Menuju konten utama

Kian Masif Digunakan, Mungkinkah Qris Gantikan Uang Tunai?

Jumlah merchant QRIS terus naik, tetapi transaksi belum optimal. Perbankan kembangkan fitur untuk meningkatkan penggunaan.

Kian Masif Digunakan, Mungkinkah Qris Gantikan Uang Tunai?
Konsumen melakukan pembayaran menggunakan QRIS saat pameran UMKM di Klungkung, Bali, Selasa (28/4/2026). Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali mencatat hingga Februari 2026, total gerai usaha yang menggunakan Quick Response Code Indonesia Standard (QRIS) di Bali mencapai 1,1 juta dan pengguna yang memanfaatkan itu mencapai 1,15 juta orang konsumen. ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo/wsj.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Lompatan transaksi QRIS di Indonesia sejak diluncurkan pada 2019 menunjukkan bahwa adopsi pembayaran digital telah memasuki fase yang jauh lebih matang. Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) mencatat, volume transaksi QRIS pada tiga bulan pertama tahun ini saja telah mencapai 5,67 miliar transaksi. Angka tersebut melonjak 116,43 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu dan naik 9,56 persen dibandingkan kuartal sebelumnya.

Tak hanya dari sisi volume, nilai transaksinya pun hampir berlipat ganda secara tahunan menjadi Rp522,2 triliun. Khusus Maret 2026, QRIS mencetak rekor baru dengan 2,12 miliar transaksi senilai Rp202,72 triliun.

Boleh dibilang, pertumbuhan tersebut didukung oleh akseptasi yang terus meluas di masyarakat. Tercatat, jumlah pengguna QRIS telah menyentuh 61,7 juta orang, sementara merchant yang menerima pembayaran QRIS telah mencapai 44 juta. Menariknya, transaksi di merchant usaha kecil menyumbang porsi terbesar, baik dari sisi volume maupun nominal.

Namun, di balik pertumbuhan yang impresif itu masih tersimpan pekerjaan rumah. Pasalnya, rata-rata transaksi per merchant masih berkisar 39-48 kali per bulan dengan nilai sekitar Rp3,5 juta-Rp4,6 juta. ASPI menilai kondisi tersebut menunjukkan masih banyak merchant yang belum aktif atau belum menjadikan QRIS sebagai pilihan utama dalam menerima pembayaran.

“Dibutuhkan upaya dari PJP untuk mendorong lebih banyak transaksi di setiap merchant QRIS yang sudah terdaftar dan melakukan identifikasi atas merchant-merchant dormant sehingga rata-rata volume transaksi maupun nominal transaksi QRIS per merchant bisa meningkat,” tulis asosiasi tersebut dalam laporan Statistik Triwulan I-2026.

Gambaran tersebut sejalan dengan temuan Fitriani dkk. (2026) dalam studi Seller Intentions to Switch for Quick Response Code Payment in Culinary Sector: An Empirical Study from Indonesia yang terbit di Social Sciences & Humanities Open. Berdasarkan survei terhadap 237 pemilik UMKM kuliner pengguna QRIS, penelitian itu menunjukkan bahwa digitalisasi pembayaran di Indonesia tidak berlangsung melalui substitusi, melainkan komplementasi.

Hal itu terlihat dari pola pembayaran responden. Mayoritas pelaku UMKM masih mengombinasikan pembayaran tunai dan QRIS, bahkan 53,59 persen juga menerima metode pembayaran lain. Hanya 12,66 persen yang sepenuhnya beralih ke pembayaran digital tanpa lagi menerima uang tunai, sementara tidak ada responden yang hanya mengandalkan pembayaran tunai.

Temuan tersebut menjelaskan mengapa jumlah merchant QRIS yang terus bertambah belum otomatis diikuti tingginya transaksi pada setiap merchant. Menurut penelitian itu, sebagian besar pelaku UMKM tetap mempertahankan kedua metode pembayaran agar dapat menyesuaikan diri dengan preferensi pelanggan dan kebutuhan operasional usaha.

Target transaksi QRIS Tahun 2026

Pembeli melakukan transaksi pembayaran menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di salah satu kafe di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Jumat (9/1/2026).ANTARA FOTO/Auliya Rahman/bar

Untuk menjelaskan fenomena tersebut, peneliti menggunakan kerangka Push-Pull-Mooring (PPM), yang membagi faktor perpindahan ke teknologi baru menjadi tiga: push (dorongan meninggalkan cara lama), pull (daya tarik teknologi baru), dan mooring (faktor yang menahan perpindahan).

Hasilnya, UMKM lebih terdorong oleh faktor pull dimana QRIS dinilai menarik karena mudah digunakan, mempermudah operasional dan pencatatan keuangan, serta semakin banyak dipakai pelaku usaha lain. Sebaliknya, tekanan dari pelanggan tidak terbukti berpengaruh signifikan.

Adapun faktor push muncul karena pembayaran tunai dinilai semakin kurang praktis. Risiko kehilangan uang, persoalan keamanan, kerepotan menyediakan uang kembalian, hingga lamanya proses transaksi mendorong pelaku usaha mulai menerima pembayaran digital—meski dorongan itu belum cukup kuat untuk membuat mereka meninggalkan uang tunai. Penelitian juga menemukan bahwa kebiasaan menggunakan uang tunai tidak menghambat adopsi QRIS. Sebab, pelaku usaha tidak perlu memilih salah satu metode pembayaran, melainkan cukup menambahkan QRIS sebagai opsi.

Dari perspektif praktis, hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa meningkatkan daya tarik QRIS perlu menjadi prioritas untuk mendorong UMKM semakin aktif menggunakannya. Hal itu diperkuat oleh hasil Importance Performance Map Analysis (IPMA)—metode yang memetakan faktor-faktor paling berpengaruh sekaligus menilai seberapa baik kinerjanya saat ini—bahwa meski 'manfaat' kepada pelaku usaha merupakan faktor yang paling menentukan keputusan mengadopsi QRIS, masih banyak ruang yang bisa ditingkatkan dalam implementasi sistem pembayaran tersebut.

Merchant QRIS di Perbankan

Temuan itu sekaligus menjelaskan mengapa perbankan dan penyelenggara jasa pembayaran kini tidak lagi hanya berlomba menambah jumlah merchant QRIS. Fokusnya bergeser pada pengembangan fitur yang membuat QRIS semakin bermanfaat bagi operasional usaha, mulai dari pencatatan transaksi, pengelolaan kasir, hingga layanan keuangan lainnya.

Di BCA, misalnya, setiap pembayaran melalui QRIS langsung tercatat secara real time di aplikasi Merchant BCA. Dengan begitu, pedagang tidak lagi bergantung pada bukti transfer berupa tangkapan layar, pesan WhatsApp, atau SMS dari pembeli karena setiap transaksi dapat diverifikasi langsung melalui aplikasi. Hal ini sekaligus mengurangi risiko pemalsuan bukti pembayaran.

Aplikasi tersebut juga dilengkapi fitur bagi admin yang memungkinkan pemilik usaha memberikan akses kepada kasir atau pegawai untuk memantau transaksi dari perangkat berbeda. Kendati demikian, akses kasir hanya sebatas melihat notifikasi pembayaran. Rekening dan transaksi finansial tetap hanya dapat diakses oleh pemilik usaha sehingga keamanan tetap terjaga.

Adapun batas maksimum transaksi mengikuti limit kartu debit yang digunakan nasabah. Sebagai contoh, pengguna kartu debit BCA Xpresi dapat melakukan transaksi QRIS hingga Rp15 juta dalam satu kali pembayaran. Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan, berbagai pengembangan tersebut merupakan bagian dari komitmen BCA untuk memperluas layanan digital yang aman, mudah diakses, sekaligus menjawab kebutuhan transaksi nasabah yang terus berkembang.

"BCA senantiasa berkomitmen mengembangkan dan memperluas layanan digital guna memenuhi kebutuhan nasabah yang terus berkembang. BCA juga terus mengembangkan kapabilitas digital dengan mengutamakan kenyamanan, keamanan, serta aksesibilitas," ujar Hera dalam keterangan tertulis, Selasa (14/7/2026).

Menurut Hera, QRIS kini telah digunakan untuk berbagai kebutuhan transaksi, mulai dari belanja ritel, transportasi, konsumsi, hingga pembayaran di sektor pariwisata dan gaya hidup. Seiring meningkatnya penggunaan QRIS, BCA juga terus mengembangkan layanan QRIS Cross Border.

