tirto.id - PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA tengah disiapkan untuk dilebur ke dalam PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI. Namun, di tengah proses konsolidasi sektor transportasi publik tersebut, INKA tercatat masih dibayangi persoalan keuangan serius dengan utang tidak berkelanjutan atau unsustainable loan mencapai Rp 4,7 triliun serta ekuitas bernilai negatif.
Chief Operating Officer (COO) Daya Anagata Nusantara (Danantara) sekaligus Kepala Badan Pengelola (BP) BUMN, Dony Oskaria, mengungkapkan bahwa pembenahan struktur keuangan INKA menjadi persoalan penting sebelum proses merger resmi dirampungkan.
"Equity-nya negatif, ada unsustain loan Rp 4,7 triliun. Jadi teman-teman bisa bayangin semua dirapikan, INKA itu juga punya problem keuangan," ujar Dony saat ditemui wartawan di Kemenko Pangan, Jakarta, dikutip Rabu (30/9/2026).
Dony menjelaskan, penataan keuangan dan kapasitas produksi INKA merupakan bagian dari transformasi BUMN sektor industri. Terlebih lagi, fokus pemerintah saat ini adalah memperkuat transportasi publik berbasis rel, sehingga INKA memegang peran strategis sebagai penyedia armada kereta api nasional.
"Saat ini, kapasitas mereka belum cukup untuk itu. Karena itu sedang kita lakukan nanti improvement di situ, termasuk penambahan modal. Karena kan mereka itu sebetulnya punya financial problem juga," tuturnya.
Proses penggabungan INKA di bawah naungan KAI ditargetkan rampung dalam waktu dekat sebagai langkah konsolidasi per sektor. Meski belum membeberkan tanggal pasti, Dony mengindikasikan proses merger INKA dan KAI diharapkan dapat selesai sebelum awal tahun depan.
"Oh saya mesti cek persisnya, tapi mereka akan merger. Harusnya sudah [rampung], sebelum Januari malah harusnya," kata Dony.
Melalui konsolidasi dan penyertaan modal ini, BUMN di sektor industri manufaktur seperti INKA diharapkan tidak hanya sehat secara finansial, tetapi juga mampu tumbuh dan menyerap lebih banyak tenaga kerja.
"Bahwa memang ke depannya kan kita mau menjadikan BUMN-BUMN di sektor industri itu juga akan tumbuh dan berkembang. Kenapa? Karena kan sektor industri itu membuka lapangan pekerjaan yang banyak," tutur Dony.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Andrian Pratama Taher
Masuk tirto.id






































