tirto.id - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan pidato di hadapan Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNGA) pada Selasa (22/9/2026). Dalam kesempatan itu, Trump mengucapkan terima kasih kepada negara-negara yang telah membantu perdamaian di Gaza, salah satunya Indonesia.
Trump mengenang pidatonya setahun lalu di forum yang sama, saat konflik di Gaza masih berkecamuk dan para sandera masih ditahan di terowongan-terowongan milik Hamas.
Ia menyampaikan rasa syukur atas tercapainya kesepakatan yang mengakhiri perang tersebut serta pemulangan seluruh sandera, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal.
Trump secara khusus mengapresiasi Dewan Keamanan PBB atas dukungan terhadap rencana perdamaian Gaza yang terdiri dari 20 poin serta pembentukan resmi Board of Peace.
Ia turut berterima kasih kepada sejumlah negara yang telah menyumbangkan dana besar untuk pemulihan Gaza, termasuk Qatar, Kuwait, Arab Saudi, Turki, dan beberapa negara lainnya, serta negara-negara yang mengirimkan pasukan, kepolisian, dan pelatihan untuk membantu stabilisasi Gaza.
"Saya juga ingin menyampaikan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah mengerahkan pasukan, polisi, dan memberikan pelatihan untuk membantu menstabilkan Gaza, termasuk Indonesia, Maroko, Albania, Kosovo, Kazakhstan, Mesir, Yordania, dan lainnya," ucap Trump, Selasa (22/9/2026).
Seperti diberitakan sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto pada Februari 2026 menyatakan kesiapan mengirim hingga 8.000 personel TNI untuk bergabung dalam ISF.
International Stabilization Force (ISF) atau Pasukan Stabilisasi Internasional dirancang sebagai pasukan multinasional yang akan ditempatkan di Gaza untuk membantu menjaga keamanan setelah gencatan senjata, melindungi warga sipil, mengamankan distribusi bantuan kemanusiaan, membantu proses pelucutan senjata (terutama senjata milik Hamas), serta melatih pasukan polisi Palestina yang baru dan tidak berada di bawah Hamas maupun Otoritas Palestina.
Pidato Trump di Sidang Umum PBB
Pidato Trump yang disampaikan sekitar 35 menit itu membahas tentang pencapaiannya dalam menangani beberapa konflik dunia. Selain perang dengan Iran, Trump juga berupaya merampungkan rencana perdamaian Jalur Gaza antara Israel dan Hamas, serta mengurai kesulitannya dalam upaya mengakhiri invasi Rusia ke Ukraina.
Dalam pidatonya, Trump menyebut Iran sebagai negara sponsor terorisme nomor satu di dunia yang selama 51 tahun terakhir memerintah dengan kekerasan dan pertumpahan darah, menyebarkan kekacauan di seluruh kawasan Timur Tengah dan sekitarnya.
“Selama 51 tahun, rezim fanatik Iran telah berkuasa melalui pertumpahan darah dan pembunuhan massal, menyebarkan kematian dan pembantaian serta kekacauan di seluruh Timur Tengah dan sekitarnya. Mereka adalah pengganggu di Timur Tengah, namun mereka tidak lagi menjadi pengganggu,” tudingnya.
Trump menegaskan komitmennya sejak awal masa jabatan untuk mencegah Iran memiliki senjata nuklir, dengan menjelaskan bahwa ia sempat menawarkan kerja sama ekonomi penuh kepada Iran sebagai imbalan penghentian program nuklir mereka, namun tawaran itu ditolak.
Trump kemudian mengungkapkan bahwa militer AS melalui Operasi Midnight Hammer berhasil menghancurkan fasilitas nuklir Iran, dan meski ia kembali mengajak Iran berunding, tawaran tersebut kembali ditolak.
"Ataukah saya harus melenyapkan Republik Islam itu dengan cepat, tanpa pernah memberi mereka kesempatan lagi untuk membunuh serta menghancurkan orang dan negara? Haruskah saya mencampakkan mereka ke neraka tanpa peluang untuk bertahan hidup dan tanpa harapan akan kejayaan atau kelangsungan generasi di masa depan?" ungkap Trump dikutip CBS News, Selasa(22/9/2026).
"Namun, saya yakin kita akan mencapai kesepakatan tepat setelah pemilihan umum. Sebab, tidak masuk akal jika mereka tidak melakukannya. Mereka sedang menunggu untuk melihat bagaimana hasil saya dalam pemilihan paruh waktu. Hal yang tidak mereka sadari adalah bahwa saya tidak mencalonkan diri," simpulnya.
Lebih lanjut, Trump memaparkan hasil dari apa yang disebutnya Operasi Epic Fury, yang menurutnya telah melumpuhkan hampir seluruh kekuatan militer Iran, mulai dari angkatan laut, angkatan udara, sistem radar, hingga kemampuan produksi rudal dan drone mereka. Ia turut menyinggung kondisi ekonomi Iran yang menurutnya kolaps, dengan tingkat inflasi yang melonjak sangat tinggi.
Trump Sebut Denmark Sepakat Izinkan Pangkalan Militer AS di Greenland
Di bagian akhir pidatonya, Trump turut mengonfirmasi bahwa Amerika Serikat akan menandatangani kesepakatan dengan Denmark terkait penempatan pangkalan militer di Greenland.Ia menjelaskan bahwa kesepakatan tersebut memberikan AS kendali penuh atas aspek keamanan di wilayah Greenland, dengan alasan strategis untuk mempertahankan kawasan Amerika Utara sekaligus melindungi Eropa dari potensi ancaman.
"Tidak ada satu pun pihak lawan AS yang akan diizinkan lagi untuk membangun kehadiran militer di Greenland atau melakukan investasi sensitif di sana tanpa persetujuan tertulis yang tegas dari kami. Kami akan segera memulai proses pengembangan kehadiran militer berskala besar di lokasi-lokasi yang tepat. Kami akan membangun dua pangkalan militer yang sangat besar," tandasnya.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id

































