








tirto.id - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tahun ini terjadi ketika sejumlah wilayah Indonesia memasuki musim kemarau. Skala kasus karhutla bahkan jauh lebih besar jika dilihat secara nasional. Mulai dari Aceh Barat hingga Papua Barat Daya, kasus karhutla meningkat tajam dalam beberapa waktu terakhir.
Data Kemenko Polkam mencatat luas lahan terbakar di enam provinsi prioritas sejak Januari hingga 9 Agustus 2026 mencapai 48.889,69 hektare. Kalimantan Barat menjadi wilayah terparah dengan 28.680,47 hektare, disusul Riau 15.551,76 hektare, Kalimantan Tengah 3.069,52 hektare, Sumatra Selatan 664,87 hektare, Jambi 540 hektare, dan Kalimantan Selatan 383,07 hektare.
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) per Rabu (12/8/2026) menunjukkan lonjakan titik panas (hotspot). Di Kalimantan Barat, jumlah titik panas naik dari 98 menjadi 136 titik dibanding hari sebelumnya. Kalimantan Tengah meningkat dari 29 menjadi 78 titik, dan Kalimantan Selatan dari 10 menjadi 31 titik. BMKG juga mendeteksi indikasi asap lintas batas (transboundary haze) yang bertiup dari Kalimantan Barat menuju Sarawak.
Kabut asap ini bahkan telah mencapai Kuala Lumpur pada Selasa (11/8/2026), mengurangi jarak pandang di sekitar Menara Merdeka dan kawasan bisnis. Otoritas meteorologi Malaysia pun mengimbau warga membatasi aktivitas luar ruangan akibat penurunan kualitas udara akibat asap kiriman tersebut.
Beberapa kota dan kabupaten di Indonesia yang saat ini terdampak parah karhutla dan kabut asap terutama di Kalimantan dan Sumatra. Data BNPB dan Kemenkes, lebih dari 3 juta warga di 37 kab/kota dari 7 provinsi terpapar langsung.
FOTO: ANTARA FOTO TEXT: tirto.id
Editor: Maya Saputri
Masuk tirto.id































