tirto.id - Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Iklim, Hashim Djojohadikusumo, secara terbuka mengakui bahwa pendapatan dari bisnis minyak dan gas bumi (migas) yang ia jalani menjadi sumber utama pendanaan untuk membiayai berbagai kegiatan kampanye politik.
Hashim mengaku telah bergelut di industri bahan bakar fosil selama lebih dari tiga dekade. Ia mengonfirmasi bahwa sektor energi tersebut memberikan kontribusi finansial yang sangat besar bagi aktivitas politiknya.
Hashim sendiri merupakan adik dari Presiden ke-8 RI Prabowo Subianto. Ia juga menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra).
"Terus terang saja Bapak-Bapak senior, saya senang. Karena itu bidang saya Pak, energi Pak Hatta. Saya sudah 34 tahun bidang migas. Ya, saya bisa membiayai kampanye politik itu dari migas Pak. Terus terang saja," ujar Hashim di acara Investor Daily Summits 2026, di Raffles Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Selain menyinggung pendanaan politik, Hashim juga menyoroti lonjakan kebutuhan energi global seiring pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan pusat data (data center).
Menurutnya, fenomena new economy ini membutuhkan konsumsi daya listrik dalam jumlah sangat besar yang pada akhirnya memperpanjang usia industri migas dan pertambangan.
Situasi tersebut dinilainya memberikan keuntungan tersendiri bagi pelaku usaha di sektor energi fosil, sebab kekhawatiran akan meredupnya industri ini dapat tertunda.
"Terus terang saja saya sebagai pengusaha migas dan tambang senang. Karena bisnis saya akan bertahan lebih lama, tidak akan jadi sunset industry," katanya.
Kendati demikian, adik dari Presiden Prabowo Subianto ini menekankan bahwa tingginya konsumsi energi untuk teknologi modern membawa konsekuensi pada peningkatan emisi karbon.
Oleh karena itu, ia mendorong agar target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen tetap dijalankan dengan strategi yang berimbang, yakni memadukan kemajuan teknologi dan pertumbuhan ekonomi tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan hidup.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id






































