Menuju konten utama
Edusains

Bukan Gajah yang Tersesat, tapi Manusia yang Salah Tempat

Setelah manusia merebut ruang yang jadi rute migrasi gajah, mereka mengalah, menyepi, dan beringsut dalam gelap. Tapi tetap saja gajah jadi korban.

Bukan Gajah yang Tersesat, tapi Manusia yang Salah Tempat
Anak Gajah Tertabrak Truk di Malaysia, Minggu (11/05). Anak gajah yang tertabrak mati beradaa di bawah truk. FOTO/Instagram

tirto.id - Seekor anak gajah tewas mengenaskan usai tertabrak truk di KM 80 ruas Gerik–Jeli, Jalan Raya Timur-Barat, Perak, Malaysia. Sang induk terlihat tidak beranjak dari tubuh anaknya yang terbujur kaku di kolong truk. Ia terlihat linglung dan berusaha mencari anaknya yang tak bernyawa.

Adegan memilukan ini tergambar dalam video viral yang disebarluaskan di berbagai media sosial. Video tersebut merekam salah satu konflik antara manusia dan satwa liar. Tentu ada banyak kejadian lain yang sebenarnya tak terpotret kamera.

Kejadian tragis ini menyoroti akar persoalan lebih besar, yaitu rusaknya habitat alami hewan akibat konversi lahan berlebihan. Konversi lahan yang tidak terkendali membuat satwa liar kehilangan habitatnya, termasuk gajah.

Gajah mau tidak mau harus berebut tempat dengan manusia dan akhirnya kalah. Menurut World Wildlife Fund (WWF), populasi gajah di Asia telah menurun hingga 50 persen sejak awal 1900-an.

Saat ini, sekitar 50.000 ekor gajah Asia tersebar di tiga belas negara, dan sekitar 2.400 ekor berada di Pulau Sumatra. Namun, menurut data International Union for the Conservation of Nature (IUCN), sebanyak 69 persen habitat gajah di Sumatra telah hilang akibat deforestasi selama 25 tahun terakhir.

Salah satu alasan terbesar kematian gajah adalah konflik dengan manusia. Meningkatnya kematian gajah di kawasan permukiman manusia ini semakin mengundang tanya. Sebagai misal, kematian anak gajah pada video di atas terjadi karena tertabrak truk di area jalan tol Perak, Malaysia. Pertanyaannya, apakah gajah yang keliru memilih jalur atau manusia yang keliru membangun lajur?

Pertanyaan ini menjadi relevan di tengah masifnya ekspansi manusia terhadap ruang hidup satwa liar. Pembukaan lahan berskala besar hingga deforestasi untuk kepentingan permukiman dan pembangunan infrastruktur transportasi berlanjut tanpa perencanaan ekologis memadai. Aktivitas ini tidak hanya menggerus ruang hidup satwa, tetapi juga memicu konflik antara manusia dan satwa liar.

Jumlah gajah jinak di PKG Seblat Bengkulu

Kondisi dua ekor gajah sumatera (Elephas Maximus Sumateranus) jinak di Pusat Konservasi Gajah (PKG) Seblat di Kabupaten Bengkulu Utara, Bengkulu, Senin (12/5/2025) ANTARA FOTO/Muhammad Izfaldi/bar

Praktisi konservasi dari World Wide Fund for Nature (WWF), Wawan Ridwan, menjelaskan bahwa ketika pohon ditebang dan habitat satwa dirusak, perilaku satwa berubah. "Itulah kenapa banyak gajah hingga harimau keluar ke kebun masyarakat," ujarnya Wawan lewat Biodiversity Warriors.

Insiden tragis ini bukan yang pertama. Sebelumnya, seekor gajah Sumatra betina ditemukan dalam kondisi tak bernyawa pada 31 Desember 2023 di kawasan Seblat, Indonesia. Lokasi penemuan tersebut berada di kawasan Hutan Negara yang sejak tahun 2021 telah dialihfungsikan melalui pemberian Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Padahal, area tersebut diketahui sebagai salah satu jalur migrasi penting bagi kawanan gajah liar yang hidup di wilayah tersebut.

Mengingat konflik antara manusia dan gajah sering terjadi, kita wajib menelaah lebih lanjut tindakan manusia yang kerap merusak habitat satwa liar. Meski banyak Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) menyuarakan kepedulian pada konservasi gajah yang kehilangan jalur migrasinya, pembangunan infrastruktur di jalur migrasi gajah tetap dilakukan.

Keajaiban Memori Spasial Gajah

Gajah kerap menjadi kambing hitam atas insiden kecelakaan yang berujung tragis bagi spesiesnya sendiri. Tak jarang, mereka dianggap menyerobot wilayah manusia karena melintasi permukiman atau jalan umum. Namun, narasi ini patut ditinjau ulang karena luput dari persoalan yang lebih kompleks dan historis.

