tirto.id - Hanagaki Takemichi, tokoh utama anime Tokyo Revengers, melakukan lompatan waktu mundur 12 tahun, dari 2017 ke 2005. Misinya adalah menyelamatkan mantan kekasihnya, Tachibana Hinata, dari cengkeraman geng kriminal Tokyo Manji pimpinan Sano Manjiro.
Namun, Manjiro alias Mikey yang dijumpai Takemichi pada 2005 sama sekali berbeda dari citra kejam. Ia justru merupakan pribadi yang ceria dan santai, kerap kali bersikap ksatria dan enggan menyiksa yang lebih lemah.
Suatu waktu, dalam agenda perbincangan santai di tepi sungai, Mikey mengenang almarhum kakaknya, Shinichiro, yang terpaut usia 10 tahun. Ia juga mengungkap bergesernya pandangan masyarakat Jepang terhadap dunia berandalan.
"Sekarang itu zamannya furyo [remaja berandalan] dibilang norak, 'kan? Di zaman abangku, di sekitar sini terdapat banyak bosozoku [geng motor]. Mereka mengitari daerah ini dengan membunyikan klakson. Mereka mengangkat bahu dan siku dengan berani. Walau kerjaannya cuma berantem, mereka menyelesaikan masalahnya sendiri." kata Mikey.
Dalam subkultur Jepang, Bosozoku adalah furyo yang mengekspresikan pemberontakannya lewat modifikasi sepeda motor dan konvoi jalanan.
Romantisasi Mikey soal bōsōzoku pada era sang kakak sebenarnya merupakan cerminan isi kepala Ken Wakui, mangaka pencipta Tokyo Revengers. Dalam wawancara dengan Le Monde, Wakui—mengaku sebagai furyo semasa muda—mengatakan sengaja memberikan kemampuan lompatan waktu kepada Takemichi agar bisa menggeser latar cerita ke masa lalu. Dengan demikian, ia bisa menyalurkan nostalgia pada era ketika furyo dan bōsōzoku masih memegang teguh garis panduan moral dan tak mau mengganggu warga sipil.
"Menjadi anggota geng, setidaknya pada zaman saya, lebih ke arah gaya hidup dan penampilan. Jika kami sampai berkelahi, itu dilakukan antar-furyo, bukan dengan warga biasa: terhadap mereka, kami tetap sopan dan hormat," tutur Wakui.
Bosozoku yang dikenang Wakui dalam Tokyo Revengers memang pernah mendominasi dunia jalanan Jepang selama beberapa dekade. Menurut laporanJapan Times, subkultur tersebut mengalami puncak popularitas pada 1980-an, meski kemudian mengalami degradasi pada awal 2000-an.
Hikayat Derum Pemberontakan Para Berandal Muda
Romantisasi Ken Wakui soal bōsōzoku dalam Tokyo Revengers tidak sepenuhnya mencerminkan realitas. Di luar gambaran sebagai "berandalan berhati kesatria", sejarah mencatat, jejak bōsōzoku di Jepang juga diisi dengan kriminalitas.
Sebagaimana ditulis Ikuya Sato dalam “Crime as Play and Excitement: A Conceptual Analysis of Japanese Bosozoku” (1982), kemunculan geng motor di Jepang bermula pada pertengahan 1950-an. Sekelompok pemuda yang mengidentifikasi diri sebagai otokichi (maniak sepeda motor) berkumpul karena kesamaan hobi. Belakangan, mereka dijuluki Kaminarizoku (Geng/Kelompok Guntur) karena bisingnya suara knalpot motor tanpa muffler yang dipakai.
Generasi awal itu umumnya adalah pemuda yang berasal dari keluarga kaya atau mereka yang berprofesi sebagai mekanik, mengingat harga sepeda motor masih relatif mahal. Kenakalan mereka masih sebatas pada pelanggaran lalu lintas dan aksi zigzag berkecepatan tinggi.
Pertengahan 1960-an, seiring pesatnya pertumbuhan ekonomi Jepang dan masifnya industri kendaraan bermotor, harga sepeda motor makin terjangkau. Kaminarizoku pun diminati oleh pemuda dari berbagai latar belakang sosial ekonomi. Muncullah istilah-istilah lain untuk menyebut kumpulan geng motor tersebut, seperti thrill-zoku, circuit-zoku, atau Mach-zoku.
Aksi-aksi Kaminarizoku di jalanan dan taman-taman sering menyedot kerumunan orang yang ingin menyaksikan atraksi mereka. Jumlahnya bisa ratusan hingga ribuan. Seiring waktu, hal itu justru memicu gesekan dengan warga sipil dan aparat.
Dalam Buku Putih Kepolisian Jepang disebutkan, kerusuhan yang pertama kali melibatkan geng motor terjadi di sekitar Menara TV Nagoya pada Mei 1969, ketika ribuan orang yang menonton aksi geng motor tersebut berubah: membalikkan mobil di jalanan.
