Menuju konten utama

2 Tentara AS Tewas & 1 Hilang akibat Serangan Iran di Yordania

CENTCOM menyatakan insiden itu jadi kematian pertama personel militer AS akibat serangan langsung Iran sejak Maret lalu.

2 Tentara AS Tewas & 1 Hilang akibat Serangan Iran di Yordania
Ilustrasi Perang Iran. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Dua personel militer Amerika Serikat (AS) tewas dan satu lainnya masih dinyatakan hilang setelah pangkalan militer AS di Al-Azraq, Yordania, diserang rudal balistik dan drone Iran pada Jumat (17/7/2026) waktu setempat. Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan insiden tersebut menjadi kematian pertama personel militer AS akibat serangan langsung Iran sejak Maret lalu.

“Dua personel militer AS gugur dalam tugas pada 17 Juli ketika Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) bersama pasukan mitra mempertahankan diri dari serangan rudal balistik dan drone Iran. Selain itu, satu personel militer saat ini masih dinyatakan hilang dalam tugas,” demikian pernyataan CENTCOM melalui media sosial, dikutip dari CNN, Minggu (19/7/2026).

Selain korban tewas dan hilang, empat personel militer AS lainnya sempat dievakuasi ke rumah sakit di Yordania untuk mendapatkan perawatan medis. Namun, menurut CENTCOM, keempatnya telah dipulangkan dari rumah sakit.

Sementara itu, sejumlah personel lain mengalami luka ringan dan telah kembali menjalankan tugas.

CENTCOM menyatakan identitas dua personel yang gugur belum akan diumumkan hingga sedikitnya 24 jam setelah keluarga mereka menerima pemberitahuan resmi. Presiden AS, Donald Trump menyebut kematian dua tentaranya sebagai peristiwa yang menyedihkan.

“Kami sangat tidak ingin melihat hal seperti itu terjadi. Mereka gugur saat mengabdi kepada negara kita,” ujar Trump dalam wawancara dengan NewsNation, Sabtu (18/7/2026).

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth juga menyampaikan penghormatan kepada para korban melalui unggahan di platform X.

“Selamat jalan, para pahlawan. Pengorbanan mereka hanya akan semakin menguatkan tekad kami,” tulis Hegseth.

Sebelumnya pada hari yang sama, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap pangkalan militer yang digunakan pasukan AS di Al-Azraq, Yordania. Dalam pernyataannya, IRGC mengklaim berhasil “menghancurkan sepenuhnya” sejumlah pesawat dalam serangan yang menggunakan rudal dan drone tersebut.

Merespons serangan itu, militer AS pada Sabtu malam mengumumkan telah melancarkan gelombang serangan udara baru ke Iran sebagai upaya untuk “segera menghukum” Iran atas tewasnya personel militer Amerika.

Dengan insiden terbaru tersebut, jumlah personel militer AS yang meninggal selama hampir lima bulan konflik berlangsung kini mencapai 16 orang, berdasarkan data Defense Casualty Analysis System milik militer Amerika Serikat.

Sebelumnya, enam prajurit Cadangan Angkatan Darat AS tewas pada 1 Maret akibat serangan langsung Iran terhadap pusat operasi sementara di Pelabuhan Shuaiba, Kuwait. Beberapa hari kemudian, seorang sersan Angkatan Darat AS juga tewas setelah mengalami luka dalam serangan di Arab Saudi.

Pada 12 Maret, enam personel militer AS lain tewas ketika pesawat pengisian bahan bakar KC-135 Stratotanker milik Angkatan Udara AS jatuh di Irak barat. Namun, militer AS menyatakan kecelakaan tersebut “tidak disebabkan oleh tembakan musuh maupun tembakan kawan.”

Sementara itu, Angkatan Laut AS pada 5 Juli menghentikan operasi pencarian terhadap seorang personel yang hilang setelah helikopter yang ditumpanginya jatuh di Laut Arab. Militer menyatakan “tidak ada indikasi bahwa keadaan darurat tersebut disebabkan oleh aksi permusuhan.”

Korban terbaru muncul ketika gencatan senjata rapuh antara Iran dan Amerika Serikat praktis kembali runtuh pekan ini. Kedua negara kembali saling melancarkan serangan. Serangan udara AS dibalas Iran dengan gelombang rudal dan drone yang menyasar semakin banyak lokasi, termasuk negara-negara yang menjadi tuan rumah pangkalan militer Amerika.

Di sisi lain, otoritas Iran pada Sabtu melaporkan 12 warganya tewas dalam sehari terakhir sehingga jumlah korban meninggal pada fase terbaru konflik meningkat menjadi 50 orang. Wakil Gubernur Provinsi Hormozgan juga menyatakan fasilitas desalinasi air di wilayah tersebut hancur akibat serangan rudal AS. Hingga kini, militer AS belum memberikan tanggapan atas klaim tersebut.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Nabila Ramadhanty

tirto.id - Flash News
Reporter: Nabila Ramadhanty
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Fadrik Aziz Firdausi