Menuju konten utama

Saat Asap Karhutla Merenggut Nyawa Seorang Ojol di Palembang

Kisah tragis Hardiansyah, ojol di Palembang yang wafat setelah sesak napas akibat kabut asap karhutla.

Saat Asap Karhutla Merenggut Nyawa Seorang Ojol di Palembang
Keluarga Seorang ojol di Palembang meninggal dunia diduga akibat terpapar asap karhutla. FOTO/Irwanto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Dua unit tenda masih berdiri di muka rumah yang beralamat di Lorong Mataram, RT 01, RW 01, Kelurahan Kemas Rindo, Kertapati, Palembang pada Sabtu (3/10/2026). Silih berganti ucapan belasungkawa dan doa dari pelayat dihaturkan pada keluarga.

Duka mendalam masih menyelimuti Rika Yunita Sari (39) selepas meninggalnya sang suami, Hardiansyah (41). Almarhum menghembuskan napas terakhir usai mengeluh sesak berat yang diduga akibat terpapar asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Di dalam rumah, ibu dua orang anak itu masih dirundung kesedihan. Matanya sembab karena selalu menangis ketika menatap pernikahan.

Rika tak menyangka suaminya berpulang dalam usia relatif sangat muda. Terlebih almarhum adalah tulang punggung keluarga dengan profesi sebagai pengemudi ojek dan angkutan online.

Rika menuturkan, tidak ada perilaku mencurigakan dari almarhum sebelum meninggal dunia. Pada Jumat (2/10/2026), dia dan almarhum masih salat Subuh dalam keadaan segar bugar.

Saat siap-siap bekerja menarik orderan, pukul 08.00 WIB, almarhum mengeluh sesak napas yang hebat dan meminta istrinya untuk mengerok tubuhnya. Selang beberapa menit kemudian, badan almarhum membiru. Panik, keluarga langsung membawanya ke RSUD Bari Palembang menggunakan mobil.

Dalam perjalanan, napas Hardiasnyah semakin berat. Setelahnya, terdengar jelas suara mengi dari yang sering dan berulang-ulang.

Namun begitu tiba di rumah sakit, almarhum sudah lemas sehingga buru-buru masuk ke ruang IGD. Dokter yang memeriksa menyatakan nyawa korban tak dapat diselamatkan.

"Suami saya meninggal begitu tiba UGD, waktu digotong sudah lemas. Dokter yang memeriksa menyatakan sudah meninggal dunia," ungkap Rika saat ditemui Tirto, Sabtu (3/10/2026).

Tanpa ada pemeriksaan lanjutan, keluarga segera membawa jenazah ke rumah duka. Sore harinya, jenazah dimakamkan di tempat pemakaman umum Lebak Gelam Palembang.

Kesehatan Menurun Sejak Terpapar Karhutla

Ojol Meninggal AKibat Karhutla

Rumah duka ojol meninggal dunia diduga akibat terpapar asap, Sabtu (3/10/2026). FOTO/Irwanto

Rika mengakui suaminya memiliki riwayat asma sejak kecil tetapi jarang kambuh. Kesehatannya menurun drastis ketika ada karhutla yang terjadi tak jauh dari kediamannya pada 15 September 2026.

Ketika itu, almarhum mengeluh sesak napas tetapi dia kembali beraktivitas seperti biasa ketika sudah sembuh setelah minum obat. Sejak saat itulah, almarhum mengeluhkan kesehatannya.

"Pulang kerja sesak napas, dia bilang banyak sekali asap di jalanan," kata Rika.

Rika menyebut, suaminya masih beraktivitas seperti biasa sejak pagi sebelum kondisinya memburuk. Namun, keberadaan kabut asap turut memengaruhi aktivitas almarhum.

Rika mengakui suaminya memiliki riwayat asma sejak kecil. Karena riwayat penyakit itu, almarhum selalu menggunakan masker ketika keluar rumah untuk mencari nafkah sebagai pengemudi ojol sejak pagi hingga sore hari dan kadang lanjut ke malam harinya.

Rika mengatakan, asma yang diderita almarhum selama ini tidak begitu parah dan sering. Penyakitnya itu bisa sembuh dengan cepat hanya dengan minum obat dan nebu di rumah.

