Menuju konten utama

Zoochosis, Perilaku Berontak Satwa Menolak Habitat Palsu

Manusia merebut ruang hidup satwa. Lalu, manusia membuatkan rumah baru untuk mereka, tanpa menyadari bahwa sebenarnya rumah itu adalah penjara.

Zoochosis, Perilaku Berontak Satwa Menolak Habitat Palsu
Header Mozaik Konflik Manusia dengan Macan. tirto.id/Fuad
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Di hutan belantara Ekuador yang lembap dan liar, berdiri El Idilio, desa kecil yang menjadi batas rapuh antara manusia dan alam purba. Sungai adalah satu-satunya jalur hidup di sana, mengalirkan kabar, logistik, bahkan kematian. Kedamaian di sana tak pernah utuh. Dari hulu, peradaban merangsek masuk: ladang minyak, demam emas, dan perburuan liar yang mengoyak hutan. Alam pun mulai melawan.

Di tengah kekacauan itu, hidup seorang lelaki tua yang baru mengenal huruf di usia senja. Namanya Antonio José Bolívar Proaño. Hanya kata-kata yang menjadi pelariannya dari sepi dan luka. Ia mencoba merajut kembali dunianya yang runtuh dengan membaca novel cinta picisan yang dibawa oleh dokter gigi keliling.

Namun, Antonio bukan sekadar pendatang. Ia pernah hidup bersama suku Shuar yang eksentrik dan belajar tentang hukum rimba; mengenali bisikan angin, jejak lumpur, dan jeritan sunyi hutan. Pengetahuannya lahir dari pengalaman, bukan eksploitasi.

Suatu hari, seorang pria ditemukan tewas, tubuhnya tercabik. Pejabat walikota korup yang membenci hutan menyalahkan suku Shuar. Akan tetapi, Antonio tahu lebih dalam. Luka-luka itu seolah berbicara bahwa pelakunya bukan manusia, melainkan induk macan kumbang. Di tubuh korban, ada kulit dua anak macan. Seorang pemburu asing telah membunuh anak-anak macan, mungkin juga melukai pasangannya.

Bagi pendatang, macan itu monster. Bagi Antonio, ia adalah ibu yang berduka. Balas dendamnya bukan amukan tanpa tujuan, melainkan insting alamiah akibat kehilangan. Namun, pada akhirnya Antonio terpaksa dengan berat hati memburu macan tersebut, atas nama keselamatan manusia.

Kisah tersebut berasal dari novel Luis Sepúlveda berjudul Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta (2005). Namun, ia bukan sekadar fiksi, melainkan alegori tentang perlawanan alam terhadap dunia buatan kita.

Cerita fiksi memang sering kali berkaca dari peristiwa di dunia nyata. Benar saja, konflik alam melawan manusia sering kali mengakibatkan stres parah bagi satwa liar. Di Indonesia, konflik tersebut pernah terjadi di Lembang Park and Zoo, Bandung Barat. Seekor macan tutul Jawa berusia sekitar 3,5 tahun berhasil kabur dari kandang karantina pada akhir Agustus 2025.

Bagi macan tutul (dan satwa liar lain), kandang karantina bukanlah tempat perlindungan. Itu adalah penjara yang asing dan menekan. Pihak pengelola kebun binatang dan BBKSDA secara terbuka menyatakan dugaan kuat pemicu pelariannya, yakni stres; stres akibat adaptasi di lingkungan baru yang sempit, penuh aroma dan suara manusia yang asing, serta terputus dari semua naluri alaminya.

Pemberontakan dari Balik Jeruji "Penjara Hewan"

Fenomena pelarian hewan dari penangkaran bukanlah hal baru. Berbagai insiden serupa telah tercatat dan dikenal luas. Salah satu yang paling tragis adalah kisah Harambe, gorila silverback berusia 17 tahun di Kebun Binatang Cincinnati, AS.

Pada 28 Mei 2016, seorang anak laki-laki berusia tiga tahun jatuh ke dalam kandang Harambe. Setelah itu, anak tersebut mesti mengalami 10 menit yang genting. Harambe mendekatinya, tapi tampak protektif, bahkan memegang tangannya.

Nahasnya, teriakan panik dari para pengunjung lain membuat gorila seberat 200 kg itu makin gelisah dan bingung. Harambe mulai menampakkan tindakan agresif, menyeret anak itu ke dalam parit. Dihadapkan pada situasi yang mustahil dan mengkhawatirkan nyawa sang anak, tim respons kebun binatang membuat keputusan memilukan: menembak mati Harambe.

Tragedi Harambe bukan tentang menyalahkan orang tua, anak, atau bahkan pihak kebun binatang. Namun pada dasarnya, penangkaran menciptakan ilusi kontrol. Lalu, ketika batas antara dunia manusia dan dunia satwa itu dilanggar secara tak terduga, ilusi itu hancur.

