Menuju konten utama
Mozaik

Genealogi Bahasa Antifasis dalam Kultur Sepak Bola Indonesia

Simbol dan bahasa antifasis muncul dari "pertukaran" budaya dari negara satu ke lainnya. Dan hal itu mengalami "penyaringan" sehingga sesuai konteks lokal.

Genealogi Bahasa Antifasis dalam Kultur Sepak Bola Indonesia
Header Mozaik Enealogi Bahasa Antifasis dalam Kultur Sepak Bola Indonesia. tirto.id/Tino
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kepulan asap pedih gas air mata membumbung tinggi di atas ruas Jalan Gatot Subroto, di depan gerbang Gedung DPR RI. Di tengah gemuruh teriakan ribuan massa aksi saat peringatan Hari Buruh 2025 serta gelombang demonstrasi besar pada Agustus 2025, sebuah pemandangan mencolok terpampang di atas dinding beton pembatas jalan. Di atas beton tebal tersebut, tertera torehan cat semprot hitam berhuruf tegas: “ULTRAS PERSIJA AGAINST FASCISM!”.

Tulisan itu menarik perhatian karena membawa bahasa yang lebih lazim ditemukan dalam subkultur jalanan dan tribun stadion ke tengah demonstrasi. Bagi orang yang melihatnya tanpa konteks, tulisan tersebut bisa tampak sebagai pernyataan spontan. Namun, bahasa antifasis dan simbol perlawanan yang muncul di sekitar kultur suporter memiliki sejarah yang lebih panjang.

Jejaknya dapat ditelusuri dari perkembangan punk dan jaringan antifasis di Indonesia, pertemuannya dengan kultur sepak bola, hingga cara simbol-simbol transnasional diberi makna baru oleh anak muda di kota-kota Indonesia.

Dari Subkultur Bawah Tanah menuju Bahasa Perlawanan

Punk mulai masuk ke Indonesia pada akhir 1980-an melalui perjalanan para pelancong dari berbagai negara. Pada pertengahan 1990-an, subkultur tersebut berkembang menjadi ruang produksi budaya sekaligus politik bagi anak muda.

Dalam "Awas Polisi! Anarchists and Punks Transgressing Normative ‘Politeness’ While Resisting State Repression in Indonesia" (2024: 584–586), Anne R. Kiss mencatat, pada 1996, kelompok punk di Bandung menerbitkan Submissive Riot, salah satu zine politik awal dalam skena punk Indonesia. Kelompok yang menerbitkannya kemudian berkembang menjadi Front Anti-Fasis pada 1997 dan menerbitkan zine Militansi.

Keterkaitan antara punk dan antifasisme tidak berhenti pada organisasi. Kiss menunjukkan bahwa antifasisme terus muncul dalam lirik, sampul album, dan materi visual skena punk Indonesia. Dua album kompilasi musik subkultur punk, Riot Connection dan Extratimes 2, misalnya, memuat ekspresi anti-rasisme dan anti-fasisme. Bahkan, Standing Terrace, yang beririsan dengan kultur sepak bola Bandung, tercatat menggunakan bahasa antifasis dalam karya mereka.

Setelah Reformasi, jaringan tersebut tidak serta-merta hilang. Front Anti-Fasis melebur dengan kelompok lain, lalu membentuk Jaringan Anti-Fasis Nusantara (JAFNUS), yang pada 2007 berkembang menjadi Jaringan Anti-Otoritarian (JAO).

Perubahan itu menunjukkan bahwa bahasa perlawanan dalam skena tersebut ikut beradaptasi mengikuti perubahan cara kelompok-kelompok tersebut membaca negara dan kondisi sosial-politik.

Ketika Bahasa Subkultur Bertemu Tribun

Pertemuan antara subkultur jalanan dan sepak bola tidak berlangsung dalam ruang yang sepenuhnya terpisah. Keduanya sama-sama berkembang di kalangan anak muda perkotaan. Mereka menggunakan musik, pakaian, simbol, serta ruang kota, sebagai medium untuk menyampaikan ideologi dan identitasnya.

Menurut Andy Fuller & Fajar Junaedi, dalam studi bertajuk "Ultras in Indonesia: Conflict, Diversification, Activism" (2017: 920), ultras di Indonesia tidak hanya beraktivitas di stadion. Mereka juga bersinggungan dengan realitas sosial dan politik kota tempat mereka tumbuh.

Ultras Persija Against Fascism

Ultras Persija Against Fascism. (Sumber: X/@ultras_antifaa)

Kultur ultras merupakan fenomena transnasional, berawal dari Italia pada 1960-an, lalu menyebar ke berbagai negara.

Di Indonesia, media baru ikut mempercepat proses tersebut dengan memungkinkan anak muda mengakses gaya, simbol, koreografi, chant, flare, dan bentuk dukungan yang tengah berkembang di negara lain. Namun, reproduksi itu tidak berlangsung dengan cara menyalin seluruhnya. Identitas ultras juga dibentuk oleh konteks lokal dan pengalaman anak muda di kota masing-masing. Demikian sebagaimana dianalisis oleh Andri Prasetiyo dalam studinya, "Subkultur Ultras: Identitas Kaum Muda dan Peran Media Baru" (2018).

Di titik itulah bahasa subkultur menjadi relevan. Yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain bukan hanya cara mendukung klub, tetapi kosakata dan simbol yang membawa sejarah sosial tertentu.

Salah satu contohnya adalah "ACAB", akronim dari “All Cops Are Bastards”, yang kemudian juga direpresentasikan dengan kode 1312. Istilah tersebut memiliki akar dalam kultur jalanan Inggris, yang kemudian dipopulerkan oleh skena punk. Dari skena tersebut, ACAB masuk ke kultur sepak bola dan digunakan oleh sebagian hooligans serta ultras di berbagai negara.

