tirto.id - Seorang anggota Korps Marinir Amerika Serikat (AS) diduga menjadi pelaku pembunuhan di Jepang. Ia ditangkap di Okinawa pada Minggu (4/10/2026). Kasus ini memicu kemarahan publik, termasuk Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi.
Melansir Kyodo News, penangkapan seorang marinir AS itu terjadi di Okinawa. Sang marinir itu diidentifikasi sebagai Devin Ballard, marinir berusia 20 tahun.
Kini ia didakwa dengan pasal perampokan dan pembunuhan. Per Senin (5/10), berkas kasus ini disebut kepolisian setempat telah diserahkan kepada jaksa.
Sementara itu, korban diidentifikasi sebagai Anna Yagi. Ia merupakan seorang perempuan setempat berusia 39 tahun.
Kronologi Pembunuhan Wanita Jepang
Pihak kepolisian Jepang menjelaskan bahwa pembunuhan ini diduga terjadi pada Sabtu (3/10) di sebuah hotel di Kota Naha, Prefektur Okinawa. Sebelumnya, korban disebut tampak memasuki hotel bersama Ballard, namun ia ditemukan tewas di kamar hotel pada Sabtu pagi. Dompet korban juga disebut hilang.
Usai mayat korban ditemukan, pihak kepolisian lalu menangkap Ballard pada Sabtu malam. Ballad saat itu tengah berjalan sendirian di distrik hiburan Naha ketika ditangkap.
Ballard sejauh ini membantah tuduhan yang diberikan kepadanya. Namun, kasus ini telah memicu kemarahan publik. Pada Minggu, ratusan massa turun ke jalan dan melakukan aksi unjuk rasa di Okinawa untuk mengekspresikan kemarahan mereka.
Kemarahan Publik dan Respons Pemerintah
Sementara itu, Gubernur Okinawa Genta Koja menyebut kasus ini sebagai “kejutan luar biasa”. Ia menyebut kasus ini merupakan perkara yang tak bisa diterima.
“Ini benar-benar tidak dapat diterima dan sangat keterlaluan,” kata Koja dalam pernyataan resminya.
Pemerintahan PM Sanae Takaichi juga mengeluarkan pernyataan serupa dengan menyebut kasus ini sebagai “brutal dan keji”. Takaichi juga menyatakan bahwa pihaknya tengah memprotes AS di berbagai tingkatan atas peristiwa ini.
Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi telah memanggil Duta Besar AS untuk Jepang George Glass dan menyampaikan protes. Dalam kesempatan itu, Motegi mendesak AS untuk bekerja sama dalam penyelidikan kasus ini.
Glass, di sisi lain, telah berjanji akan memberikan kerja sama yang diminta. Pihaknya juga menyebut bahwa AS akan melakukan segala yang bisa dilakukan untuk mencegah insiden serupa terjadi kembali.
Seturut Al Jazeera, kasus-kasus kejahatan yang melibatkan anggota militer AS menjadi perkara berulang di Okinawa. Hal ini terjadi seiring penggunaan Pulau Okinawa sebagai salah satu pangkalan militer AS di Jepang.
Jenis kejahatan yang terjadi juga bervariasi. Hal ini termasuk tindak pidana pemerkosaan, penyerangan, tabrak lari, dan insiden mengemudi dalam keadaan mabuk oleh personel AS.
Penggunaan Okinawa sebagai basis militer AS di Jepang sudah berlangsung sebagai imbas Perang Dunia II. Kendali administratif pulau tersebut dikuasai AS sejak akhir perang dan baru dikembalikan ke Jepang pada 1972.
Surat kabar Yomiuri Shimbun menyebut sudah ada sekitar 6.000 personel militer AS yang ditangkap di Jepang sejak Okinawa dikembalikan. Dari jumlah tersebut, di antaranya termasuk personel yang terkait kasus pemerkosaan siswi Jepang pada 1995; pemerkosaan dan pembunuhan perempuan berusia 20 tahun pada 2016; serta penculikan dan kekerasan seksual terhadap gadis berusia di bawah 16 tahun pada 2023.
Kasus dugaan pembunuhan terhadap mendiang Anna Yagi menambah panjang daftar kejahatan yang dilakukan personel militer AS di Jepang.
Sementara itu, kini, terdapat sekitar 54.000 personel militer AS yang ditempatkan di Jepang. Sebanyak 18.000 di antaranya adalah marinir yang sebagian besar berbasis di Okinawa.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id

