Respons Harambe yang kompleks—campuran antara keingintahuan, perlindungan, dan agitasi—disalahpahami dalam kepanikan, dengan konsekuensi yang fatal. Kisahnya adalah pengingat yang menyakitkan bahwa kita tidak akan pernah bisa sepenuhnya merekayasa atau mengendalikan alam.

Ilustrasi Zoochosis

Ilustrasi Zoochosis. foto/istockphoto

Jauh sebelumnya, ada kisah Ken Allen, orang utan Kalimantan dari Kebun Binatang San Diego, yang dikenal sebagai “The Hairy Houdini”. Tidak seperti Harambe dan macan Lembang, pelarian Ken Allen yang berulang kali di pertengahan ‘80-an tampaknya tidak didorong oleh stres akut, melainkan oleh sesuatu yang lebih mencengangkan: kecerdasan murni dan penolakan terhadap kebosanan.

Ken Allen belajar membuka baut, menggunakan alat seperti linggis yang ditinggalkan pekerja, bahkan tampak menipu para penjaga yang mengawasinya. Yang paling luar biasa, setelah berhasil keluar, ia tidak pernah melarikan diri jauh. Ia hanya berjalan-jalan santai di sekitar kebun binatang, menatap hewan-hewan lain seolah-olah ia adalah pengunjung, sebelum akhirnya dengan tenang digiring kembali ke kandangnya.

Kebun binatang menghabiskan lebih dari 40.000 dolar untuk menyewa pemanjat tebing profesional guna mengidentifikasi setiap celah di kandangnya dan memperkuat keamanannya. Namun, Ken Allen selalu menemukan cara baru.

Pelariannya bukanlah sebuah pencarian kebebasan, melainkan sebuah bentuk pernyataan bahwa pikiran yang cerdas dan ingin tahu tidak dapat dipenjarakan oleh dinding beton. Ia menolak kebosanan, keterbatasan stimulasi mental, dan kemiskinan lingkungan yang ditawarkan kepadanya.

Kisah-kisah di atas, bersama dengan banyak insiden lainnya, menyoroti kerentanan infrastruktur penangkaran, membentuk sebuah pola yang tak terbantahkan. Mereka mengungkapkan bahwa kesejahteraan hewan jauh lebih kompleks daripada sekadar kesehatan fisik.

Penangkaran tidak hanya membatasi tubuh; ia menekan pikiran, meredam emosi, dan merampas agensi. Setiap pelarian, setiap tindakan tak terduga, adalah sebuah pengingat bahwa panggilan kebebasan tidak akan pernah bisa sepenuhnya dibungkam.

Membedah Stres di Dalam Penangkaran

Pada 1992, salah satu pendiri Born Free Foundation, Bill Travers, menciptakan istilah untuk menggambarkan manifestasi dari penderitaan psikologis dalam penangkaran: zoochosis. Sebutan itu merujuk pada perilaku stereotip, gerakan berulang tanpa tujuan atau fungsi jelas yang sering diamati pada hewan di penangkaran.

“Di setiap kebun binatang yang saya kunjungi saat menyusun Laporan Zoochotic, saya menyaksikan semacam perilaku tidak normal,” tutur Traves, dikutip laman resmi Born Free Foundation.

Studi yang terbit di Journal of Wildlife and Biodiversity (2022) mendefinisikan perilaku tersebut sebagai gejala gangguan mental yang sebanding dengan obsessive-compulsive disorder (OCD) pada manusia.

Bentuk zoochosis bisa beragam dan berbeda-beda untuk setiap spesies. Seekor harimau atau beruang biasanya mondar-mandir tanpa henti di sepanjang jalur yang sama. Seekor gajah cenderung terus-menerus bergoyang atau menganggukkan kepala. Jerapah acapkali menjulurkan lidah dan menjilati atau menggigit jeruji kandang. Sementara itu, seekor primata menunjukkan perilaku ini dengan memuntahkan makanannya lalu memakannya kembali. Dalam kasus ekstrem, ini bisa berkembang menjadi perilaku melukai diri sendiri, seperti mencabuti bulu hingga botak atau menggigit anggota tubuh sendiri.

Para ilmuwan spesialis perilaku hewan melihatnya sebagai mekanisme koping, upaya yang salah arah dari otak untuk mengatasi lingkungan yang miskin stimulasi, monoton, dan penuh tekanan yang tidak dapat dihindari.

Tingkah hewan-hewan tersebut merupakan manifestasi fisik dari frustrasi karena tidak dapat mengekspresikan pola perilaku alami yang telah terpatri dalam gen mereka, seperti berburu, menjelajah wilayah yang luas, mencari makan, atau berinteraksi sosial secara kompleks.

Ketika energi mental dan fisik tidak tersalurkan, ia tumpah menjadi gerakan-gerakan repetitif yang tragis. Nahasnya, penderitaan itu tidak hanya bersifat psikologis; ia meninggalkan jejak yang terukur secara fisiologis.

Stres kronis memicu pelepasan hormon kortikosteroid secara terus-menerus. Penelitian yang dilakukan di kebun binatang, salah satunya Brookfield Zoo di Chicago, menunjukkan bahwa konsentrasi hormon tersebut, yang dapat diukur dari sampel feses, berkorelasi positif yang kuat dengan frekuensi perilaku stereotip, seperti mondar-mandir dan melukai diri sendiri.

Tingkat stres yang tinggi secara berkelanjutan dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan fisik, menekan sistem kekebalan tubuh, mengganggu fungsi reproduksi, serta pada akhirnya memperpendek harapan hidup hewan di penangkaran.

Ilustrasi Zoochosis

Ilustrasi Zoochosis. foto/istockphoto

Artinya, ketika mengunjungi kebun binatang dan melihat seekor hewan menunjukkan perilaku zoochotic, kita tidak sedang menyaksikan pemandangan yang aneh atau lucu, melainkan bahasa tubuh dari penderitaan mental. Kita sedang melihat bukti nyata kegagalan lingkungan buatan, “habitat palsu” yang secara aktif menyebabkan kerusakan psikologis.

Jeruji paling kejam tidak terbuat dari besi, melainkan jeruji tak kasat mata yang dibangun dari kebosanan, keputusasaan, dan ketiadaan makna. Itu adalah jeritan internal yang dieksternalkan, tanda bahwa jiwa liar di dalamnya menolak menyerah pada kekosongan.

Ketika Hutan Makin Sempit

Penderitaan di dalam kebun binatang adalah babak terakhir dari cerita yang dimulai jauh di luar temboknya, di hutan-hutan yang makin menyusut. Padahal, hutan lebat merupakan lingkungan ideal bagi macan tutul dan satwa liar lainnya, selain kecocokan pola makan, perawatan kesehatan, dan kontrol gangguan di penangkaran.

Rantai sebab-akibatnya jelas dan tak terbantahkan. Semuanya dimulai dari perusakan dan fragmentasi habitat. Hutan-hutan dibabat untuk membuka lahan perkebunan, pertambangan, permukiman, dan infrastruktur.

Menurut berbagai kajian, ekspansi lahan yang tak terkendali ini tidak hanya mempersempit ruang hidup satwa, tetapi juga memutus koridor vital yang mereka gunakan untuk bergerak, mencari makan, dan menemukan pasangan.

Konsekuensi berikutnya adalah kelangkaan sumber daya. Ketika hutan menyusut, populasi hewan mangsa, seperti rusa, babi hutan, dan kancil, juga ikut menurun. Hal itu tak bisa dihindari berdampak pada predator puncak yang kehilangan sumber makanan.

Ilustrasi Zoochosis

Ilustrasi Zoochosis. foto/istockphoto

Didorong oleh kelaparan dan keputusasaan, para predator puncak terpaksa memberanikan diri keluar dari sisa-sisa hutan dan masuk ke wilayah manusia untuk mencari sumber makanan alternatif, seperti ternak atau anjing. Penelitian ilmiah secara konsisten menunjukkan hubungan kausal yang kuat: penurunan kualitas habitat secara langsung meningkatkan frekuensi konflik manusia dan satwa liar.

Krisis iklim makin memperburuk situasi itu. Perubahan pola cuaca mengganggu ketersediaan air dan makanan, memaksa manusia dan hewan untuk bersaing di wilayah yang kian sempit.

Di sinilah siklus tragis itu mencapai puncaknya. Saat datang ke permukiman, satwa predator puncak tidak dilihat sebagai korban, melainkan ancaman.

Dalam banyak kasus, solusi yang diambil adalah memindahkannya ke lembaga konservasi ex-situ (di luar habitat asli), seperti kebun binatang atau pusat penyelamatan satwa. Dengan demikian, kebun binatang, dalam konteks ini, berfungsi sebagai “ruang gawat darurat” ekologis yang terus-menerus menerima pasien baru.

Kita menghancurkan rumah mereka di hutan. Lalu, ketika mereka yang kehilangan rumah muncul di halaman belakang kita, kita menangkap dan memenjarakan mereka di rumah baru yang kita ciptakan.

Baca juga artikel terkait SATWA LIAR atau tulisan lainnya dari Ali Zaenal

tirto.id - TirtoEco
Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Fadli Nasrudin