Sementara itu, Sato mencatat, peristiwa terbesarnya adalah Insiden Toyama pada 1972. Lebih dari 3.000 massa terlibat dalam kerusuhan, yang beruntut penangkapan 1.104 orang.
Dari Insiden Toyama itulah media massa dan pihak kepolisian Jepang mulai menyebut geng motor itu secara seragam, sebagai bōsōzoku (geng motor liar), menggantikan istilah lama seperti kaminari-zoku atau circuit-zoku.
Insiden-insiden lain yang melibatkan bōsōzoku di seantero Jepang terus bermunculan. Namun, remaja yang terpikat oleh geng motor itu justru makin banyak.
Puncak kejayaan bosozoku terjadi pada era 1980-an seiring dengan melesatnya jumlah anggotanya. Pada 1973, angkanya masih di kisaran 12.500 orang. Namun, Sato mencatat, pada 1981, sudah ada 40.600 orang dengan lebih dari 750 kelompok. Setahun berselang, ada 42.500 remaja yang terlibat dalam bosozoku, jumlah terbanyak dalam sejarah geng motor tersebut.
Meningkatnya jumlah anggota geng berjalan beriringan dengan makin banyaknya pelanggaran hukum yang dilakukan. Para bōsōzoku tidak cuma berurusan dengan pelanggaran aturan lalu lintas, tetapi juga tindak pidana berat, seperti kekerasan dan urusan senjata tajam.
Kerasnya dunia bōsōzoku itu terngiang dalam ingatan Kazuhiro Hazuki, yang pernah jadi ketua Narashino Specter (salah satu kelompok bōsōzoku terbesar di Jepang) generasi ke-21. Kepada VICE, ia mengatakan, “Dunia bōsōzoku adalah tempat yang menakutkan. Anda harus memangsa sebelum dimangsa.”
Walau begitu, Hazuki mengaku, jika ada mesin waktu, dia akan tetap kembali ke masa-masa itu. "Jika kau pernah ada di bosozoku, memorinya tidak akan pernah pergi. Masa itu adalah hari-hari terbaik dalam hidupku," katanya.

Mengapa bōsōzoku, yang penuh darah dan mengancam nyawa, justru dikenang manis oleh para anggotanya?
Joachim Kersten dalam “Street Youths, Bosozoku, and Yakuza: Subculture Formation and Societal Reactions in Japan" (1993), menyebutkan bahwa daya tarik bōsōzoku tidak dapat dilepaskan dari benturan antara struktur sosial masyarakat modern Jepang dan pencarian identitas masa remaja.
Bōsōzoku diisi oleh anak muda usia 16 hingga 20 tahun. Di sekolah dan di rumah, mereka harus menghadapi aturan ketat soal cara berpakaian, gaya rambut, dan perilaku. Belum lagi tingginya tuntutan akademis. Rangkaian tekanan itu membuat sebagian remaja butuh mencari ruang ekspresi alternatif. Mereka memberontak: menjauh dari masyarakat sekaligus berupaya merebut kembali kontrol atas identitas diri. Kebanyakan diawali dengan merokok, datang terlambat ke kelas, tidur di rumah teman, ngelem, hingga salah satu ujungnya menjadi bōsōzoku.
Bagi mereka, bōsōzoku mampu membebaskan ekspresi diri. Rambut yang dicat, alis yang dicukur tajam, sampai jaket kehormatan dan "sakral" yang disebut tokko-fuku, memberikan mereka rasa bangga.
Di samping itu, bergabung dengan bōsōzoku membuat mereka merasa punya kawan senasib seperjuangan. Penerapan estetika setiap kelompok bōsōzoku yang ketat untuk tokko-fuku mereka, sebagai pembeda dengan kelompok lain, menciptakan ikatan kebersamaan nan solid.
Selain faktor identitas visual, daya pikat terbesar bōsōzoku terletak pada sensasi mengambil risiko. Konvoi ramai-ramai pada malam hari dengan kecepatan tinggi, raungan suara knalpot, serta aksi kejar-kejaran dengan polisi, menghadirkan dorongan adrenalin yang mustahil ditemukan dalam rutinitas harian mereka yang kaku.
Namun, kebebasan dan keliaran dalam dunia bōsōzoku hanya bersifat sementara. Sato mencatat, sebagian besar anggota bōsōzoku hanya aktif hingga maksimal usia 19 atau 20 tahun. Pada usia tersebut, kekhawatiran khas orang dewasa, seperti ditolak saat melamar kerja karena punya catatan kriminal, mulai membayangi mereka. Di titik itulah, para anggota bōsōzoku akan “pensiun”: meninggalkan memori indahnya hidup bebas, lalu memilih berkompromi dengan aturan masyarakat yang selama ini mereka lawan.
Senja Kala Bosozoku
Seiring dengan makin meresahkannya bōsōzoku, pemerintah mulai serius mengupayakan "pembasmiannya".
Demi menekan bōsōzoku, otoritas Jepang melakukan penegakan hukum yang ketat secara bertahap, dimulai dengan Revisi Undang-Undang Lalu Lintas Jepang pada 1978. Regulasi itu memperbolehkan polisi menindak pergerakan terkoordinasi beberapa kendaraan yang berpotensi menghambat lalu lintas.
Pergerakan bōsōzoku makin dipersempit dengan gerakan San Nai Undo (Gerakan Tiga Tidak) yang diterapkan sejak 1982. Pemerintah tidak mengizinkan siswa SMA mengambil SIM sepeda motor, membeli motor, dan mengendarai motor. Otomatis, hubungan remaja Jepang dan dunia sepeda motor terputus.
Pukulan berikutnya datang pada 2004 lewat revisi UU Lalu Lintas berikutnya. Dengan hukum baru tersebut, polisi punya kekuatan lebih untuk menindak mereka yang ugal-ugalan dalam mengemudi, tanpa perlu membuktikan adanya korban yang terancam bahaya. Hukuman dan denda juga ditingkatkan: penjara hingga dua tahun atau denda sebesar 500 ribu yen (sekitar Rp56 juta).
Kepolisian Nasional Jepang memberikan hantaman terakhir dengan mengklasifikasikan bōsōzoku sebagai boryokudan (kelompok kekerasan) sejak 2013. Merekatak lagi dianggap sebatas kenakalan remaja, tetapi sudah menjadi sindikat kriminal dengan hukuman berat yang siap menanti.
Di luar tekanan hukum, eksistensi bōsōzoku juga tergerus oleh faktor ekonomi dan pergeseran tren zaman. Memodifikasi sepeda motor dan memesan tokko-fuku kustom membutuhkan biaya besar, tak lagi terjangkau bagi sebagian besar remaja kiwari.
Hal itu senada dengan pendapat seorang pemilik bengkel sepeda motor di Nishihara dalam wawancara Okinawa Times. Menurutnya, generasi muda saat ini lebih menyukai sepeda motor kapasitas kecil yang tidak cocok untuk balap liar tetapi murah biaya perawatannya. Ia menyebut, "Rasanya mereka [generasi muda] lebih menghargai motor sebagai alat transportasi daripada untuk balap liar.”
Pada saat sama, kehadiran gim video, ponsel, dan internet, telah menjadi candu baru. Para remaja lebih memilih menghabiskan waktu dengan hobi di ruang digital. Daiji Nakaza perwakilan HOME, organisasi yang mendukung rehabilitasi anak-anak bermasalah, berkomentar, “Sekarang ada smartphone sehingga remaja bisa langsung terhubung dengan orang lain. Kesadaran para remaja telah berubah, daripada melakukan balap liar yang berisiko tinggi tertangkap, mereka lebih memilih bentuk hiburan lain."
Itulah yang membuat anggota bōsōzoku kian tergerus. Pada era 1990-an, Bosozoku tersisa 28.000 orang. Angkanya terus mengecil pada 2011 jadi 7.193 orang, dan berselang satu dasawarsa kemudian 4.579 saja yang bertahan.
Bahkan kini, menurut laporan Japan Times, saat ini, 90 persen pesanan tokko-fuku yang diterima toko ritel tempat ia bekerja, tidak ada hubungannya dengan geng motor. Pesanan itu datang dari masyarakat biasa, mulai dari penggemar produk budaya pop hingga orang yang ingin merayakan momen istimewa di keluarganya.
Dewasa ini, bōsōzoku masih ada. Namun, mereka makin surut dari jalanan. Manga Tokyo Revengers karya Ken Wakui, yang diserialisasikan dalam rentang 2017 hingga 2022, muncul sebagai monumen nostalgia jejak subkultur tersebut.
Dalam Tokyo Revengers, kisah yang dilalui Hanagaki Takemichi bersama Mikey dan geng Tokyo Manji penuh romantisasi. Bōsōzoku dicitrakan sebagai kelompok dengan ikatan persahabatan kuat. Mereka juga bersikap kesatria: hanya bertarung dengan sesama bōsōzoku, bukan dengan warga sipil. Sisi kelam geng motor tersebut “dikesampingkan”.
Namun, perjalanan Takemichi, dari seorang pria cengeng jadi pemberani dan penuh tanggung jawab, menyuguhkan uniknya bōsōzoku, yang pada era kejayaannya menjadi sarana bagi pencarian identitas dan pelepas dahaga kebebasan para remaja Jepang.
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id


































