tirto.id - Negosiasi pembukaan kembali Selat Hormuz antara Iran dan Oman dilaporkan berjalan positif. Namun, Teheran belakangan mengungkap enam syarat yang harus dipenuhi Amerika Serikat (AS) jika pembukaan kembali jalur vital energi global itu ingin kembali dibuka.
Dalam dua pekan terakhir, jalannya negosiasi antara Iran dan Oman terkait Selat Hormuz dikabarkan memasuki tahap lanjutan. Kedua negara disebut memiliki peluang untuk menyepakati jalur lintas selat yang baru, dengan tanggung jawab keamanannya akan dibagi antar Teheran dan Muscat.
Akan tetapi, media milik Pemerintah Iran, IRIB, baru saja melaporkan bahwa pejabat Teheran menghendaki enam syarat jika ingin pembukaan Hormuz terjadi. Syarat-syarat ini disebut telah dinyatakan pejabat Teheran pada Sabtu (8/8/2026).
Laporan IRIB terkait syarat itu disitir dari pernyataan Mohammad Bagher Zolghadr. Ia merupakan sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi sekaligus Penasihat Pemimpin Tertinggi Iran.
Dalam pernyataannya, Zolghadr menyebut bahwa Teheran meminta AS untuk “memperbaiki perilaku” mereka terhadap Iran. Perilaku yang dimaksud itu termasuk tentang pembekuan aset Iran di luar negeri hingga ganti rugi perang.
“Sampai Amerika memperbaiki perilakunya, Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali,” kata Zolghadr.
Sementara itu, keenam syarat yang diminta Iran itu adalah sebagai berikut:
- Jangan pernah, dalam bahasa apa pun, mengancam Iran atau menghina kesuciannya.
- Akhiri perang dan agresi terhadap Iran dan sekutunya di Lebanon, Palestina, Yaman, dan Irak untuk selamanya.
- Mencabut blokade laut dan menarik pasukan dari wilayah sekitar Iran.
- Mengganti rugi secara penuh kerusakan yang diderita Iran dalam dua perang agresi terakhir.
- Cabut sanksi terhadap Iran.
- Bebaskan aset Iran yang dibekukan dan dicuri tanpa syarat.
MoU 17 Juni sebelumnya merupakan upaya perundingan yang dilaporkan telah dicapai pasca-gencatan senjata AS-Iran. Namun, sebelum sempat diresmikan, kesepakatan ini batal imbas terjadinya eskalasi konflik dan militer kedua negara kembali saling menyerang satu sama lain.
Sementara itu, menukil The Independent, seiring dikeluarkannya enam syarat pembukaan Selat Hormuz oleh Iran, juru bicara Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), Brigadir Jenderal Hossein Mohebbi telah berbicara kepada sekutu dan wartawan di Bandar Abbas bahwa Hormuz kini telah menjadi “alat kekuasaan dan perang”.
Mohebbi menyebut masa depan jalur pelayaran melalui Selat Hormuz kini ditentukan oleh kemauan AS menerima persyaratan Iran.
“Kapan pun Amerika Serikat menerima persyaratan Iran, Selat Hormuz pasti akan dibuka kembali,” tuturnya.
Sebelumnya, dua orang pejabat senior Iran yang jadi sumber anonim Reuters, mengatakan negosiasi Iran dengan Oman terkait Hormuz disebut akan memberikan Teheran kendali atas kapal-kapal yang memasuki kawasan Teluk via selat itu. Ini diproyeksikan akan menjadi konsesi terbesar yang pernah diberikan kepada Iran.
Di sisi lain, para pejabat AS sejauh ini telah berulang kali mengatakan mereka tidak akan menyetujui klausul pengendalian akses Selat Hormuz oleh Iran. Namun, belum jelas apakah Washington telah mengubah sikap mereka terkait persoalan ini.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id
































