Menuju konten utama

Alasan Media Israel Soroti Prabowo yang Ucapkan Free Palestine

Media Israel menyoroti seruan "Free Palestine" oleh Prabowo di Gontor, yang dinilai kontras dengan sikapnya terhadap Israel dalam pidato PBB 2025.

Alasan Media Israel Soroti Prabowo yang Ucapkan Free Palestine
Presiden Prabowo Subianto dalam Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darrusalam Gontor. Youtube/ Sekretariat Presiden
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Presiden Prabowo Subianto dengan lantang menyerukan "Free Palestine" dalam pidato di acara peringatan 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur pada Sabtu (19/9/2026). Hal itu ternyata mendapat sorotan tajam dari sejumlah media Israel.

Media-media Israel seperti The Jerusalem Post dan The Times of Israel menyebut pernyataan Prabowo itu sebagai bentuk perubahan sikap yang mencolok.

Beberapa bulan sebelumnya, Prabowo menutup pidato di Sidang Umum PBB ke-80 pada 23 September 2025 menggunakan kata "Shalom" dan menyerukan pentingnya menjamin keamanan Israel demi tercapainya perdamaian di Timur Tengah.

Sorotan media Israel ini muncul di tengah dinamika hubungan Indonesia-Israel yang selama ini tidak memiliki ikatan diplomatik resmi, namun kerap diwarnai spekulasi mengenai kemungkinan normalisasi hubungan kedua negara.

Prabowo Tegaskan Sikap Indonesia Dukung Palestina

Prabowo kembali menegaskan dukungannya terhadap Palestina dengan meneriakkan kalimat "Free Palestine" dalam sebuah pidato peringatan 100 tahun berdirinya Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo, salah satu pesantren paling terkemuka di Indonesia.

Dalam pidato tersebut, Prabowo menyampaikan bahwa situasi di Gaza menjadi sumber kepedihan mendalam baginya. Prabowo juga mengatakan bahwa saudara-saudara di Palestina terus-menerus dibantai, dibom, dan diserang, sedangkan dunia seolah tidak berdaya membantu mereka.

Ia juga mengajak generasi muda dan para tokoh agama untuk memperkuat kemandirian Indonesia agar bangsa ini bisa berdiri bersama rakyat-rakyat yang tertindas di berbagai belahan dunia, tanpa harus tunduk pada tekanan kekuatan asing.

"Karena dengan kekuatan, kalau kita kuat, kita bisa membantu saudara-saudara kita yang tertindas dan yang ditindas oleh bangsa-bangsa lain," kata Prabowo, Sabtu (19/9/2026).

Dalam kesempatan itu, Duta Besar Palestina Abdulfattah A.K. Al-Sattari turut memberikan cinderamata berupa syal keffiyeh kepada Prabowo sebagai simbol solidaritas.

"Saya merasa sangat bahagia ketika melihat beliau hadir, dan saya memutuskan untuk memberikan kefiyyeh Palestina kepada beliau, untuk berterima kasih kepada beliau," ucap Abdulfattah.

Prabowo Disebut Berubah Sikap oleh Media Israel

Pernyataan Prabowo tentang Palestina dan seruan “Free Palestine” di awal pidatonya di Gontor ternyata menarik perhatian media-media Israel. Mereka menyoroti sikap Prabowo yang dinilai kontras tajam dengan apa yang ditunjukkannya hampir setahun sebelumnya.

The Times of Israel pada Sabtu (19/9) melaporkan, pada pidato di Sidang Umum PBB (UNGA) di New York tahun 2025, Prabowo sempat mengejutkan banyak pihak, termasuk negara-negara muslim, dengan menutup pidatonya menggunakan kata "Shalom" dan menyatakan bahwa dunia perlu "mengakui," "menghormati," serta "menjamin keamanan Israel" sebagai syarat tercapainya perdamaian sejati di Timur Tengah.

Pernyataan itu memunculkan spekulasi bahwa Indonesia, sebagai negara berpenduduk mayoritas muslim terbesar di dunia namun belum memiliki hubungan resmi dengan Israel, tengah mempertimbangkan langkah menuju normalisasi hubungan dengan Israel.

Spekulasi semakin berkembang ketika beberapa media, termasuk The Times of Israel, melaporkan bahwa Prabowo dijadwalkan mengunjungi Israel setelah tercapainya kesepakatan gencatan senjata dan pembebasan sandera di Gaza pada Oktober lalu.

Namun, Kementerian Luar Negeri Indonesia dengan tegas membantah adanya rencana kunjungan tersebut dan kembali menegaskan dukungan jangka panjang Indonesia terhadap rakyat Palestina di Gaza.

The Jerusalem Post pada Minggu (20/9/2026) juga menyebut jika sikap seolah mempertimbangkan hubungan bilateral dengan Israel ini diambil Prabowo yang sebagian dikaitkan dengan proses Indonesia bergabung dengan OECD.

Meski hal itu kemudian Kementerian Luar Negeri Indonesia saat itu membantah bahwa normalisasi dengan Israel menjadi syarat keanggotaan Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD).

Pada Februari, Indonesia juga sempat menunjukkan langkah konkret dalam mendukung perdamaian dengan mengumumkan rencana mengirimkan sekitar 8.000 tentara untuk menjadi pasukan penjaga perdamaian utama di Jalur Gaza.

Namun, pada bulan Maret, pemerintah Indonesia mengumumkan bahwa rencana pengiriman pasukan tersebut ditunda tanpa batas waktu akibat eskalasi ketegangan di kawasan tersebut.

Baca juga artikel terkait KONFLIK ISRAEL-PALESTINA atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra