tirto.id - Amerika Serikat punya Jeep Willys dan Wrangler, Inggris punya Land Rover dan Range Rover, sementara Jepang punya Toyota Land Cruiser. Semuanya adalah mobil tangguh yang mampu menaklukkan medan-medan sulit dan telah menjadi legenda dalam sejarah otomotif dunia.
Dari Rusia, ada juga mobil yang punya kemampuan serupa. Bentuknya jauh lebih kompak dan harganya pun jauh lebih murah. Mobil itu bernama Lada Niva.
Pada industri otomotif negara-negara komunis, mungkin yang sering terdengar adalah cerita-cerita miringnya. Kualitas yang buruk, model yang ketinggalan zaman, dan inovasi yang minim. Namun, Lada Niva adalah sebuah pengecualian. Modelnya mungkin ketinggalan zaman dan inovasi yang menyertainya juga tak banyak. Akan tetapi, soal kualitas, ia sangat bisa diadu.
Kisah Niva bermula dari sebuah perintah langsung. Pada 1971, Alexei Kosygin, Perdana Menteri Uni Soviet saat itu, meminta dua pabrikan mobil negara, AZLK dan AvtoVAZ, untuk menciptakan kendaraan off-road yang bisa menjangkau petani dan warga desa yang jauh dari hiruk pikuk Moskow. AvtoVAZ, pemilik merek Lada, akhirnya memenangi proyek tersebut.
Meski demikian, produksi massal mobil itu baru dimulai pada 1977, setelah setahun sebelumnya resmi diperkenalkan ke publik. Sejak awal kemunculannya, Niva sudah dirancang dengan bodi unibody. Sebuah keputusan yang cukup berani untuk ukuran kendaraan off-road pada masanya mengingat mayoritas pesaingnya masih menggunakan sasis tangga yang lebih berat dan lebih kaku. Bertahun-tahun kemudian, Jeep baru mengikuti konsep serupa lewat Cherokee.
Soal dapur pacu, Niva generasi awal dibekali mesin bensin 1.6 liter dengan tenaga 77 tenaga kuda, dipadukan transmisi manual empat percepatan yang belakangan diperbarui menjadi lima percepatan. Meski terdengar kecil, kombinasi gardan depan independen, per keong di keempat rodanya, transfer case low-range, dan diferensial tengah yang bisa dikunci membuatnya jadi kendaraan yang nyaris tak terhentikan di medan berat, mulai dari lumpur, salju, hingga bebatuan. Belakangan mesin 1.7 liter dan bahkan varian diesel 1.9 liter turut melengkapi jajaran kubikasi mesinnya.
Niva dirancang dengan sangat sederhana, tetapi itulah kekuatannya. Salah satu jurnalis dari Jalopnik yang sempat mencobanya langsung di Rusia menyebut bahwa, begitu masuk ke jalur off-road, Niva serasa dibuat khusus untuk orang yang bahkan tidak paham cara kerja sistem penggerak roda empat sekalipun, sebab semuanya "terasa naluriah". Tinggal arahkan, injak gas, dan Niva akan mencari jalannya sendiri keluar dari kubangan lumpur.

Karena harganya yang terjangkau dan kemampuannya yang mumpuni, Niva pun menyebar jauh melampaui batas Uni Soviet. Ia dilaporkan pernah menguasai lebih dari 40 persen pangsa pasar kendaraan 4x4 di Eropa pada masa kejayaannya. Bahkan, unit Niva juga pernah dipakai dalam Ekspedisi Antartika Soviet dan disebut-sebut sebagai mobil pertama yang bertahan lebih dari satu dekade di benua es tersebut.
Di Amerika Utara, Niva sempat menyusup secara diam-diam lewat pasar gelap, khususnya lewat perbatasan Kanada, dan menarik minat para penggemar off-road yang penasaran dengan rasa berkendara ala Blok Timur. Sampai sekarang pun, unit-unit lawas itu masih diimpor oleh sejumlah penggemar di Amerika Serikat lewat aturan impor kendaraan berusia minimal 25 tahun.
Perjalanan panjang Niva tentu tidak lepas dari gejolak politik dan ekonomi negara asalnya. Setelah runtuhnya Uni Soviet pada awal 1990-an, AvtoVAZ mulai membenahi sisi interior Niva. Mereka menghadirkan fitur modern seperti jok berpemanas, pemutar CD, dan power window, meski airbag tetap absen. Pada 2006, nama Niva bahkan sempat diganti menjadi "4x4" menyusul kerja sama antara AvtoVAZ dan General Motors.
