Menuju konten utama

Badan Karantina RI Bangun Laboratorium di Cilacap dan Waingapu

Pembangunan laboratorium menjadi salah satu program prioritas yang tengah dijalankan oleh Badan Karantina Nasional.

Badan Karantina RI Bangun Laboratorium di Cilacap dan Waingapu
Kepala Badan Karantina Indonesia Abdul Kadir Karding memberikan keterangan pers usai pemusnahan 312 ton Meat Bone Meal (MBM) asal Brasil yang terdeteksi mengandung porcine, di PT Prasadha Pamunah Limbah Industri (PPLI), Kabupaten Bogor, Rabu (22/7/2026). tirto.id/Nanda Surya
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kepala Badan Karantina Indonesia, Abdul Kadir Karding, menyatakan pembangunan laboratorium menjadi salah satu program prioritas yang tengah dijalankan lembaganya. Saat ini, Badan Karantina sedang membangun dua laboratorium baru di Jawa Tengah dan Nusa Tenggara Timur (NTT), serta mengupayakan revitalisasi laboratorium yang sudah ada.

“Ya, kalau karantina ini memang salah satu fokusnya program prioritas saya ini, salah satu adalah revitalisasi dan pembangunan laboratorium. Jadi, memang segala upaya kita lakukan untuk memperbaiki dan membangun laboratorium,” kata Karding saat konferensi pers di PT PPLI, Kabupaten Bogor, Rabu (22/7/2026).

Karding mengatakan proses pembangunan laboratorium saat ini telah berjalan di dua daerah.

“Sekarang kita sedang proses pembangunan laboratorium di dua provinsi, di Jawa Tengah, di Cilacap, dan di NTT, Waingapu. Sedang proses pembangunan. Untuk revitalisasi, sedang kita juga usahakan anggarannya,” ujarnya.

Meski demikian, Karding belum dapat merinci besaran anggaran yang disiapkan untuk revitalisasi laboratorium karantina tersebut.

“Ada, ada. Cuma saya enggak hafal. Ya, intinya kita ke sana,” katanya saat ditanya wartawan soal angka anggaran yang disiapkan.

Pembangunan dan revitalisasi laboratorium ini disampaikan Karding di sela-sela keterangan pers terkait pemusnahan 312 ton Meat Bone Meal (MBM) asal Brasil yang terdeteksi mengandung unsur porcine atau babi. Pemusnahan tersebut dilakukan di fasilitas PT Prasadha Pamunah Limbah Industri (PPLI), Kabupaten Bogor, sebagai tindak lanjut atas hasil pengawasan terhadap komoditas impor yang dinilai tidak memenuhi ketentuan.

Karding mengatakan ratusan ton MBM tersebut tidak diizinkan beredar karena hasil pengujian menunjukkan adanya kandungan porcine.

“Bahwa ada 312 ton MBM dari Brasil yang dicegah untuk tidak bisa diedarkan di masyarakat karena mengandung apa yang disebut porcine atau memiliki kandungan babi,” kata Karding.

Baca juga artikel terkait KARANTINA atau tulisan lainnya dari Nanda Surya

tirto.id - Flash News
Reporter: Nanda Surya
Penulis: Nanda Surya
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama