Perang dan Damai di Antara Koalisi Suporter Sepakbola

Ilustrasi persahabatan suporter Empoli dan Parma. FOTO/empolichannel.it
Oleh: Eddward S Kennedy - 6 Juni 2018
Dibaca Normal 7 menit
Di Italia, keakraban dua kelompok suporter dari klub yang berbeda melahirkan istilah "gemellaggio".
Mohamed Abotrika tak menyadari apa yang akan terjadi di Port Stadium pada Rabu, 1 Februari 2012. Kala itu, tuan rumah Al-Masry tengah menjamu tamunya, Al-Ahly, dalam lanjutan Liga Utama Mesir. Kedua suporter sudah saling ejek bahkan sebelum kick off dimulai. Tensi memanas dan kelak akan meledak.

Laga baru berjalan 11 menit, tim tamu sudah berhasil unggul berkat gol Fabio Junior. Skor 1-0 untuk keunggulan Al-Ahly bertahan hingga turun minum. Stadion pun kian bergemuruh. Babak kedua dimulai, Al-masry bermain kesetanan. Dalam tempo kurang lebih 20 menit, mereka berhasil membalikan keadaan menjadi 3-1 melalui gol-gol Momen Zakaria (dua gol di menit 72’ dan 83’) dan gol A. Cisse di masa injury time.

Suporter tim tuan rumah makin bersemangat. Akan tetapi, rupanya kemenangan itu tak cukup bagi mereka. Hingga kemudian terjadilah barbarisme paling menakutkan sepanjang sejarah sepakbola Mesir.

Tepat ketika peluit tanda berakhirnya laga ditiup, ribuan suporter Al-Masry merangsek turun ke lapangan untuk mengejar suporter tim tamu. Bangku-bangku di tribun dicopot, dibakar, dilemparkan, kedua gawang diruntuhkan, tiang-tiang yang penyok digunakan untuk mengoyak-oyak musuh yang lari ketakutan. Stadion itu luluh lantak.

Siapa saja dari kubu Al-Ahly yang tertangkap saat itu, entah suporter atau pemain, hanya punya dua kemungkinan: tewas atau luka berat. Dan benar saja, usai kerusuhan tersebut, tercatat 74 orang tewas dan sekitar 1000 orang mengalami luka-luka. Mayoritas korban adalah suporter tim tamu. Sementara 47 orang yang dicurigai sebagai pemicu perang suporter tersebut pun ditangkap.

Betapa mengerikannya kerusuhan tersebut sempat diungkapkan oleh Abutrika. Dengan kondisi psikologis yang masih shock berat setelah lolos dari kejaran para suporter Al Masry, ia mengatakan:

“Ini bukan sepakbola. Ini adalah perang. Banyak manusia meregang nyawa di hadapan kami. Tidak ada yang bergerak, tidak ada keamanan, dan tidak ada ambulans. Saya sempat menghubungi otoritas liga agar membatalkan pertandingan. Ini adalah situasi yang mengerikan dan tak pernah bisa dilupakan.”

Berdasarkan keterangan dari para saksi yang dihimpun The New York Times, kerusuhan dipicu ultras Al-Ahly yang membentangkan spanduk penghinaan terhadap Port Said, kota yang berjarak lebih kurang 200 kilometer dari Ibukota Mesir, Kairo.


Mayoritas suporter Al-Ahly merupakan bagian dari serdadu militan penentang pemerintahan militer Mesir. Mereka menjadi elemen penting dalam revolusi Arab Spring di Negeri Paraoh itu. Sementara suporter Al Masry adalah musuh politik mereka: kelompok pendukung Mubarak.

Pertempuran antarsuporter memang kerap terjadi sejak tergulingnya rezim Hosni Mubarak pada 2011 lalu. Pada bulan April, misalnya, ratusan polisi di Stadion Internasional Kairo tak dapat berkutik tatkala ribuan pendukung Zamalek tumpah ke lapangan saat menjamu klub dari Tunisia, Africain, di Liga Champions Afrika.

Insiden kembali berlanjut pada bulan November, kali ini melibatkan Al Ahly dan Zamalek. Ketika kedua tim bertanding, perang petasan dan kembang api antarsuporter mewarnai jalannya pertandingan. Alhasil EFA (otoritas sepak bola Mesir) memberi sanksi terhadap kedua klub untuk bermain di stadion tanpa penonton.

Masih bulan April, Ismaily mendapat sanksi yang sama karena baku hantam saat melawan Al-Ittihad. Sementara Al-Masry juga kena hukuman karena suporter mereka melempari lawan dengan botol air minum. Brutalitas perseteruan antarsuporter di Mesir mencapai klimaksnya dalam laga Al Masry kontra Al Ahly. Perdana Menteri Mesir kala itu, Kamal Al Ganzouri, sampai-sampai memberi keputusan mengejutkan akibat insiden tersebut: EFA, yang ketika itu masih dipimpin oleh Samir Zaher, dibubarkan.

Konflik di Mesir “hanyalah” satu dari sekian banyak kisah rivalitas antarsuporter klub sepakbola. Di Indonesia, suka atau tidak, hal tersebut bahkan telah menjadi (semacam) identitas klub. Insiden terbaru terjadi dua hari lalu, Minggu (03/06/2018), ketika Bonek (Persebaya) bentrok dengan Jakmania (Persija) di Stadion Sultan Agung, Bantul, Jogjakarta dan membuat 46 orang luka-luka.

Gemellaggio dan Bentuk Keakraban Antarsuporter

Seperti habitus yang sengaja dipelihara, permusuhan antarsuporter telah menjadi suatu keniscayaan dalam sepakbola. Ada banyak sekali daftar mengenai hal ini, berikut dengan beragam penyebabnya: sejarah, ideologi, politik, pemain kunci yang berpindah ke klub musuh, gengsi, dsb. Namun demikian, dalam semesta negativitas tersebut masih ada sekian kelompok suporter yang turut menjalin keakraban satu sama lain.

Di Italia, ada istilah khusus mengenai hal tersebut: Gemellaggio. Bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, istilah tersebut kurang lebih bermakna pengembaran atau penyamaan. Dalam konteks sepakbola Italia, Gemellaggio dapat dipahami sebagai bentuk persahabatan atau “kerja sama” antardua kelompok suporter dari tim yang berbeda.

Salah satu wujud Gemellaggio yang paling populer di Italia adalah relasi antara Boys San Inter dengan Irriducibili Lazio. Kedua kelompok ultras ini dipersatukan oleh ideologi yang sama: fasisme, atau dalam bahasa yang lebih lunak "ideologi sayap kanan". Maka jangan heran jika baik Irriducibili maupun Boys San kerap menampilkan berbagai atribut sayap kanan ekstrim semacam bendera swastika, misalnya.

Bahkan Irriducibili punya spanduk spesial yang selalu dibentangkan ketika kedua tim bertemu. Spanduk tersebut bertuliskan: "Da semper fieri del nostro gemellaggio alla nord di Milano rendiamo omaggio. Kami bangga dan memberi penghormatan kepada kembaran kami di Utara Milan." Kedekatan mereka juga disebut-sebut melibatkan beberapa organisasi fasisme di Italia seperti The Black Heart.


Romansa antarsuporter klub Italia lainnya adalah Genoa dengan Napoli. Semua dimulai pada 16 Mei 1982, saat kedua tim berjumpa di pekan terakhir Serie A musim 1981/1982. Situasinya saat itu Genoa harus meraih kemenangan agar tidak jatuh ke Serie B, sementara Napoli pun juga tak boleh kalah jika ingin tampil di Piala UEFA musim depan. Win-win solution-nya kemudian: kedua tim bermain imbang 2-2 dan AC Milan, klub yang memang tidak disukai oleh suporter Napoli, ditumbalkan ke Serie B.

Tatkala Napoli berhasil promosi ke Serie A pada 2007 dan melakoni laga kontra Genoa di Luigi Ferraris, suporter Biancoblu memyambut mereka dengan membentangkan spanduk bertuliskan "Benvenuto fratello napoletano" – "Selamat datang, Saudara Neapolitanku”.

Daftar Gemellaggio antarsuporter di Italia ini masih bisa ditambah. Relasi Parma dan Empoli yang bermula sejak 1984 di Carlo Castellani; AC Milan dan Brescia, dua klub yang sama-sama berasal dari region Lombardy tapi justru saling mendukung; Bagaimana solidaritas Bari dan Sampdoria pada sebuah pagi yang cerah di Cremona menyatukan mereka; Bermula dari eksodus massal pemain Fiorentina ke Hellas Verona pada medio 80-an, hingga kini kedua suporter tetap menjadi karib di tribun; Bersatunya Livorno dan Ternana di bawah panji simpati pada Komunisme.

Kisah keakraban antarsuporter sebetulnya juga jamak terjadi di luar Italia. Di Polandia, misalnya, ada Wisla Krakow dan PKS Slask yang sama-sama saling mendukung satu sama lain. Seperti yang dikatakan Roger Mackin di Guardian:

“Saya sempat khawatir mengenai sikap berbahaya para hooligans di sini, tapi sebelumnya saya sudah diberitahu bahwa hooligans dari kedua klub ini ‘berteman’. Dan itu benar. Mereka satu sama lain saling menyanyikan lagu, termasuk lagu yang menyenangkan seperti ‘Wisla i Wroclaw. Apakah klub lain memiliki romantisme macam ini ketika berada di divisi atas? Sepertinya tidak mungkin. Saya tidak membayangkan bagaimana suporter di Inggris menyanyikan ‘Stoke and Fulham, la la la la.”


