tirto.id - Akhir tahun lalu, dunia kehilangan salah satu ilmuwan terpenting dalam bidang primatologi atau studi tentang primata. Namanya Jane Goodall. Pelopor etologi primata asal Inggris tersebut wafat pada usia 91 tahun di Amerika Serikat pada 1 Oktober 2025.
Goodall mulai mempelajari primata di bawah bimbingan pasangan paleoantropologis, Louis dan Mary Leakey, pada akhir dekade 1950-an, ketika usianya hendak menginjak pertengahan 20-an. Sejak itu, perempuan kelahiran 1934 itu tak pernah berpaling. Selama enam dasawarsa, hidupnya didedikasikan untuk cabang studi yang meneliti perilaku primata.
Salah satu temuan terpenting Goodall tentu saja berkaitan dengan primata. Pada awal 1960-an, ketika sedang meneliti perilaku simpanse di Taman Nasional Gombe, Tanzania, perempuan yang sepanjang hayatnya telah menulis 32 buku itu mendapati seekor simpanse menelan daun aspilia secara utuh. Namun, waktu itu, ia belum mengetahui manfaat daun tersebut bagi simpanse.
Baru 36 tahun berselang, pada 1996, ahli biologi Michael Huffman menemukan alasannya. Ketika itu, ada seekor simpanse yang sedang mengalami konstipasi akibat infeksi parasit. Simpanse tersebut kemudian mengunyah daun dari tumbuhan yang biasanya dihindari. Dan ternyata, sehari kemudian, simpanse tersebut sudah sembuh.
Artinya, sesuatu yang disaksikan Goodall pada 1960 merupakan petunjuk penting, bahwa simpanse cukup cerdas untuk mengobati dirinya sendiri.
Namun, simpanse bukan satu-satunya hewan yang melakukan hal itu. Ada banyak hewan yang punya pengetahuan untuk mengobati luka serta penyakitnya secara alami.
Salep-Luka Alami Temuan Orang Utan
Salah satu spesies yang mampu mengobati dirinya sendiri, selain simpanse, adalah hewan asli Indonesia, orang utan.
Pada Juni 2022, tim peneliti di Suaq Balimbing, Taman Nasional Gunung Leuser, melihat seekor orang utan jantan bernama Rakus yang terluka di pipi kanannya. Karena sebelumnya sempat mendengar teriakan panjang antarpejantan, mereka menyimpulkan bahwa Rakus terluka usai berkelahi.
Tiga hari kemudian, pada 25 Juni, Rakus mulai memakan batang dan daun liana bernama akar kuning atau Fibraurea tinctoria—tanaman tersebut jarang disentuh orang utan di sana, dengan tingkat konsumsi hanya sekitar 0,3 persen dari diet hewan tersebut.
Tiga belas menit lamanya Rakus mengonsumsi tumbuhan itu, sampai akhirnya dia mulai mengunyah daunnya tanpa ditelan. Lalu, "jus" dari kunyahan daun itu ia ambil dengan jari, lalu dioleskan ke luka di pipinya. Sesudah itu, ia melepeh daunnya, yang sudah menjadi semacam "bubur", lantas digunakannya untuk menutup seluruh luka sampai daging merahnya tak lagi tampak.
Lima hari kemudian, luka di pipi Rakus sudah tertutup. Lalu kira-kira sebulan berselang, pada 19 Juli, yang tersisa hanya bekas luka tipis.
Tumbuhan yang digunakan Rakus untuk mengobati lukanya itu, usut punya usut, juga bermanfaat bagi manusia. Penduduk Asia Tenggara sudah lama menggunakan akar kuning untuk mengobati disentri, diabetes, dan malaria. Setelah dianalisis, akar kuning diketahui mengandung senyawa yang bersifat antibakteri, antiradang, serta antijamur. Maka, masuk akal jika tumbuhan tersebut mampu mengobati luka sang orangutan.
Meski demikian, para peneliti mengingatkan sejumlah keterbatasan dalam pengamatan tersebut. Pertama, mereka tidak punya bukti foto dan video saat Rakus mengobati dirinya sendiri. Kedua, mereka tidak memiliki izin mengambil sampel tumbuhan sehingga identifikasi dilakukan lewat foto yang dicocokkan dengan herbarium—koleksi sampel tumbuhan yang diawetkan untuk keperluan riset. Ketiga, selama 21 tahun, atau kurang lebih 28 ribu jam, para peneliti baru kali itu melihat seekor orang utan mengobati dirinya sendiri dengan akar kuning.
Oleh karena itu, para peneliti pun memilih untuk tidak mengategorikan perilaku Rakus sebagai kebiasaan umum orang utan. Pemimpin studi, Dr. Isabelle Laumer, menduga, "Mungkin, awalnya dia tidak sengaja menyentuh luka dengan jari yang berlumur kunyahan tumbuhan. Karena tumbuhan itu ternyata bisa meredakan rasa sakit, dia kemudian mengoleskannya berulang-ulang ke pipinya."
Meski, barangkali, itu bukan tindakan umum orang utan, tingkah laku Rakus menunjukkan bahwa dirinya memiliki kemampuan deduksi mumpuni. Jika dugaan Dr. Laumer benar, sang orang utan sukses menyimpulkan manfaat medis dari akar kuning hanya dalam waktu singkat.
Kecerdasan seperti itu memang umum terlihat pada primata, termasuk simpanse yang ada di Hutan Budongo, Uganda. Di hutan tersebut, tim peneliti Universitas Oxford menyisir catatan-catatan yang dibuat selama lebih dari tiga dekade. Hasilnya, ditemukan 23 kasus pengobatan mandiri oleh para simpanse. Metodenya pun variatif, mulai dari menjilat luka, menepuk luka dengan daun, sampai menempelkan hasil kunyahan tumbuhan ke bagian luka.
Selain itu, ada empat kasus unik: simpanse mengobati individu lain. Salah satunya ditunjukkan oleh perilaku seekor simpanse betina muda mengunyah daun, lalu menempelkannya ke luka ibunya. Peneliti menduga tanaman itu adalah Alchornea floribunda atau niando. Sama seperti akar kuning di Asia Tenggara, di Afrika, niando digunakan dalam pengobatan tradisional untuk mengobati penyakit berbasis bakteri, jamur, parasit, dan peradangan.
Dr. Elodie Freymann selaku ketua tim peneliti menyebut, perilaku simpanse betina itu merupakan bukti lain bahwa simpanse memang punya kapasitas berempati.
Yang Bisa Mengobati Diri Sendiri Bukan Cuma Primata
Salah satu contoh uniknya adalah kupu-kupu monarch. Hewan tersebut bahkan melakukan hal yang lebih canggih dari "sekadar" mengobati diri sendiri. Mereka mampu mencegah infeksi parasit pada keturunannya dengan cara bertelur di tumbuhan bernama milkweed. Dari situ, telur menetas, lalu lahirlah ulat-ulat cikal bakal kupu-kupu yang memakan daun tumbuhan tersebut. Nah, daun itu mengandung zat yang beracun bagi parasit, tetapi aman untuk dikonsumsi ulat-ulat itu, sehingga mereka sudah aman dari infeksi parasit sejak sebelum bermetamorfosis menjadi kupu-kupu.
Lebah madu pun memiliki siasat tersendiri. Sejumlah peneliti di AS menemukan koloni lebah yang terpapar jamur penyebab penyakit kapur (chalkbrood). Lebah-lebah tersebut mengumpulkan lebih banyak resin tumbuhan yang ternyata digunakan di dalam sarangnya untuk menekan populasi jamur. Jika diibaratkan manusia, mereka bergotong royong mengumpulkan zat yang berguna mengenyahkan sumber penyakit dari dalam rumah.