"Saat ini, negara yang bisa menerima transaksi QRIS Cross Border adalah Thailand, Malaysia, Singapura, Jepang, Korea Selatan, dan China. Saat ini juga sedang dikembangkan agar QRIS dapat diterima di beberapa negara lainnya," ujar Hera sembari menerangkan bahwa volume transaksi QRIS yang diproses BCA pada kuartal pertama tahun ini tumbuh 90 persen dibandingkan secara tahunan, sementara nilai transaksinya mencapai Rp165 triliun—meningkat 78 persen dibandingkan periode sama tahun lalu.

Langkah serupa juga dilakukan BRI. Melalui aplikasi BRI Merchant, pemilik usaha dapat mendaftarkan nomor telepon kasir sehingga aplikasi dapat digunakan di telepon seluler kasir. Meski demikian, akses kasir dibatasi hanya untuk memantau transaksi QRIS yang masuk. Kasir tidak dapat mengakses rekening maupun melakukan transaksi finansial milik pemilik usaha.

Dengan demikian, pemilik usaha tetap dapat mengawasi transaksi meski tidak berada di toko, sementara keamanan rekening tetap terjaga. Sementara untuk limit, BRI menetapkan batas maksimal Rp2 juta untuk setiap transaksi tanpa membatasi jumlah transaksi dalam sehari.

BRI juga terus memperluas fungsi QRIS agar tidak hanya melayani transaksi domestik. Terbaru, perseroan menghadirkan layanan yang memungkinkan merchant menerima pembayaran dari pengguna Alipay dan UnionPay melalui QRIS EDC BRI. Dengan layanan ini, pelaku usaha dapat melayani pembayaran wisatawan maupun pelaku bisnis asal luar negeri secara langsung melalui perangkat EDC yang telah dimiliki.

Pengembangan tersebut menjadi bagian dari upaya BRI memperkuat implementasi QRIS Cross Border yang telah terhubung dengan enam negara, yakni Thailand, Singapura, Malaysia, Jepang, Korea Selatan, dan China. Pada layanan QRIS EDC BRI, sistem secara otomatis menghasilkan kode QR unik untuk setiap transaksi sehingga proses pembayaran berlangsung secara real-time, lebih akurat, dan aman bagi merchant.

“Akses terhadap metode pembayaran internasional menjadi kebutuhan penting bagi pelaku usaha, khususnya di sektor yang memiliki interaksi dengan pelanggan mancanegara. Melalui inovasi ini, BRI memberikan solusi yang memudahkan merchant dalam menerima pembayaran lintas negara secara praktis, aman, dan real-time,” ujar Direktur Network dan Retail Funding BRI Aquarius Rudianto dalam keterangan resminya.

Dorongan bank untuk terus berinovasi dalam layanan QRIS dinilai dapat membawa manfaat yang lebih luas bagi industri perbankan. Selain memperkaya pengalaman pengguna, berbagai fitur baru juga berpotensi meningkatkan aktivitas transaksi di dalam sistem keuangan. Pandangan itu disampaikan Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Riza Annisa Pujarama.

Menurutnya, semakin lengkap fitur QRIS yang terintegrasi dalam aplikasi perbankan, semakin besar pula manfaat yang dirasakan nasabah maupun pelaku usaha. "[Keberadaan QRIS] dapat meningkatkan perputaran uang di bank. Karena prosesnya lebih cepat dan uang tetap mengalir di perbankan," ujar Riza kepada Tirto.

Riza menilai pengembangan fitur QRIS juga berpotensi membantu bank menarik lebih banyak nasabah. Namun, manfaat tersebut baru akan optimal apabila aplikasi yang digunakan mudah dioperasikan dan tidak membebani perangkat pengguna.

"Dampak penggunaan QRIS di mobile banking ini dapat mendorong peningkatan nasabah, jika sistemnya mudah dan tidak berat aplikasinya," katanya.

Meski demikian, ia mengingatkan masih ada tantangan yang belum sepenuhnya teratasi, yakni ketergantungan QRIS pada kualitas jaringan internet. Di sejumlah lokasi, termasuk pusat perbelanjaan dengan area bawah tanah, transaksi digital masih terkendala sinyal sehingga sebagian konsumen terpaksa kembali menggunakan uang tunai.

"Bergantung pada kestabilan sinyal internet, penggunaan QRIS bahkan di perkotaan jika dilakukan di mal misalnya untuk food court yang di basement kadang sulit karena sinyal tidak nyampe, jadi beralih lagi ke cash," ujarnya.

Baca juga artikel terkait QRIS atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - News Plus
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana