Menuju konten utama

Pembiayaan EV Multifinance Naik 34,67%, Tembus Rp26,20 T

Kinerja moncer pembiayaan EV ini berbanding terbalik dengan total penyaluran pembiayaan kendaraan bermotor konvensional.

Pembiayaan EV Multifinance Naik 34,67%, Tembus Rp26,20 T
Ilustrasi motor listrik - ANTARA FOTO/Arif Firmansyah/foc.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Penyaluran pembiayaan untuk kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) oleh perusahaan multifinance mencatatkan kinerja positif. Tren ini terjadi di tengah lesunya penyaluran pembiayaan kendaraan bermotor secara keseluruhan.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Agustus 2026, pembiayaan kendaraan listrik dan hibrida naik pesat sebesar 34,67 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Total penyaluran pembiayaan di sektor ini telah menembus angka Rp26,20 triliun.

Kinerja moncer pembiayaan EV ini berbanding terbalik dengan total penyaluran pembiayaan kendaraan bermotor konvensional. Industri multifinance mencatat pembiayaan kendaraan bermotor secara umum justru mengalami kontraksi sebesar 0,68 persen (yoy) menjadi Rp403,02 triliun.

Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML) OJK, Agusman, menyampaikan bahwa pembiayaan kendaraan listrik kini menjadi salah satu pendorong utama ekspansi bisnis perusahaan pembiayaan.

"Dapat kami sampaikan bahwa pembiayaan kendaraan listrik oleh multifinance atau perusahaan pembiayaan terus tumbuh dan menjadi salah satu area ekspansi," kata Agusman dalam konferensi pers RDKB OJK, Senin (5/10/2026).

Secara umum, kinerja industri pembiayaan atau multifinance nasional masih mencatatkan tren positif. Hingga Agustus 2026, total piutang pembiayaan tumbuh 1,68 persen secara tahunan (yoy) hingga mencapai Rp514,08 triliun.

​

Di sisi lain, tingkat risiko industri multifinance relatif terkendali. Risiko kredit bermasalah (non-performing financing/NPF) gross berada di level 3,04 persen dengan NPF net sebesar 0,83 persen, sementara gearing ratio tercatat aman di angka 2,04 kali, jauh di bawah ambang batas maksimal 10 kali.

​

Layanan pembiayaan berbasis digital seperti buy now pay later (BNPL) juga melaju kencang dengan lonjakan sebesar 36,57 persen (yoy) menjadi Rp13,61 triliun, didampingi tingkat NPF gross sebesar 3,03 persen.

​OJK memproyeksikan pertumbuhan industri multifinance berada di kisaran 2 hingga 4 persen sampai penghujung tahun 2026. Target tersebut dipasang dengan mempertimbangkan tantangan ketidakpastian ekonomi global yang turut memicu penurunan penjualan kendaraan bermotor serta melambatnya pembiayaan di sektor investasi.

Baca juga artikel terkait KENDARAAN LISTRIK atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Flash News
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Andrian Pratama Taher