Ketika sampai di Indonesia, penggunaannya tidak selalu diterima secara seragam. Dilansir oleh Vice, slogan ACAB pernah ditemukan dalam konteks suporter Persija Jakarta, tetapi penggunaannya juga mendapat penolakan dari sebagian Jakmania yang menganggapnya "terlalu Eropa."

Penolakan tersebut memperlihatkan bahwa simbol global tidak otomatis memperoleh penerimaan ketika berpindah tempat. Ia dapat diterima, ditolak, atau diberi arti baru, sesuai pengalaman komunitas lokal. Tak jarang ada proses seleksi dan negosiasi di tingkat lokal: anak muda memilih simbol tertentu, menggunakannya sebagai konteks klub dan kota mereka, lalu menghubungkannya dengan pengalaman sosial yang mereka hadapi.

Tumbuh di Jalanan, Subur Lewat Musik

Persinggungan tersebut dapat dilihat di sekitar kultur Persija Jakarta. Musik menjadi salah satu ruang yang mempertemukan identitas suporter dengan subkultur jalanan. Misalnya Sudut Timur, grup musik punk yang lahir dari kecintaan para personelnya terhadap Persija. Pada 2022, mereka bahkan merilis album berjudul Tribun Cinta, berisi lagu-lagu tentang pengalaman sebagai pendukung klub tersebut.

Hubungan semacam ini penting karena menunjukkan bahwa kultur suporter tidak hanya diproduksi di dalam stadion. Ia juga hadir melalui musik dan ruang-ruang kota. Menurut Prasetiyo dalam penelitiannya, subkultur ultras dapat menjadi bagian dari identitas pemuda sekaligus melebur ke ruang perkotaan di luar stadion (Prasetiyo, 2018, hlm. 86-89).

Namun, keberadaan antifasis di sekitar kultur Persija tidak berarti seluruh suporter Persija berpandangan politik serupa. Kultur tribun merupakan ruang yang heterogen. Karena itu, tulisan “Ultras Persija Against Fascism” lebih tepat dibaca sebagai salah satu ekspresi yang muncul dari persinggungan subkultur suporter, subkultur jalanan, dan ruang politik kota, bukan sebagai representasi seluruh Jakmania.

Pola serupa terjadi di Bandung. Seturut analisis Andry Wibowo dalam studinya, perpaduan antara tradisi subkultur punk dan semangat suporter Bobotoh terjalin sangat erat (hlm. 154). Grup musik Standing Terrace, kolektif Bandung Barat Crew, serta wadah Bobotoh Antifa, secara terbuka menyuarakan pesan anti-rasisme melalui lirik lagu, spanduk tribun, dan lembaran zine fotokopian.

Meski sebagian simbol kontemporer datang melalui jaringan budaya global, hubungan sepak bola dengan persoalan identitas dan ketidakadilan di Indonesia memiliki sejarah yang lebih panjang. Jauh sebelum istilah ultras mengemuka dari Eropa, masyarakat bumiputra telah menjadikan lapangan hijau sebagai arena perlawanan simbolik terhadap ketidakadilan pemerintah kolonial Belanda (Indhar Wahyu Wira Harjo, "The identity politics in Indonesian football during the colonial period", 2022, hlm 331).

Ilutsrasi ultras sepak bola. Mideast Egypt Soccer Fans Photo Essay

Dalam foto 26 Juli 2015 ini, anggota kelompok Ultras White Knights dari klub Zamalek, basis penggemar klub hardcore, menghadiri pesta bujangan seorang teman di Kairo, Mesir. Ultras, yang namanya berasal dari kata Latin untuk ìbeyond, populer di Amerika Latin dan Eropa pada 1950-an dan akhirnya sampai ke negara-negara di Afrika Utara. Yang pertama terbentuk di Mesir, UWK, muncul pada 2007 untuk mendukung tim Zamalek. Kelompok-kelompok pendukung rival al-Ahly dan lainnya pun menyusul. AP / Mohammed El Raai

Subkultur ultras pada akhirnya tidak selalu berhenti di stadion. Ia dapat menjadi bagian dari ruang kota, ketika hubungan kelompok suporter bertemu dengan realitas sosial-politik tempat mereka bertumbuh. Musik, grafiti, pakaian, zine, dan simbol tribun, membuat batas antara ruang stadion dan ruang kota menjadi lebih cair.

Karena itu, kemunculan tulisan “ULTRAS PERSIJA AGAINST FASCISM!” di tengah demonstrasi dapat ditempatkan dalam sejarah persinggungan tersebut. Tulisan itu tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa seluruh suporter Persija terlibat dalam gerakan antifasis. Namun, ia menunjukkan bahwa bahasa yang tumbuh dari pertemuan punk, kultur ultras, dan pengalaman lokal, dapat muncul di ruang politik yang lebih luas.

“ULTRAS PERSIJA AGAINST FASCISM!” lebih menarik dibaca bukan sebagai slogan yang berdiri sendiri, melainkan sebagai jejak dari perjalanan panjang sebuah bahasa: dari musik, zine, ke tribun, lalu ke ruang publik. Maknanya tidak pernah sepenuhnya tetap. Ia terus dinegosiasikan oleh orang-orang yang menggunakannya dan oleh konteks tempat bahasa itu muncul.

Baca juga artikel terkait SUPORTER BOLA atau tulisan lainnya dari Rizqy M. Farhan

tirto.id - Mozaik
Kontributor: Rizqy M. Farhan
Penulis: Rizqy M. Farhan
Editor: Fadli Nasrudin