Ada pula kisah soal gajah Afrika. Temuannya berasal dari studi yang melibatkan wawancara dengan delapan pakar lokal dari komunitas Sabaot, termasuk pemandu (scout), pensiunan jagawana, dan tetua desa. Mereka melaporkan adanya 35 spesies tumbuhan yang diduga digunakan oleh gajah untuk mengobati diri sendiri. Salah satunya adalah Angurweet. Masyarakat setempat biasa menggunakannya sebagai obat sakit perut dan rupanya gajah pun melakukannya.
Gajah-gajah tersebut, menurut kesaksian pemandu, mengunyah daunnya sampai halus beserta akar dari sejumlah pohon lain. Tak cuma itu, pemandu yang sama juga bertutur bahwa Angurweet dicampurkan oleh induk gajah dengan susu mereka. Caranya, mereka mengunyah daun itu sampai halus, lalu memberikannya ke anak-anaknya.
Huffman, yang dimintai pendapatnya oleh BBC soal studi itu, menyebut hasil temuan tersebut sebagai sesuatu yang "menggugah". Akan tetapi, dia mengingatkan agar kisah-kisah itu diperkuat dengan bukti-bukti lain. Dan para ilmuwan yang menerbitkan studi tadi pun sepakat. Mereka berencana menggunakan pengetahuan para pakar lokal tersebut sebagai semacam peta untuk mengamati aktivitas para gajah secara lebih lanjut.
Namun, asal usul pengetahuan hewan soal tanaman yang bermanfaat belum benar-benar bisa dijawab. Pada simpanse, para ilmuwan menduga itu berkaitan dengan pengamatan. Bahwasanya individu-individu muda mengamati perilaku para "sesepuh" atau induk, lalu menirunya.
Dugaan lain dari pakar ekologi Mark Hunter adalah seleksi alam:
Manusia, sebagai organisme dengan kecerdasan paling kompleks dan maju, mampu menyerap perilaku hewan-hewan di alam bebas lalu menirunya. Dari masa Romawi Kuno, misalnya, ada sebuah catatan dari filsuf bernama Pliny, sebagaimana dikutip oleh The Conversation, yang menuliskan bahwa manusia memanfaatkan dittany (oregano liar) untuk mengobati luka panah setelah melihat rusa jantan yang terkena panah memakan tumbuhan tersebut. Belakangan, baru diketahui bahwa dittany punya sifat antiseptik dan antiradang.
Contoh serupa pun masih banyak lagi dan berasal dari berbagai macam peradaban. Ada peradaban Mesir Kuno, peradaban Eropa di Abad Pertengahan, sampai peradaban Islam.
Bicara soal peradaban Islam, itu ada kaitannya dengan perilaku Rakus. Ilmuwan abad ke-14 bernama Ibnu Abdulrahim, yang menulis Buku tentang Kegunaan Hewan-hewan, mencatat bahwa kambing liar melakukan hal serupa, yakni mengoleskan kunyahan makanannya ke luka. Bedanya, yang dimakan kambing-kambing liar itu adalah lumut gambut (sphagnum), yang bersifat antibakteri.
Dari sini bisa disimpulkan bahwa pengamatan pada perilaku hewan mengobati diri merupakan upaya mencari pengobatan terbaik bagi manusia. Terlepas dari cara seekor hewan "menyimpulkan" kegunaan suatu tanaman, apabila ada manfaat yang nyata, bisa jadi hal itu punya kegunaan serupa bagi manusia.
Sebagaimana dikatakan oleh Dr. Freymann kepada BBC, ada banyak obat yang kita beli di apotek sumbernya berasal dari pepohonan, ganggang, jamur, maupun terumbu karang. Maka dari itu, dia mengingatkan, "Melindungi hutan dan menjaga apotek alami itu akan mendatangkan banyak manfaat. Suatu hari nanti, dari sana kita akan bisa menemukan produk alam baru yang bisa menyelamatkan nyawa kita di kemudian hari."
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id



































