tirto.id - Kondisi sakit tidak jarang memberikan beban ganda. Selain harus berjuang sembuh, pasien pun bisa cemas akan tingginya biaya pengobatan, terutama jika harus menjalani perawatan yang lama dan berpindah-pindah rumah sakit.
Untungnya, masih ada Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Sudah banyak warga yang terbantu karena JKN memungkinkan mereka menjalani pengobatan tanpa terbebani biaya selangit.
Sudarno (49) termasuk peserta JKN yang sudah merasakan manfaat besar dari program ini. Dia bahkan menerima manfaat itu sejak awal menjadi peserta JKN bertahun-tahun silam.
Warga asal Kadudampit, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat ini sudah lebih dari 20 tahun jadi peserta dari segmen Pekerja Penerima Upah (PPU) lewat kepesertaan istrinya.
"Dari awal menjadi peserta BPJS Kesehatan saya terbantu sekali. Besar sekali manfaat yang saya rasakan," ujar Sudarno.
Salah satu pengalaman paling berkesan bagi Sudarno adalah ketika ia menjalani perawatan karena penyakit batu empedu.
Awalnya, Sudarno mencemaskan masa depan keluarganya. Dia khawatir biaya pengobatan untuk penyakit batu empedu akan membuat perekonomian keluarganya ambruk.
"Saya bahkan sudah mempersiapkan rumah dan kendaraan untuk dijual agar pengobatan bisa berjalan lancar. Alhamdulillah, semuanya ditanggung oleh BPJS Kesehatan," jelasnya.
Mulanya Sudarno menjalani pemeriksaan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) dan kemudian dirujuk ke rumah sakit di Sukabumi. Namun, keterbatasan alat medis membuat ia harus mendapatkan penanganan lanjutan di rumah sakit luar kota.
"Setelah menjalani pemeriksaan lebih lanjut, saya didiagnosis mengalami batu empedu," katanya.
Dokter sempat mempertimbangkan tindakan operasi untuk menangani penyakit Sudarno. Namun, karena kondisinya perlahan membaik usai menjalani serangkaian pengobatan dan terapi, rencana itu dibatalkan.
"Alhamdulillah saya tak sampai menjalani operasi karena pengobatan dan obat-obatan yang diberikan memberikan hasil yang baik sampai akhirnya kondisi saya membaik," tambahnya.
Meskipun tidak memerlukan tindakan operasi, Sudarno masih harus menjalani pengobatan yang lumayan lama dan berpindah-pindah rumah sakit.
Dia pernah 17 hari menjalani rawat inap di salah satu rumah sakit di Sukabumi. Kemudian mendapat perawatan dua minggu di RS lainnya, hingga akhirnya 27 hari dirawat di rumah sakit di Bandung.
"Setelah menjalani perawatan tersebut, dokter meminta saya untuk menjalani istirahat total selama satu tahun. Hingga saat ini saya juga masih rutin mengonsumsi obat sesuai anjuran dokter," ujarnya.
Karena sudah menjadi peserta BPJS Kesehatan, Sudarno tidak harus mengeluarkan biaya saat menjalani pengobatan panjang itu. Dia pun mendapat layanan optimal saat dirawat di sejumlah rumah sakit.
"Selama menjalani perawatan, alhamdulillah tidak sepeser pun saya mengeluarkan uang. Semua biaya pengobatan ditanggung oleh BPJS Kesehatan," kata dia.
"Perawat dan dokternya sangat baik, ramah, dan profesional. Saya merasa mendapat pelayanan yang terbaik selama menjalani pengobatan," imbuhnya.
Tak hanya itu, Sudarno juga merasa terbantu dengan berbagai layanan administrasi yang disediakan BPJS Kesehatan. Dia sekaligus mengapresasi bantuan kader JKN saat mengurus administrasi.
"Saya sering dibantu oleh Kader JKN ketika membutuhkan pelayanan administrasi. Jadi, saya tidak perlu datang jauh-jauh ke kantor cabang BPJS Kesehatan," ujarnya.
Mengingat besarnya manfaat program JKN, Sudarno berharap BPJS Kesehatan dapat terus memperluas layanan agar bisa diakses oleh sebanyak mungkin masyarakat di Indonesia.
"Harapan saya pelayanan BPJS Kesehatan makin luas lagi. Saat ini sudah sangat baik dengan adanya BPJS Keliling dan Kader JKN," kata Sudarno.
"BPJS Kesehatan sangat penting bagi semua kalangan masyarakat, karena kita tak pernah tahu kapan sakit datang, dan saat sakit kita tidak perlu lagi memikirkan biaya pengobatan," tegasnya.
(INFO KINI)
Penulis: Tim Media Servis
Masuk tirto.id

































