tirto.id - Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi belum bisa memastikan Presiden Prabowo Subianto akan bertolak ke Nusa Tenggara Timur (NTT) setelah melangsungkan rangkaian perayaan HUT RI ke-81 di Jakarta. Saat ini sudah banyak menteri yang berada di NTT untuk memonitor proses penanganan bencana gempa bumi.
"Nanti kita lihat situasinya, ya. Para menteri juga sudah di sana. Kita lihat seperti apa, lalu kita putuskan," ujar dia kepada awak media, di Halaman Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Senin (17/8/2026).
Prasetyo merinci, sejumlah menteri yang sampai saat ini masih berada di NTT antara lain, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaa (PMK), Pratikno; Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tito Karnavian; Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo; Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes), Benjamin Paulus Oktavianus; dan Wakil Menteri Sosial (Wamensos), Agus Jabo.
"Sekarang [sejumlah pejabat negara] sedang berada di Nusa Tenggara Timur dalam rangka memonitor dan memastikan menanggulangi bencana yang kemarin terjadi di Nusa Tenggara Timur," imbuh Prasetyo.
Menurutnya, kehadiran para pejabat negara di wilayah terdampak gempa tersebut menjadi penting karena di tengah momentum perayaan HUT RI ke-81, pemerintah harus tetap memastikan para korban gempa NTT tertangani dengan baik.
"Jadi, di tengah-tengah kita merayakan kemerdekaan, tentu saja di satu sisi kita tetap harus memastikan bahwa saudara-saudara kita yang kemarin terkena bencana itu semua tertangani dengan baik," tuturnya.
Pada tempat yang sama, Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani mengungkapkan sampai saat ini ada 3 Unit Pelaksana Tugas (UPT) BMKG yang turun tangan memonitor kondisi NTT terkini. Tidak hanya itu, BMKG juga terus memantau potensi gempa susulan.
"Sampai dengan jam 7 pagi hari ini telah tercatat 1598 gempa susulan, magnitudo terbesar adalah 6,2 magnitudo, yang terkecil 1,3 dan kemudian yang dirasakan kira-kira 54 gempa. Tapi kita terus masih memantau terkait dengan peluruhannya, kemungkinan dalam 2-3 minggu ke depan dia akan meluruh," jelas Faisal.
Setelah itu, barulah perbaikan bangunan dapat dimulai segera.
"Sehingga kita mulai dapat melakukan retrofitting atau perbaikan bangunan atau pembangunan kembali jika dibutuhkan," tutup dia.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id

