Selain Wisla Krakow dan PKS Slask, ada pula relasi keakraban lain antarsuporter klub di Polandia. Mackin melanjutkan: “Ketika saya mulai sering nongkrong bareng rombongan suporter Polonia Warszawa, mereka kerap menyanyikan lagu-lagu untuk mendukung Cracovia dan juga bersikap sopan kepada Arka Gdynia. Semua klub sepertinya memiliki jejaring pertemanan. Kecuali Legia, karena mereka, seperti yang dikatakan salah seorang suporter Polonia kepada saya, terlalu arogan.”

Contoh keakraban lain juga terdapat di Ukraina, yakni antara Dinamo Kiev dengan Dnipro Dnipropetrovsk. Relasi ini terjalin dikarenakan mereka punya common enemy yang sama: Metalist Kharkiv. Ketika keduanya bertanding, tiap suporter biasanya akan saling meleburkan diri dan menyanyikan lagu hinaan kepada Metalist Kharkiv: ‘Metalist is a team of condoms'.

Di Turki, bentuk keakraban terbaik antarsuporter dapat dilihat dari relasi antara Bursaspor dan Ankaragucu. Relasi ini bermula sejak kematian salah seorang suporter Bursaspor, Abdulkerim Bayraktar, pada tahun 1993. Sebagaimana dijelaskan dalam buku The Passion: Football and the History of Modern Turkey, Bayraktar kala itu hendak pergi menonton pertandingan Ankaragucu, namun yang terjadi ia justru tewas dibunuh oleh PKK (Partiya Karkerên Kurdistanê), sindikat pemberontak berhaluan Marxism di Turki.

Sejak saat itu, tulis Dominic Brassington di Guardian, “para suporter akan bertemu untuk makan bersama tiap kedua tim berjumpa. Jika pertandingan berlangsung di Ankara, mereka akan mengunjungi makam Ataturk, lalu menonton di stadion sambil berpesta”.

Sebagaimana Gemellaggio di Italia, daftar keakraban antarsuporter lintas negara ini juga memiliki daftar yang panjang. Berikut sebagian di antaranya:

FK Sarajevo - SG Dynamo Dresden, FK Borac Banja Luka - FK Vojvodina, Crvena Zvezda - Olympiakos, Tottenham Hotspur - Ajax Amsterdam, Sunderland - Feyenoord Rotterdam, Partizan Belgrade - PAOK, Chelsea - Glasgow Rangers, St. Pauli - Glasgow Celtic, Chivas USA - Guadalajara, Dundee United - Stoke City, hingga kedua klub yang memiliki nama yang sama: Everton - Everton.


Suporter Klub Indonesia: Bergabung dan Saling Membenci

Seberapa mengerikannya rivalitas antarsuporter Indonesia adalah fakta yang tak perlu ditanyakan lagi. Dalam catatan Save Our Soccer yang dilansir Beritagar pada 14 November 2017, sejak 1994 sudah ada 66 suporter yang tewas akibat bentrok suporter. Korban terakhir adalah Rizal Yanwar Saputra, seorang Jakmania yang tewas dikeroyok oleh kelompok pendukung lain usai laga Persija menghadapi Bhayangkara FC, di Stadion Patriot Chandrabhaga, Bekasi, Minggu (12/11/2017). Ia adalah korban ke-12 dalam sepakbola Indonesia tahun 2017.

PSSI sebagai induk organisasi sepak bola nasional sejatinya telah membentuk Departemen Khusus Area Fans dan Community Engagement sebagai upaya meminimalisir bentrok antarsuporter. Pada 3 Agustus 2017 lalu, PSSI juga telah memfasilitasi pertemuan antara suporter dalam acara bertajuk "Rembuk dan Jumpa Suporter Indonesia".

Acara tersebut dilangsungkan hanya beberapa hari setelah kematian Ricko Andrean, suporter Persib Bandung yang meninggal akibat dikeroyok massa sesama bobotoh karena disangka Jakmania yang menyamar, di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), saat laga melawan Persija Jakarta (22/07/2017).


Perdamaian antarsuporter, terutama dari klub-klub dengan latar historis permusuhan yang kental, bukannya tidak pernah dilakukan. Pada November 2015, misalnya, puluhan Bonek menyambut kedatangan Jakmania di Stasiun Gubeng, Surabaya, ketika mereka hendak melanjutkan perjalanan ke Malang untuk menyaksikan pertandingan antara Arema FC melawan Persija Jakarta.

