terutama meningkatnya kembali ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang berdampak pada kenaikan harga minyak dunia.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kenaikan harga energi dapat kembali memberikan tekanan terhadap inflasi global dan memengaruhi keputusan bank sentral dalam menentukan kebijakan moneternya.

Pasar saat ini masih memperkirakan sekitar 50 persen kemungkinan adanya kenaikan suku bunga The Fed pada September 2026, sehingga sentimen eksternal tetap menjadi faktor penting bagi pasar saham.

Baca juga artikel terkait RUPIAH atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra