tirto.id - Proses restrukturisasi BUMN sektor konstruksi (karya) masih berjalan rumit dan memakan waktu. Kepala Badan Pengelola (BP) BUMN, Dony Oskaria, mengungkapkan salah satu hambatan utama dalam penyehatan emiten pelat merah ini adalah belitan utang besar yang tidak hanya menumpuk di tingkat induk (holding), tetapi juga menjerat hingga ke anak dan cucu usaha.
Dony menjelaskan bahwa penyelesaian krisis di BUMN Karya membutuhkan kehati-hatian ekstra karena skala dampaknya yang sangat luas, dengan total kewajiban mencapai ratusan triliun rupiah.
"Persoalannya itu cukup luas. Pertama bahwa liabilities-nya besar-besar, utangnya besar-besar. Yang kedua, masalahnya ini tidak hanya di level holding, tetapi dia punya anak-anak perusahaan yang juga bermasalah. Di masing-masing Karya itu punya anak lagi, ada cucu, semuanya bermasalah juga. Jadi kita mesti bereskan itu one by one, satu per satu," ujar Dony di Gedung DPR, dikutip Rabu (19/8/2026).
Dony menyebutkan bahwa masing-masing BUMN Karya bisa memiliki lebih dari 20 anak perusahaan yang seluruhnya membutuhkan perbaikan.
Ia mengakui, opsi instan seperti merger atau kepailitan sebenarnya bisa saja diambil, namun hal itu dihindari demi meminimalkan dampak negatif terhadap ekosistem industri dan pihak-pihak terkait.
"Kalau kita mau instan tanpa memikirkan dampaknya terhadap orang-orang terdampak, itu kan gampang saja sebetulnya. Tapi kan kami memikirkan juga dampaknya untuk ekosistem yang lainnya. Jadi memang hati-hati sekali, inilah yang memakan waktu," ucapnya.
Kerumitan proses ini dipicu oleh banyaknya peninggalan masalah masa lalu di berbagai proyek dan anak usaha, mulai dari proyek LRT hingga anak usaha seperti Wika Realty.
Dony bahkan mengakui besarnya beban dan kompleksitas persoalan ini menguras banyak waktu dan energi. Meski menargetkan penataan dapat rampung pada akhir tahun, ia belum dapat memastikan jadwal pasti karena dinamika penyelesaian di lapangan yang sangat rumit.
"Ini belum selesai ya, perbaikan ini belum selesai. Kita sedang lakukan perbaikan, insyaallah mudah-mudahan bisa kita turnaround. Bisnis modelnya kita lihat, cost structure-nya kita cek, sehingga kemudian kita harapkan perusahaan-perusahaan ini menjadi kompetitif," tutur Dony.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id





