Situasi serupa juga kembali pada 20 Agustus 2017. Ratusan Jakmania tiba di Stasiun Gubeng dengan disambut oleh massa Bonek yang sejak sore sudah berkumpul. Rombongan Jakmania yang rencananya akan melanjutkan perjalanan menuju Madura untuk berlaga melawan tuan rumah Madura United, di stadion Gelora Ratu Pamelingan, Pamekasan, bahkan diantar massa Bonek hingga ke jembatan Suramadu.

Tak lama setelah kematian Ricko Andrean, seruan perdamaian di antara Jakmania dan Bobotoh juga bergaung cukup kencang. Beberapa elit suporter kedua kubu, termasuk Herru Joko dan Ferry Indrasjarief, mencoba aktif mendinginkan suasana rivalitas. Bahkan sempat muncul tshirt/jersey sebelah berwarna biru dan sebelahnya berwarna oranye.

Konflik berujung damai juga pernah diperlihatkan Aremania dan pendukung Madura United, Taretan Dhibik pada September 2016 lalu. Mulanya konflik dipicu oleh aksi Aremania yang melempari bus Madura United saat bertandang ke Malang. Merespon kejadian tersebut, petinggi Aremania segera berinisiatif meminta maaf dengan langsung mengunjungi markas Madura United di Pamekasan. Kesepakatan perdamaian pun resmi ditandatangani di Polres Pamekasan, Madura.


Dalam pagelaran semifinal Piala Gubernur Kaltim 2018 yang dilangsungkan di Stadion Palaran, Jumat (2/3/2/2018) antara Persebaya versus Arema, baik Bonek dan Aremania pun juga sepakat menyatakan perdamaian demi menjaga keamanan. Sementara itu pada Mei 2017 lalu di Yogyakarta, pertemuan tiga poros antara Polda DIY, tim-tim sepak bola DIY peserta Liga 2 2017, serta enam komunitas suporter fanatiknya juga sempat melahirkan nota kesepakatan untuk berkomitmen menyelenggarakan pertandingan sepakbola yang aman dan tertib.

Berbagai usaha perdamaian tersebut menandakan satu hal: bahwa kerukunan antarsuporter di Indonesia semestinya sangat mungkin terealisasi. Namun, apa boleh bikin, pada perjalanannya konflik selalu kembali dan terus kembali terjadi. Ada kondisi perdamaian yang bisa bernafas panjang, namun ada juga yang masih serba kagok, atau bahkan kembali memanas seakan tidak pernah ada usaha sama sekali sebelumnya.

Salah satu kerikil dalam merintis perdamaian justru adalah Gemellaggio ala Indonesia. Saat Viking dan Bonek menjadi kawan, begitu juga Jakmania dan Aremania. Penalaran ala Gemellaggio kira-kira begini: "lawanku (harus) menjadi lawanmu juga. Jika ada kawanku berusaha merintis perdamaian dengan lawanku, ini sulit aku terima".

Ini terasa, misalnya, di laga Persija vs Persebaya yang gagal diselenggarakan akhir pekan lalu di Bantul itu. Sejak awal, muncul banyak seruan semacam "jangan ada biru dulu di Bantul, baik biru barat (bobotoh) maupun biru timur (Aremania)". Maksudnya: biarlah laga itu menjadi hanya pertemuan antara Persija dan Persebaya atau Jakmania dan Bonek. Kemunculan biru dicemaskan akan menjadi batu api yang memercikkan asap. Ketika kekerasan akhirnya meledak, salah satu tudingan akhirnya ada yang diarahkan kepada kehadiran biru yang menyelinap.

Kasus terakhir ini memperlihatkan perdamaian di antara dua rival yang punya ikatan dengan yang lain, alias Gemellaggio, menjadi lebih problematis. Ini selalu menjadi relasi segitiga, bahkan segiempat, yang lebih pelik untuk diurai benang kusutnya dibandingkan relasi antar dua klub belaka.

Terkait hal ini, Pierre Corneille, seorang tragedian Prancis yang kesohor pada abad ke-17, yang pernah berkata: “Peace is produced by war.” Barangkali, memang hanya dengan berperanglah para suporter itu mengenal perdamaian. Pertanyaannya: harus sampai kapan dan mesti berapa lama lagi?

Baca juga artikel terkait KERUSUHAN SUPORTER atau tulisan menarik lainnya Eddward S Kennedy
(tirto.id - Olahraga)

Penulis: Eddward S Kennedy
Editor: Zen RS
DarkLight