Namun penyakit itu sering kambuh sejak kabut asap muncul selama dua bulan terakhir. Almarhum bahkan sempat berhenti kerja sementara menunggu situasi membaik tetapi rencananya batal karena dia hanya mengandalkan nafkah sebagai pengemudi ojol.

"Sudah lama tidak kambuh, sejak musim asap ini baru sering sesak napas, batuk-batuk" kata Rika.

Rika mengaku, keluarganya juga merasakan kondisi asap yang cukup tebal di sekitar rumah. Namun, rumah yang mereka tempati tidak memiliki plafon di sebagian besar bagian rumah. Akibatnya, asap lebih mudah masuk dan ikut mencemari udara di dalam rumah.

"Memang asap itu tebal, karena rumah tidak ada plafon, cuma kamar saja yang ada plafon,” kaya dia.

Pemerintah Diharap Segera Atasi Karhutla Cegah Korban Bertambah

Ojol Meninggal AKibat Karhutla

Keluarga Seorang ojol di Palembang meninggal dunia diduga akibat terpapar asap karhutla. FOTO/Irwanto

Meski ISPA baru menjadi dugaan penyebab kematian almarhum, Rika berharap pemerintah segera menanggulangi karhutla di Sumsel. Dia tak ingin ada ada korban-korban lain akibat terpapar asap.

"Kami sudah jadi korban, kami sudah merasakannya. Jangan sampai ada korban-korban lain, cukup kami saja," kata Rika.

Ayah mertua almarhum, Yunadi (68), mengaku tak menyangka akan kepergian menantu untuk selamanya. Pada malam sebelum kejadian, mereka sempat menonton pertandingan Timnas Indonesia melawan Banglades di rumahnya.

Ketika itu, tidak ada tanda-tanda mencurigakan dari almarhum. Almarhum sesekali batuk dan dianggap keluarga hal biasa mengingat kualitas udara memburuk.

"Malam Jumat itu kami nonton bola bareng, tidak ada yang aneh-aneh, cuma almarhum sesekali batuk," kata Yunadi.

Yunadi mengaku kaget kematian menantunya diduga karena terpapar ISPA menjadi perhatian banyak pihak. Cerita ini terungkap dari curhatan cucunya atau anak bungsu almarhum di media sosial kemarin.

Cucunya hanya ingin melampiaskan emosinya terhadap kinerja pihak terkait dalam penanganan karhutla di Sumsel yang menimbulkan asap. Hanya saja, hingga saat ini belum satu pun perwakilan pemerintah yang datang berkunjung untuk menggali informasi terkait kematian almarhum.

"Namanya juga anak muda, tidak ada tempat curhat dan ternyata jadi viral, apalagi lagi musim asap seperti ini. Tapi sampai sekarang belum ada pemerintah yang menghubungi kami atau datang ke rumah," kata Yunadi.

Respons BPBD Sumsel

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel, M Iqbal Alisyahbana, mengaku belum mendapat informasi terkait kematian seorang warga Palembang yang diduga terpapar asap karhutla. Dia berencana segera mencari tahu kebenaran kabar itu.

"Segera kita cari tahu," kata Iqbal.

Iqbal mengatakan, satgas terus melakukan pemadaman karhutla baik melalui darat maupun udara. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) gencar dilakukan di lokasi rawan dan terdapat awan potensial.

"Tak kenal lelah, tak kenal menyerah, setiap waktu dan medan, tim satgas terus memadamkan karhutla yang terjadi di Sumsel," kata Iqbal.

Berdasarkan pantauan satelit, masih terdapat hotspot dan karhutla di Sumsel. Pada Sabtu (3/10/2026), tercatat ada 2.426 hotspot dan terbanyak berada di Ogan Komering Ilir dengan 1.564 titik.

Sementara karhutla pada 2 Oktober 2026, terdapat 70 kejadian yang tersebar di sejumlah kabupaten dan kota di provinsi itu. Sementara kualitas udara di Sumsel dalam kategori sedang hingga berbahaya.

"Kualitas udara di wilayah Palembang memang terpantau masuk level berbahaya, pagi tadi saja PM2.5 tercatat hampir menyentuh angka 500," kata Iqbal.

Baca juga artikel terkait KARHUTLA atau tulisan lainnya dari Irwanto

tirto.id - News Plus
Kontributor: Irwanto
Penulis: Irwanto
Editor: Siti Fatimah