Perlu dicatat bahwa gajah bukan sekadar hewan besar yang berkeliaran tanpa arah. Faktanya, gajah dikenal sebagai hewan dengan daya ingat luar biasa. Dalam artikel berjudul "Memory-Based Navigation in Elephants: Implications for Survival Strategies and Conservation" yang terbit di Veterinary Sciences, dijelaskan bahwa gajah memiliki kemampuan memori spasial kuat.

Mereka mampu mengingat lokasi-lokasi penting seperti sumber air, makanan, hingga jalur migrasi aman yang telah mereka jelajahi selama puluhan bahkan ratusan tahun. Caranya, gajah yang lebih tua biasanya memimpin perjalanan berdasarkan ingatan kolektif kawanan, sementara yang lebih muda akan mengikuti jejak tersebut sebagai bagian dari mekanisme bertahan hidup.

Penelitian tersebut menggugurkan pandangan yang menganggap bahwa gajah yang bersalah menyerobot wilayah manusia. Nyatanya, bukan gajah yang menyerobot wilayah manusia, melainkan manusia yang membangun area di atas jalur ekologis gajah. Jalur tersebut sudah lebih dahulu menjadi area migrasi mereka selama bertahun-tahun.

Di sisi lain, gajah secara sadar menunjukkan perilaku menghindari risiko saat melewati wilayah yang telah digunakan manusia, sebagaimana dikutip dari Frontiers in Conservation Science. Untuk menghindari kontak langsung dengan manusia, kawanan gajah memilih bermigrasi pada malam hari, waktu yang dinilai lebih aman dan minim interaksi dengan manusia.

Namun, justru inilah ironinya. Anak gajah yang tewas dalam insiden viral di ruas Gerik, Jeli, Malaysia, tertabrak truk pada pukul 02.50 dini hari. Waktu tersebut merupakan momen lazim bagi gajah untuk bermigrasi diam-diam. Mereka sebisa mungkin menghindari kehadiran manusia.

Peristiwa ini sungguh tragis. Meskipun gajah secara sadar menghindari manusia, risiko tetap menghampiri mereka, bahkan di jalur yang sudah mereka kompromikan.

Maka itu, narasi menyalahkan gajah atas meningkatnya insiden kecelakaan di permukiman manusia selayaknya tidak dibenarkan.

Sebab kenyataannya, gajah bukan hanya sadar akan kehadiran manusia, tetapi juga aktif beradaptasi demi menghindari konflik dengan manusia.

Mereka mengalah, menyepi, dan beringsut dalam gelap saat bermigrasi demi menghindari konflik.

Gajah Juga Berduka

Peristiwa tragis kematian anak gajah di ruas jalan Gerik, Malaysia, memantik gelombang simpati dari publik maya. Namun, simpati ini tidak hanya dipicu kenyataan bahwa peristiwa tersebut adalah akibat pembangunan manusia yang merampas habitat alami gajah.

Lebih dari itu, perhatian publik juga tertuju pada perilaku sang induk yang terus berada di sekitar lokasi kejadian, seolah menolak meninggalkan tubuh anaknya yang tak bernyawa.

Dalam video yang beredar luas tersebut, induk gajah mondar-mandir di sisi truk, menggerakkan, menyentuh, dan bahkan seperti berusaha menyelamatkan anaknya di bawah kolong truk. Gambaran yang sangat emosional.

Anak Gajah Tertabrak Truk di Malaysia

Anak Gajah Tertabrak Truk di Malaysia, Minggu (11/05). Anak gajah yang tertabrak mati beradaa di bawah truk. FOTO/Instagram

Bagaimanapun, gajah adalah salah satu hewan yang memiliki empati tinggi. Penelitian berjudul "Do Elephants Show Empathy?" yang terbit di Journal of Consciousness Studies menganalisis perilaku gajah selama lebih dari 35 tahun. Para peneliti mendokumentasikan bahwa gajah mampu mengenali makhluk hidup lain, memahami tujuan dan kebutuhan mereka, serta merespons kondisi emosional mereka.

Hal ini menunjukkan bahwa gajah tidak hanya memiliki ingatan memori spasial kuat, tetapi juga kapasitas empati mendalam, termasuk terhadap penderitaan makhluk hidup lain.

Berdasarkan latar belakang tersebut, tangisan sang induk gajah bukan sekadar respons naluriah hewani, melainkan bentuk ekspresi berduka dari makhluk yang telah kehilangan darah dagingnya sendiri.

Tragedi ini menegaskan satu hal penting: pembangunan yang mengabaikan keberadaan makhluk lain tidak hanya menghancurkan ekosistem, namun juga merobek ikatan emosional bagi makhluk hidup lain.

Baca juga artikel terkait GAJAH atau tulisan lainnya dari D'ajeng Rahma Kartika

tirto.id - Edusains
Kontributor: D'ajeng Rahma Kartika
Penulis: D'ajeng Rahma Kartika
Editor: Irfan Teguh Pribadi