Nama Niva baru resmi kembali digunakan pada 2021 lewat pengumuman resmi dari Rostec, induk usaha milik negara yang menaungi AvtoVAZ, dengan nama baru "Lada Niva Legend". Perubahan nama itu turut dibarengi pembaruan kecil, seperti ventilasi udara baru di pilar belakang yang berhasil menekan kebisingan kabin hingga 3,7 dBA saat akselerasi penuh. Rostec juga mengklaim Niva sebagai SUV pertama di dunia dengan bodi monokok dan sistem penggerak semua roda permanen yang dilengkapi kuncian diferensial tengah.
Produksi Niva akhirnya kembali berjalan pada Juli 2022, tapi dengan konsekuensi yang cukup pahit. Karena keterbatasan komponen impor, AvtoVAZ hanya mampu memproduksi varian tiga pintu dengan paket "Classic '22" yang justru lebih sederhana dari sebelumnya, tanpa airbag depan dan hanya menyediakan instalasi untuk dua speaker audio saja. Meski begitu, sisi mekanisnya tetap dipertahankan, lengkap dengan penggerak semua roda permanen, kuncian diferensial tengah, dan transfer case low-range seperti biasanya.
Terlepas dari tekanan sanksi, permintaan terhadap Niva rupanya tak surut. Pada Juni 2023 saja, tercatat lebih dari tiga ribu unit Niva Legend terjual di pasar domestik Rusia. Maxim Sokolov, CEO AvtoVAZ, bahkan kala itu menyatakan optimismenya bahwa Niva akan tetap eksis hingga merayakan ulang tahun emasnya pada 2027, lengkap dengan rencana pembaruan mesin yang lebih bertenaga meski tanpa opsi transmisi otomatis.
AvtoVAZ pun rupanya tak berhenti bereksperimen dengan Niva. Pada pertengahan 2025, mereka memperkenalkan Niva Sport Turbo, sebuah versi reli ekstrem yang dipersiapkan khusus untuk ajang Silk Way Rally di Rusia. Mesin 1,6 liter turbo di dalamnya mampu memuntahkan tenaga hingga 276 tenaga kuda dan torsi 340 Nm, jauh melampaui versi Niva Sport produksi massal yang hanya bertenaga 122 tenaga kuda. Ground clearance-nya pun ditingkatkan menjadi 350 mm, jauh lebih tinggi dibanding versi reguler.
Tak berhenti di situ, kabar terbaru pada Mei 2026 menyebutkan bahwa AvtoVAZ tengah menyiapkan generasi Niva yang benar-benar baru, terlihat dari sejumlah dokumen paten yang diajukan ke lembaga kekayaan intelektual Rusia. Desain barunya disebut mengambil inspirasi dari konsep Lada Niva Vision yang pertama kali diperkenalkan pada 2021. Proyek pembaruan total ini sempat terhenti usai kerja sama AvtoVAZ dengan Renault berakhir pada 2022, namun kini tampaknya kembali dilanjutkan.

Lantas, bagaimana dengan Indonesia? Ternyata, Lada sempat berniat masuk ke pasar otomotif Tanah Air. Rencana itu bahkan sudah disampaikan oleh Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia atau Gaikindo. Sayangnya, rencana tersebut harus tertunda akibat pandemi Covid-19 yang melanda dunia pada 2020, dan sampai saat ini belum ada kabar lanjutan soal kelanjutan niat tersebut.
Meski begitu, absennya Lada secara resmi di pasar Indonesia bukan berarti tak ada satu pun unit Niva yang sampai ke sini. Setidaknya ada dua unit Lada Niva yang diketahui eksis di Indonesia, sebagaimana terekam dalam unggahan di media sosial. Sayangnya, tidak banyak informasi lebih lanjut soal bagaimana persisnya kedua unit tersebut bisa sampai ke Indonesia, entah lewat jalur impor pribadi atau cara lain. Yang jelas, keduanya membuktikan bahwa keberadaan Niva pun bisa menjangkau negara-negara yang tak punya distributor resmi.
Selain itu, Niva juga sempat mendapat sorotan negatif dari sisi keselamatan. Pada 2002, program penilaian keselamatan ARCAP di Rusia memberikan nilai nol dari skala empat bintang untuk Niva, dengan satu-satunya catatan positif adalah bodinya yang tergolong kokoh.
Kendati demikian, sulit membantah bahwa Lada Niva adalah salah satu kendaraan off-road paling berpengaruh dalam sejarah otomotif dunia. Ia lahir dari kebutuhan yang sangat sederhana yaitu mengantarkan warga desa Soviet menembus medan yang tak ramah, namun kemudian berhasil bertahan hampir lima dekade lamanya tanpa banyak berubah dari wujud aslinya. Dengan rencana pembaruan besar-besaran yang tengah disiapkan AvtoVAZ dan ambisi untuk terus eksis melewati usia setengah abad, kisah Niva tampaknya masih jauh dari kata selesai.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id


































