tirto.id - Rupiah tercatat berada di level Rp18.075 per dolar AS pada pembukaan pagi ini, Kamis (30/7/2026), melemah tipis 2 poin atau 0,01 persen dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp18.073 per dolar AS. IHSG dibuka menguat.
Pergerakan rupiah yang terbatas tersebut menunjukkan bahwa pasar masih berada dalam fase menunggu sejumlah sentimen penting, terutama keputusan kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (The Fed).
Sehari sebelumnya, pada penutupan perdagangan Rabu (29/7), rupiah justru mengalami penguatan sebesar 10 poin atau 0,06 persen menjadi Rp18.073 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi Rp18.083 per dolar AS.
Penguatan tersebut terjadi di tengah melemahnya indeks dolar AS karena investor cenderung mengambil sikap hati-hati menjelang pengumuman hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC).
Sikap menunggu ini membuat sebagian pelaku pasar mengurangi posisi besar pada dolar AS sehingga memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk menguat.
Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, menjelaskan bahwa pergerakan rupiah dipengaruhi oleh ekspektasi pasar terhadap keputusan The Fed.
“Perhatian investor masih tertuju pada hasil rapat yang akan diumumkan nanti malam. Menjelang keputusan tersebut, pelaku pasar cenderung berhati-hati dalam mengambil posisi sehingga indeks dolar AS (DXY) bergerak melemah,” urainya dikutip Antara News, Rabu (29/7/2026).
Pelemahan dolar AS tersebut memberikan peluang bagi rupiah untuk bergerak lebih kuat dalam jangka pendek. Ketika dolar melemah, mata uang negara lain biasanya memperoleh ruang untuk mengalami apresiasi karena tekanan permintaan terhadap dolar sebagai aset lindung nilai (safe haven) berkurang.
IHSG Menguat 0,31 Persen Pagi Ini
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan penguatan pada perdagangan Kamis pagi setelah sebelumnya mengalami tekanan pada penutupan perdagangan Rabu.
IHSG dibuka naik 18,89 poin atau 0,31 persen ke level 6.110,28, sedangkan indeks saham unggulan LQ45 juga bergerak positif dengan kenaikan 2,52 poin atau 0,42 persen ke posisi 609,04.
Pada perdagangan pagi tersebut, sejumlah saham dalam indeks LQ45 menjadi pendorong utama kenaikan. Saham dengan penguatan terbesar (top gainers) dipimpin oleh PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) yang naik 3,24 persen. Posisi berikutnya ditempati oleh PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) yang menguat 3,06 persen, serta PT Vale Indonesia Tbk (INCO) yang naik 2,80 persen.
Namun, tidak seluruh saham bergerak positif. Beberapa saham LQ45 mengalami tekanan jual (top losers), dengan penurunan terbesar terjadi pada PT United Tractors Tbk (UNTR) yang melemah 2,86 persen. Selain itu, PT Astra International Tbk (ASII) turun 0,81 persen, dan PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) terkoreksi 0,71 persen.
Sebelumnya, pada perdagangan Rabu, IHSG justru ditutup melemah akibat kombinasi tekanan dari sentimen global dan domestik. IHSG terkoreksi 39,20 poin atau 0,64 persen dan berakhir di level 6.091,39, sedangkan indeks LQ45 turun 1,51 poin atau 0,25 persen menjadi 606,52.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menjelaskan bahwa pelemahan tersebut dipengaruhi oleh faktor eksternal maupun internal yang membuat investor cenderung berhati-hati.
Dari sisi global, pasar saham Asia bergerak beragam akibat meningkatnya kembali ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Konflik tersebut memicu kekhawatiran investor terhadap potensi gangguan pasokan energi dunia, terutama karena kawasan Timur Tengah merupakan salah satu pusat produksi dan distribusi minyak global.
Selain itu, ketegangan juga berkaitan dengan situasi keamanan di Irak dan kawasan Selat Hormuz. Amerika Serikat bersama pasukan Arab Saudi melakukan operasi terhadap kelompok militan yang didukung Iran sebagai respons atas serangan drone sebelumnya.
Di sisi lain, Iran menolak proposal Oman terkait pembagian kendali jalur pelayaran di Selat Hormuz dan tetap mempertahankan pengaruhnya terhadap jalur strategis tersebut. Kondisi ini menjadi perhatian pasar karena gangguan di Selat Hormuz dapat berdampak besar terhadap perdagangan minyak dunia.
Investor global juga masih menunggu keputusan kebijakan moneter The Fed melalui pertemuan FOMC. Pasar memperkirakan dengan probabilitas sekitar 67,9 persen bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga acuannya.
Dari dalam negeri, perhatian investor tertuju pada perubahan kepemimpinan di Bank Indonesia (BI) setelah mundurnya Gubernur BI secara mendadak. Peristiwa tersebut mendapat perhatian dari lembaga pemeringkat kredit internasional seperti Moody’s Ratings, Fitch Ratings, dan S&P Global Ratings.
“Pandangan dari lembaga tersebut tentunya ini menjadikan kehati-hatian pelaku pasar yang cenderung wait and see menantikan pemimpin definitif BI yang kredibel,” ujar Nico.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id







































