tirto.id - Satu per satu, resep warisan leluhur yang kaya rasa mulai kehilangan panggungnya. Keberadaannya tergerus oleh laju zaman dan kepraktisan kuliner modern.
Tidak hanya formula masakan purba yang hilang, situasi ini menunjukkan bahwa identitas bangsa perlahan-lahan meredup menuju sunyi.
Ancaman Putusnya Generasi Penerus
Founder Nusa Gastronomi, Mei Batubara, mengatakan sejumlah resep tradisional Nusantara terancam hilang karena pengetahuan memasak tidak selalu diteruskan kepada generasi berikutnya.
Temuan mengejutkan dari Nusa Gastronomi, bahkan mengungkapkan sekitar 80 persen pelaku kuliner tradisional mengaku anak-anak mereka enggan meneruskan warisan memasak tersebut.
Ketika Bahan Baku dan Ilmu Memasak Lenyap
Kondisi diperah oleh hilangnya resep yang disebabkan bahan yang berimbas pada pengetahuan memasak yang ikut hilang.
"Yang pertama adalah bahannya hilang. Yang kedua pengetahuannya hilang," kata Mei, dalam sesi talkshow mengenai resep warisan Nusantara, di Kopikina Kemang, Jumat (07/08/26).
Mei mencontohkan, rendang 120 daun yang menggunakan 120 jenis daun. Dalam riset tersebut, seorang ibu hanya mendapatkan 55 jenis daun setelah mencari selama dua hari. Menurut Mei, hutan yang dahulu dekat dengan rumah penduduk kini semakin jauh.
Lebih dari Sekadar Resep: Merawat Budaya Makan

Mei menilai persoalan resep tidak hanya berkaitan dengan makanan, tetapi juga budaya makan masyarakat.
"Jadi bukan makanannya, bukan tentang resepnya, tapi tentang budaya makannya," ujar Mei.
Tantangan Warisan Lisan dan Praktik Langsung
Penulis Memasak Harapan, Dewi Kharisma Michellia, mengatakan pengetahuan di Nusantara juga diwariskan melalui praktik dan lisan. Dewi mencontohkan pengetahuan yang diperoleh melalui proses belajar secara langsung.
"Pengetahuan yang terwariskannya pun ya dari bagaimana sentuh, atau dari lisan, dari pengetahuan yang verbal saja," ujar Dewi.
Dewi juga mengatakan pencatatan sejarah mengenai perubahan pewarisan pengetahuan masih perlu digali.
"Pelacakan sejarah tentang transisi-transisi inilah yang sebetulnya perlu kita gali lagi," katanya.
Penulis: Putri Az Zahra
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id

































