tirto.id - Seekor anak gajah tewas mengenaskan usai tertabrak truk di KM 80 ruas Gerik–Jeli, Jalan Raya Timur-Barat, Perak, Malaysia. Sang induk terlihat tidak beranjak dari tubuh anaknya yang terbujur kaku di kolong truk. Ia terlihat linglung dan berusaha mencari anaknya yang tak bernyawa.
Adegan memilukan ini tergambar dalam video viral yang disebarluaskan di berbagai media sosial. Video tersebut merekam salah satu konflik antara manusia dan satwa liar. Tentu ada banyak kejadian lain yang sebenarnya tak terpotret kamera.
Gajah mau tidak mau harus berebut tempat dengan manusia dan akhirnya kalah. Menurut World Wildlife Fund (WWF), populasi gajah di Asia telah menurun hingga 50 persen sejak awal 1900-an.
Saat ini, sekitar 50.000 ekor gajah Asia tersebar di tiga belas negara, dan sekitar 2.400 ekor berada di Pulau Sumatra. Namun, menurut data International Union for the Conservation of Nature (IUCN), sebanyak 69 persen habitat gajah di Sumatra telah hilang akibat deforestasi selama 25 tahun terakhir.
Salah satu alasan terbesar kematian gajah adalah konflik dengan manusia. Meningkatnya kematian gajah di kawasan permukiman manusia ini semakin mengundang tanya. Sebagai misal, kematian anak gajah pada video di atas terjadi karena tertabrak truk di area jalan tol Perak, Malaysia. Pertanyaannya, apakah gajah yang keliru memilih jalur atau manusia yang keliru membangun lajur?
Pertanyaan ini menjadi relevan di tengah masifnya ekspansi manusia terhadap ruang hidup satwa liar. Pembukaan lahan berskala besar hingga deforestasi untuk kepentingan permukiman dan pembangunan infrastruktur transportasi berlanjut tanpa perencanaan ekologis memadai. Aktivitas ini tidak hanya menggerus ruang hidup satwa, tetapi juga memicu konflik antara manusia dan satwa liar.

Praktisi konservasi dari World Wide Fund for Nature (WWF), Wawan Ridwan, menjelaskan bahwa ketika pohon ditebang dan habitat satwa dirusak, perilaku satwa berubah. "Itulah kenapa banyak gajah hingga harimau keluar ke kebun masyarakat," ujarnya Wawan lewat Biodiversity Warriors.
Insiden tragis ini bukan yang pertama. Sebelumnya, seekor gajah Sumatra betina ditemukan dalam kondisi tak bernyawa pada 31 Desember 2023 di kawasan Seblat, Indonesia. Lokasi penemuan tersebut berada di kawasan Hutan Negara yang sejak tahun 2021 telah dialihfungsikan melalui pemberian Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Mengingat konflik antara manusia dan gajah sering terjadi, kita wajib menelaah lebih lanjut tindakan manusia yang kerap merusak habitat satwa liar. Meski banyak Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) menyuarakan kepedulian pada konservasi gajah yang kehilangan jalur migrasinya, pembangunan infrastruktur di jalur migrasi gajah tetap dilakukan.
Keajaiban Memori Spasial Gajah
Gajah kerap menjadi kambing hitam atas insiden kecelakaan yang berujung tragis bagi spesiesnya sendiri. Tak jarang, mereka dianggap menyerobot wilayah manusia karena melintasi permukiman atau jalan umum. Namun, narasi ini patut ditinjau ulang karena luput dari persoalan yang lebih kompleks dan historis.
Perlu dicatat bahwa gajah bukan sekadar hewan besar yang berkeliaran tanpa arah. Faktanya, gajah dikenal sebagai hewan dengan daya ingat luar biasa. Dalam artikel berjudul "Memory-Based Navigation in Elephants: Implications for Survival Strategies and Conservation" yang terbit di Veterinary Sciences, dijelaskan bahwa gajah memiliki kemampuan memori spasial kuat.
Mereka mampu mengingat lokasi-lokasi penting seperti sumber air, makanan, hingga jalur migrasi aman yang telah mereka jelajahi selama puluhan bahkan ratusan tahun. Caranya, gajah yang lebih tua biasanya memimpin perjalanan berdasarkan ingatan kolektif kawanan, sementara yang lebih muda akan mengikuti jejak tersebut sebagai bagian dari mekanisme bertahan hidup.
Penelitian tersebut menggugurkan pandangan yang menganggap bahwa gajah yang bersalah menyerobot wilayah manusia. Nyatanya, bukan gajah yang menyerobot wilayah manusia, melainkan manusia yang membangun area di atas jalur ekologis gajah. Jalur tersebut sudah lebih dahulu menjadi area migrasi mereka selama bertahun-tahun.
Di sisi lain, gajah secara sadar menunjukkan perilaku menghindari risiko saat melewati wilayah yang telah digunakan manusia, sebagaimana dikutip dari Frontiers in Conservation Science. Untuk menghindari kontak langsung dengan manusia, kawanan gajah memilih bermigrasi pada malam hari, waktu yang dinilai lebih aman dan minim interaksi dengan manusia.
Peristiwa ini sungguh tragis. Meskipun gajah secara sadar menghindari manusia, risiko tetap menghampiri mereka, bahkan di jalur yang sudah mereka kompromikan.
Maka itu, narasi menyalahkan gajah atas meningkatnya insiden kecelakaan di permukiman manusia selayaknya tidak dibenarkan.
Sebab kenyataannya, gajah bukan hanya sadar akan kehadiran manusia, tetapi juga aktif beradaptasi demi menghindari konflik dengan manusia.
Gajah Juga Berduka
Peristiwa tragis kematian anak gajah di ruas jalan Gerik, Malaysia, memantik gelombang simpati dari publik maya. Namun, simpati ini tidak hanya dipicu kenyataan bahwa peristiwa tersebut adalah akibat pembangunan manusia yang merampas habitat alami gajah.
Lebih dari itu, perhatian publik juga tertuju pada perilaku sang induk yang terus berada di sekitar lokasi kejadian, seolah menolak meninggalkan tubuh anaknya yang tak bernyawa.
Dalam video yang beredar luas tersebut, induk gajah mondar-mandir di sisi truk, menggerakkan, menyentuh, dan bahkan seperti berusaha menyelamatkan anaknya di bawah kolong truk. Gambaran yang sangat emosional.

Bagaimanapun, gajah adalah salah satu hewan yang memiliki empati tinggi. Penelitian berjudul "Do Elephants Show Empathy?" yang terbit di Journal of Consciousness Studies menganalisis perilaku gajah selama lebih dari 35 tahun. Para peneliti mendokumentasikan bahwa gajah mampu mengenali makhluk hidup lain, memahami tujuan dan kebutuhan mereka, serta merespons kondisi emosional mereka.
Hal ini menunjukkan bahwa gajah tidak hanya memiliki ingatan memori spasial kuat, tetapi juga kapasitas empati mendalam, termasuk terhadap penderitaan makhluk hidup lain.
Berdasarkan latar belakang tersebut, tangisan sang induk gajah bukan sekadar respons naluriah hewani, melainkan bentuk ekspresi berduka dari makhluk yang telah kehilangan darah dagingnya sendiri.
Tragedi ini menegaskan satu hal penting: pembangunan yang mengabaikan keberadaan makhluk lain tidak hanya menghancurkan ekosistem, namun juga merobek ikatan emosional bagi makhluk hidup lain.
Penulis: D'ajeng Rahma Kartika
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id





































