tirto.id - Ribuan gempa susulan tercatat terjadi di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat jumlah gempa susulan NTT mencapai 2.768 kali. Jumlah korban jiwa akibat gempa juga dilaporkan meningkat jadi 70 orang saat artikel ini ditulis.
Berdasarkan keterangan tertulis BMKG per Rabu (19/8/2026), lebih dari 2.000 gempa susulan tersebut berlangsung dalam intensitas yang bervariasi, antara magnitudo 1,1 hingga 6,2. Dari jumlah tersebut, 81 di antaranya tergolong gempa yang dapat dirasakan.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto menyebut potensi gempa susulan di Flores ini masih akan terus berlangsung dalam beberapa pekan ke depan. Oleh karena, masyarakat diimbau untuk tetap waspada.
“Berdasarkan data sementara gempa susulan ini akan berakhir 3-4 minggu ke depan. Masyarakat diimbau tetap tenang dan waspada gempa bumi susulan yang masih terjadi,” kata Wijayanto.
Gelombang tsunami tersebut tercatat tersebar di 16 lokasi perairan di 4 provinsi yang berdekatan. Keempat provinsi tersebut ialah NTT, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara.
“Ketinggian tsunami paling tinggi tercatat di Pota, Manggarai Timur, NTT pada pukul 05.03 WIB (1,605 m) dan terendah di Bakalang, Alor, NTT pada pukul 05:41 WIB (0,14 m),” tulis BMKG.
BMKG mencatat bahwa gempa tersebut merupakan dampak dari aktivitas tektonik di Flores Back-Arc. Gempa juga disebut berlangsung dengan mekanisme pergerakan naik (thrust fault).
Update Jumlah Korban Gempa NTT
Jumlah korban akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 di Flores, NTT, juga meningkat seiring waktu. Per Selasa (18/8), jumlah korban tewas yang terkonfirmasi telah mencapai 70 orang.
Jumlah tersebut diungkap Basarnas dalam konferensi pers pada Selasa. Sebanyak 202 orang telah menjadi korban, dengan rincian 70 orang di antaranya meninggal dunia dan 132 lainnya mengalami luka-luka.
Pihak Basarnas juga mengonfirmasi kondisi para korban luka akibat gempa. Dari total 132 korban luka yang terkonfirmasi, 40 di antaranya mengalami luka berat dan 92 lainnya mengalami luka ringan.
Akan tetapi, data jumlah korban luka yang berbeda dirilis Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Berbeda dari data Basarnas, BNPB mencatat 1.182 orang mengalami luka akibat gempa di Flores, jauh lebih besar dari jumlah yang dicatat Basarnas.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan menyebut bahwa perbedaan tersebut terjadi karena adanya perbedaan klasifikasi yang digunakan kedua lembaga dalam menghitung total korban.
Menurut Berton, Basarnas menghitung total korban luka yang ditemukan selama proses evakuasi. Sementara BNPB menggunakan data jumlah korban yang telah mendapatkan penanganan medis di fasilitas kesehatan setempat.
Dalam data yang dihimpun BNPB, Kementerian Kesehatan mencatat bahwa lebih dari 1.000 korban akibat gempa tersebut kini menjadi pasien fasilitas kesehatan setempat. Jumlah tersebut juga disebut tersebar di berbagai wilayah.
Kabupaten Manggarai Timur disebut menjadi wilayah dengan korban luka terbanyak, yakni 955 orang. Kemudian, Kabupaten Manggarai dengan 119 korban luka. Selanjutnya, Kabupaten Ngada dengan 34 korban.
Selain itu, terdapat pula Kabupaten Nagekeo dengan 22 korban; Kabupaten Sikka dengan 19 korban; dan Kabupaten Ende dengan 20 korban.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id

































