tirto.id - Video viral di media sosial memperlihatkan induk gajah yang diam dan tidak beranjak dari lokasi anaknya yang ditabrak truk di Kilometer 80 Jalan Raya Timur-Barat Gerik-Jeli (JRTB), Malaysia, Minggu (11/5/2025) pukul 02.50 dini hari waktu setempat. Sejumlah pertanyaan pun muncul, apakah gajah punya persaaan dan bagaimana perilakunya saat berduka?
Kepala Polisi Distrik Gerik, Inspektur Zulkifli Mahmood, menjelaskan bahwa menurut penyidikan seekor anak gajah tiba-tiba muncul dari hutan di sisi kiri jalan dan berniat untuk menyeberang. Namun sopir yang melaju tidak dapat memberhentikan kendaraan tepat waktu dan menabrak anak gajah malang itu hingga mati di tempat.
Tidak lama setelah insiden itu, seekor induk gajah menjadi gelisah dan menerjang truk tersebut. Dalam video yang menuai simpati warganet tersebut, ia berusaha menyelamatkan anaknya. Saat tahu anaknya sudah tak bergerak, ia pun diam di lokasi hingga berjam-jam sambil menyenderkan kepalanya ke sisi truk seolah-olah sedang meratapi kepergian anaknya.
Zulkifli menambahkan bahwa sopir truk tidak terluka. Setelah itu, polisi menghubungi Departemen Taman Nasional dan Satwa Liar Perak untuk melakukan evakuasi. Petugas berhasil membius induk gajah untuk mengendalikan situasi. Induk gajah tersebut kemudian dipindahkan ke dalam hutan.
Setelah kejadian itu, sebuah video viral yang direkam oleh pengguna jalan setempat memperlihatkan bahwa induk gajah itu kembali lagi ke lokasi tempat anaknya ditabrak. Hal tersebut sukses membuat banyak orang yang melihatnya ikut merasakan kesedihan sang induk gajah.
Apakah Gajah Punya Perasaan?
Gajah merupakan hewan dengan kecerdasan tinggi, mereka memiliki perasaan dan kepribadian yang unik. Dikutip dari laman Sheldrick Wildlife Trust, gajah bisa merasakan bahagia atau sedih.
Mereka bahkan bisa menjadi nakal dan senang bermain-main dengan anggota keluarga atau kawanan yang tidak berbahaya. Gajah diajari disiplin sejak usia yang sangat muda oleh induk mereka. Hewan ini tahu rasa iri dan cemburu, bisa mengamuk dan menyimpan dendam atas ketidakadilan yang dirasakan, seperti halnya manusia.
Sesuai dengan kata pepatah bahwa “gajah tidak pernah lupa”, World Animal Protector mencatat, gajah Asia dapat mengingat rangsangan mana yang menghasilkan penghargaan bahkan setelah delapan tahun.
Gajah Afrika juga memiliki ingatan jangka panjang, terutama untuk panggilan khusus individu yang mereka gunakan untuk berkomunikasi. Gajah juga mengenali panggilan anggota keluarga yang meninggalkan kawanannya 12 tahun yang lalu.
Mengingat gajah adalah hewan yang sangat cerdas dan emosional, tidak mengherankan jika mereka mengingat pengalaman traumatis dan bahkan mengalami mimpi buruk.
Sebagai contoh, di panti asuhan gajah di Afrika, anak gajah muda yang mengalami trauma, seperti menyaksikan keluarganya dibunuh dan gadingnya dicabut oleh pemburu liar, sering kali terbangun dengan berteriak dan atau mengeluarkan suara tanda bahaya di malam hari.
Bagaimana Perilaku Gajah Saat Berduka?
Clock’s Timeless Pets melaporkan, ketika bayi gajah mati, induknya akan mengangkatnya dengan belalainya. Ia kemudian meletakkannya di area di mana anak gajah itu tertutup oleh puing-puing tanah seperti ranting, tongkat, dan tanah. Anggota kawanan betina lainnya akan membantu dalam ritual ini.
Setelah selesai, anggota kawanan lainnya akan bergabung dengan sang induk untuk memberikan penghormatan. Ini adalah salah satu dari banyak ritual kematian yang indah di dunia hewan. Penelitian telah mendokumentasikan bahwa induk gajah, baik di alam liar maupun di tempat perlindungan, diketahui berjaga-jaga dan berduka selama berhari-hari.
Jodi Piccult dalam bukunya berjudul Leaving Time yang dirilis pada 14 Oktober 2014 menjelaskan tentang berbagai penemuan dari para peneliti mengenai perilaku gajah dan kawanannya ketika mereka menemukan sisa-sisa bangkai gajah yang telah mati.
Diketahui bahwa gajah memiliki ritual kesedihan yang rumit, sama seperti manusia. Jika seekor gajah menemukan tulang belulang gajah lain, ia akan diam dan menghormati. Ekor dan telinganya akan terkulai.
Mereka akan mengambil tulang-tulang tersebut dan menggulungnya di bawah kaki belakang mereka. Gajah juga akan kembali ke tempat meninggalnya anggota kawanannya dan memberikan penghormatan selama bertahun-tahun.
Penulis: Balqis Fallahnda
Editor: Elisabet Murni P
Masuk tirto.id





























