tirto.id - Sebuah bangunan tempat berlindung warga Palestina yang mengungsi di Kota Gaza runtuh pada Rabu (16/9/2026). Jumlah korban tewas akibat runtuhnya sebuah bangunan tempat tinggal yang menjadi tempat meningkat menjadi 21 orang, termasuk lima anak-anak.
Seperti dilaporkan kantor berita Palestina WAFA, sebanyak 25 orang lainnya mengalami luka-luka dan lebih dari 100 orang masih hilang di bawah reruntuhan ketika operasi pencarian terus dilakukan.
Tim penyelamat mengatakan upaya pencarian menghadapi tantangan besar akibat kekurangan alat berat dan mesin khusus untuk operasi penyelamatan.
Mereka menambahkan, lebih dari 2.000 bangunan rusak di seluruh Gaza berisiko runtuh dan masih digunakan sebagai tempat tinggal oleh sejumlah besar warga Palestina yang mengungsi. Kondisi tersebut menimbulkan risiko lebih lanjut terhadap keselamatan mereka.
Berdasarkan angka yang dikutip laporan Egypt Today, Rabu (16/9/2026), runtuhnya bangunan-bangunan yang rusak di berbagai wilayah Gaza secara keseluruhan telah menewaskan 50 orang.
Bangunan yang Runtuh Diserang Israel Setahun Lalu
Para saksi mengatakan kepada BBC, Rabu (16/9/2026), bahwa bangunan enam lantai di kawasan Tal al-Hawa, Kota Gaza, sebelumnya telah miring dan berada dalam kondisi berbahaya setelah terkena serangan Israel lebih dari setahun lalu.
Mereka mengatakan keluarga-keluarga yang mengungsi tetap tinggal di dalam bangunan tersebut karena tidak memiliki pilihan lain.
Dalam upaya penyelamatan awal, anggota Badan Pertahanan Sipil yang dikelola Hamas bahkan terpaksa menggunakan tangan kosong.
"Kami masih mendengar suara dari bawah reruntuhan, jadi masih ada harapan untuk menemukan orang-orang," kata Raed al-Dahshan, Direktur Pertahanan Sipil di Kota Gaza.
Ia menambahkan, "Keterbatasan tempat perlindungan memaksa warga untuk pindah ke bangunan ini karena mengira tempat tersebut aman. Namun, pada satu titik bangunan itu runtuh sepenuhnya dan secara tragis menimpa orang-orang ketika mereka sedang tidur."
Warga setempat mengatakan sekitar 10 keluarga masih tinggal di bangunan tersebut meskipun telah mendapat peringatan bahwa bangunan itu tidak aman.
Seorang perempuan yang tinggal di tenda di dekat lokasi, Umm Mohammed Bakrun, mengatakan dirinya sedang berbicara dengan putranya ketika bangunan tersebut tiba-tiba runtuh pada Rabu dini hari.
"Rasanya seperti gempa bumi. Terdengar suara keras dan saya tidak bisa berdiri. Batu-batu berjatuhan ke arah kami dan ketika saya melihat ke luar, saya melihat banyak debu. Dalam hitungan menit, terdengar teriakan di mana-mana," katanya.
Kepala kantor Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) di Gaza, Alessandro Mrakic, mengatakan kepada wartawan di lokasi bahwa sekitar 70 hingga 100 orang diperkirakan terjebak di bawah reruntuhan.
"Situasinya, seperti yang Anda lihat, sangat tragis karena kami tidak memiliki peralatan dan mesin yang dibutuhkan. Bahkan ada orang-orang yang menggali dengan tangan kosong," katanya.
Mrakic juga memperingatkan bahwa sekitar 400 bangunan lain yang rusak akibat perang di seluruh Gaza berada dalam risiko segera runtuh, terutama menjelang datangnya musim dingin.
"Kami membutuhkan dukungan, terutama berupa mesin dan peralatan. Rekan-rekan kami di sini bahkan tidak memiliki oli mesin dan suku cadang untuk terus mengoperasikan peralatan yang masih tersedia di Gaza."
Koordinator bantuan kemanusiaan PBB, Ramiz Alakbarov, mengatakan dirinya "hancur" mendengar laporan mengenai runtuhnya bangunan tersebut.
Ia juga mendesak otoritas Israel menyetujui pengiriman alat berat ke Gaza untuk operasi penyelamatan, serta tenda, terpal, dan barang-barang nonpangan lainnya bagi warga yang mengungsi menjelang hujan musim dingin.
Israel mengatakan pembatasan tersebut bertujuan mencegah peralatan jatuh ke tangan kelompok bersenjata Palestina yang dapat menggunakannya untuk keperluan militer.
Serangan Israel di Gaza, yang dimulai pada 8 Oktober 2023, telah menewaskan lebih dari 73.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 174.000 orang, sebagian besar perempuan dan anak-anak.
Kerusakan akibat perang telah berdampak terhadap sekitar 90 persen infrastruktur di Gaza. Sementara itu, PBB memperkirakan biaya rekonstruksi mencapai sekitar US$70 miliar.
Meskipun kesepakatan gencatan senjata diumumkan pada Oktober 2025, pasukan Israel masih melancarkan serangan di Gaza. Serangan tersebut telah menewaskan 1.372 warga Palestina dan melukai 4.659 lainnya, sebagian besar perempuan dan anak-anak.
Perang tersebut telah menghancurkan lebih dari 102.000 bangunan di seluruh Gaza. Sedikitnya 330.000 unit rumah juga hancur seluruhnya atau sebagian, atau lebih dari 70 persen dari total hunian di wilayah tersebut.
Kerusakan juga berdampak pada sekolah, universitas, rumah sakit, masjid, gereja, fasilitas pemerintahan, dan ribuan tempat usaha. Infrastruktur seperti jalan, jaringan air dan listrik, sistem pembuangan limbah, serta lahan pertanian turut mengalami kerusakan sehingga semakin memperburuk kondisi kehidupan masyarakat di Jalur Gaza.
Editor: Abdul Aziz
Masuk tirto.id

































