Menuju konten utama
Horizon

Ekosistem Digital Serba-cepat dan Generasi yang Kehilangan Jeda

Cara generasi muda bersuara di media sosial ikut berevolusi bersama iklim komunikasi yang memengaruhi kehidupan mereka, menekan mereka, dan mengubah mereka.

Ekosistem Digital Serba-cepat dan Generasi yang Kehilangan Jeda
Ilustrasi media sosial. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Label "asal bunyi" atau asbun belakangan kerap dilekatkan pada pola komunikasi Generasi Alpha di media sosial. Cuplikan video pendek yang memperlihatkan anak-anak melontarkan celetukan dan respons impulsif di ruang publik memicu perdebatan mengenai kesopanan dan kualitas komunikasi anak muda.

Virgin Noor Vadillah dan kolega mencoba membedah gejala tersebut dalam dalam penelitiannya, "Neuro-Psycholinguistic Analysis of The Asbun Phenomenon among Generation Alpha on TikTok" (2026: 78). Mereka menggunakan teori-proses-bicara milik pakar bahasa William Levelt untuk memetakan isi kepala anak.

Normalnya, sebelum satu kalimat terucap, otak manusia bekerja berurutan: dari menyusun gagasan, memilih kata, menyiapkan bunyi, hingga mengaktifkan semacam “penjaga gerbang” di pikiran untuk memeriksa kepantasan ucapan tersebut (hlm. 66).

Masalahnya, konsumsi video pendek yang serba cepat mengubah urutan kerja itu. Kebiasaan tersebut secara otomatis melatih kata-kata viral di otak untuk meloncat keluar lebih dulu, sementara si “penjaga gerbang” tertinggal selangkah di belakang.

Lewat kacamata tersebut, celetukan asbun bukan tanda anak sengaja kurang ajar, melainkan akibat kalimat yang lolos sebelum sempat "diperiksa" oleh pikiran otak.

Memang riset di atas baru menguji lima rekaman TikTok—jumlah yang terlalu kecil untuk menghakimi tabiat satu generasi. Namun, setidaknya data itu sudah cukup jadi bekal agar ucapan spontan anak-anak kiwari tidak langsung distigmatisasi.

Toh, pergeseran cara berkomunikasi Gen Alpha tidak lahir dari ruang kosong. Pola tersebut tumbuh di tengah perkembangan ruang digital, dengan generasi Milenial sebagai pemain babak pertamanya.

Linimasa yang Menjelma Pasar

Bagi Milenial, internet dan media sosial merupakan halaman kosong yang baru dicoba-coba. Twitter (sekarang disebut X) dan Instagram menampung cerita keseharian, yang perlahan menjadi tempat menyatakan sikap politik. Opini pribadi, yang sebelumnya harus lolos meja redaksi koran atau televisi, mulai mendapatkan porsinya dengan bebas dan muncul di lini masa media sosial.

Yuyun Wahyu Izzati Surya memotret fenomena tersebut dalam studi bertajuk "Gender Identity, Everyday Politics, and Social Media: Indonesian Female Millenials’ Social Media Activism" (2026). Ia merekam cara aktivis perempuan milenial memanfaatkan media sosial untuk menyuarakan isu politik lewat narasi kehidupan sehari-hari, yang diperkuat dengan unggahan teks, foto, dan video. Media sosial dalam konteks tersebut menjadi ruang bagi suara personal untuk masuk ke percakapan politik dan sosial yang lebih luas.

Pola tersebut berubah pada masa ketika Generasi Z tumbuh bersama media sosial. Bagi Gen Z, platform digital bukan lagi ruang alternatif yang baru ditemukan, melainkan bagian dari tempat mereka berinteraksi, membentuk identitas, dan mengekspresikan diri. Ekspresi sosial dan politik berlangsung dalam lingkungan yang sama dengan percakapan sehari-hari.

Karakteristik kebahasaan Gen Z terangkum dengan gamblang setela Veronika Deyanova Paoletti dan Nur Fathiyya Zahira Mujahidah menyisir puluhan riset tentang bahasa anak muda. Dari penelusuran terhadap 30 publikasi ilmiah sepanjang 2016-2024, mereka melihat slang sebagai salah satu penanda budaya Gen Z dan Gen Alpha.

Pada Gen Z, sejumlah istilah yang beredar berkaitan dengan ekspresi sosial dan politik. Sementara itu, penggunaan bahasa slang oleh Gen Alpha lebih banyak bersinggungan dengan budaya meme dan tren digital.

Istilah seperti woke, safe space, gaslighting, dan no cap, menunjukkan bahwa bahasa yang muncul di ruang digital tidak sekadar menjadi kosakata percakapan, tetapi juga membawa makna sosial tertentu. Pada fase itu, berbicara di ruang publik digital makin cair dan menjadi kebiasaan sehari-hari.

Jika Gen Z tumbuh ketika ruang digital sudah menjadi bagian dari kehidupan sosial, Gen Alpha tumbuh ketika ruang tersebut makin terbuka dan bersifat visual. TikTok, Instagram Reels, meme digital, dan berbagai bentuk komunikasi singkat lainnya, sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka. Konten dapat dibuat, dikomentari, diubah, dan disebarkan dalam waktu singkat.

Sebagaimana diterangkan oleh Ni Luh Putu Unix Sumartini dalam studinya, komunikasi di media sosial di era Gen Alpha sering kali melibatkan penggunaan bahasa yang singkat, informal, dan dipengaruhi oleh tren. Istilah seperti skibidi (kata seru dari fenomena meme video), rizz (daya pikat atau karisma), sigma (sosok mandiri dan keren), serta ohio (ungkapan untuk hal aneh atau luar biasa), menjadi contoh bahwa kosakata baru muncul dan menyebar melalui media sosial serta komunitas gim.

Pada titik itu, persoalannya bukan lagi mengenai ketersediaan ruang bicara. Sebab, ruang tersebut telah menjadi lingkungan komunikasi sehari-hari.

Bahkan dalam ekosistem digital yang serba visual, batas antara budaya populer anak-anak dan dinamika politik orang dewasa kian kabur karena dikonsumsi melalui platform yang sama.

Ilustrasi Influencer

Ilustrasi Influencer. FOTO/iStockphoto

Perpindahan ucapan dari ruang politik ke percakapan anak melalui sirkulasi digital tecermin dalam suatu kejadian setelah Presiden Prabowo Subianto berpidato pada HUT ke-17 Partai Gerindra di Bogor, 15 Februari 2025. Sebagaimana dikutip dari Kompas, dalam kesempatan itu, Prabowo mengapresiasi dukungan Joko Widodo atas kemenangannya, yang kemudian diiringi dengan seruan “Hidup Jokowi!”. Momen itulah yang kemudian viral di media sosial.

Jargon politik tersebut nyaris direproduksi secara spontan oleh seorang murid sekolah dasar dari generasi digital baru. Dilansir oleh Wartakota Live melalui kanal YouTube-nya, peristiwa itu terjadi saat Prabowo meresmikan LRT Jakarta Manggarai-Kelapa Gading pada 16 September 2026.

Di momen itu, seorang siswa yang ada di lokasi terdengar berulang kali mencoba meneriakkan kata “Hidup...”, dan hampir disusul dengan kata berikutnya: "Jokowi!". Namun, ucapan anak tersebut langsung terputus setelah diingatkan oleh kawan di sebelahnya, serta lehernya ditepuk secara spontan.

Meski tak utuh, fenomena tersebut sudah cukup membuktikan bahwa batasan antara kritik, ekspresi, dan refleks asbun anak-anak kiwari tidaklah hitam-putih. Penilaian kepantasan sebuah kalimat pada akhirnya bersifat relatif, sangat bergantung pada konteks situasi, pendengar, dan ruang tempat ucapan tersebut muncul.

Mencairnya batas-batas ruang percakapan tidak lepas dari evolusi media. Seperti diulas oleh Henry Jenkins dalam "Convergence Culture: Where Old and New Media Collide" (2006: 16-18), konvergensi media menandai perubahan budaya ketika konten bergerak melintasi berbagai platform dan khalayak secara aktif terlibat di dalamnya. Warganet tidak lagi pasif menonton, melainkan mengadopsi dua kebiasaan baru: budaya ikut serta (participatory culture) dan kecerdasan kolektif (collective intelligence).

Budaya partisipasi itu tampak nyata setiap kali sebuah tren meledak di media sosial. Pengguna, terutama dari kalangan Gen Alpha, tidak cuma mendengarkan atau menontonnya. Mereka mengambil audio/visual tersebut, merekam ulang, menambahkan konteks humor pribadi, dan membagikan kembali ke pengikut mereka. Melalui alur kreatif tersebut, batas antara pembuat dan penikmat media mengabur. Semua orang merasa berhak mengolah, mengubah, dan meramaikan narasi yang sedang beredar.

Hal serupa terjadi dalam pembentukan kecerdasan kolektif. Makna mengenai suatu istilah, meme, atau peristiwa, tidak lagi bertumpu pada satu sumber formal seperti kamus. Di ruang digital, seorang pengguna dapat menjelaskan asal-usul sebuah meme, pengguna lain menambahkan konteks dari komunitas gim, sementara yang lain memaparkan penerapannya dalam percakapan sehari-hari. Kepingan informasi dari lintas pengguna itu saling melengkapi, membentuk pemahaman utuh yang tidak cuma dimonopoli satu individu.

Pergeseran budaya itu menandai transformasi posisi khalayak secara radikal: dari penikmat pasif media massa, menjadi pengguna aktif yang rajin bersuara, hingga akhirnya berperan sebagai pembuat sekaligus penyebar informasi secara spontan. Transisi inilah yang memberi benang merah bagi pergerakan dari "era speak up" menuju fenomena asbun.

Banjir Informasi, Sempit Jeda Berpikir

Kemudahan berpartisipasi di ruang digital membuka akses bagi lebih banyak orang untuk bersuara. Dalam satu alur interaksi yang sama, seseorang dapat menjadi penonton, pengomentar, pembuat video, sekaligus penyebar informasi.

Namun, melimpahnya suara di ruang publik tidak otomatis berbanding lurus dengan kedalaman pemikiran. Di lingkungan digital yang bergerak cepat, pendapat direproduksi dan disebarkan dalam hitungan detik. Kehadiran video reaksi, opini spontan tanpa filter, dan potongan video pendek, membuat seseorang dengan mudah masuk ke dalam percakapan, sebelum sempat menguji kebenaran informasinya.

Dalam iklim komunikasi yang serba tergesa-gesa, waktu untuk mengedepankan logika dan fakta menjadi makin sempit. Gagasan yang meluncur ke publik berpotensi kehilangan bobot dan konteks ketika kecepatan menjadi tolok ukur utama peredaran informasi.

Atas dasar itu, label “asbun” tidak tepat jika semata-mata dihakimi sebagai krisis moral bawaan Generasi Alpha. Gejala tutur spontan tersebut merupakan konsekuensi logis dari iklim komunikasi yang menuntut keterlibatan terus-menerus secara instan.

Perbedaan pengalaman komunikasi antar-generasi tidak ditentukan oleh kadar kesopanan individu, melainkan oleh ekosistem media yang membentuk mereka sejak dini.

Generasi Milenial mengalami fase ketika ruang digital dicari sebagai saluran alternatif untuk bersuara. Generasi Z tumbuh saat ruang tersebut telah menyatu dengan kehidupan sehari-hari. Sementara itu, Generasi Alpha tumbuh ketika ruang digital sudah terbuka hampir setiap saat.

Dengan demikian, persoalannya bukan menilai pihak yang paling kritis atau yang paling sering asbun. Kondisi tempat suara itu diproduksi, beredar, dan dinilai, telah berubah. Dari mencari ruang, terbiasa menggunakan ruang, hingga hidup di dalam ruang yang selalu terbuka, cara generasi muda bersuara ikut berevolusi bersama media yang mereka gunakan.

Baca juga artikel terkait EKOSISTEM DIGITAL atau tulisan lainnya dari Rizqy M. Farhan

tirto.id - Horizon
Kontributor: Rizqy M. Farhan
Penulis: Rizqy M. Farhan
Editor: Fadli Nasrudin