Menuju konten utama

Iran Minta AS Cabut Sanksi & Tarik Pasukan Buka Selat Hormuz

Masa 60 hari yang disepakati kedua negara untuk merundingkan kesepakatan final akan berakhir dalam waktu lebih dari sepekan.

Iran Minta AS Cabut Sanksi & Tarik Pasukan Buka Selat Hormuz
Sebuah perahu berada di lepas pantai provinsi Musandam, menghadap Selat Hormuz, di wilayah pemerintahan Musandam, Oman, 8 April 2026. (REUTERS/Stringer/File Photo)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Iran menetapkan sejumlah syarat kepada Amerika Serikat (AS) sebelum membuka kembali Selat Hormuz untuk pelayaran internasional. Syarat tersebut mencakup pencabutan blokade laut dan sanksi, penarikan pasukan militer AS dari kawasan, hingga pembayaran ganti rugi perang.

Melansir CNBC, Minggu (9/8/2026), Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohammad Bagher Zolghadr, menyampaikan bahwa pembukaan Selat Hormuz harus didahului dengan sejumlah langkah dari Washington. Pernyataan tersebut disampaikan pada Sabtu, sebagaimana dilaporkan sejumlah media.

Selain mencabut blokade laut dan sanksi, Iran menuntut AS menarik pasukan militernya dari kawasan, membayar reparasi perang, serta melepaskan aset-aset Iran yang dibekukan. Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran juga menyerukan penghentian serangan AS terhadap sekutu-sekutu Iran di kawasan dan penghentian ancaman terhadap Iran.

CNBC menyebut belum dapat memverifikasi tuntutan tersebut secara independen. Gedung Putih juga belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.

Tuntutan Iran tersebut muncul ketika pembicaraan mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz masih berlangsung. Berdasarkan kesepakatan sementara yang ditandatangani AS dan Iran pada Juni, jadwal penghentian sanksi, rencana kompensasi, serta pembahasan mengenai aset Iran yang dibekukan akan menjadi bagian dari kesepakatan akhir.

Masa 60 hari yang disepakati kedua negara untuk merundingkan kesepakatan final akan berakhir dalam waktu lebih dari sepekan.

Kapal ADNOC Diserang

Pernyataan Iran mengenai syarat pembukaan Selat Hormuz disampaikan tak lama setelah Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) melaporkan salah satu kapalnya menjadi sasaran rudal ketika melintasi selat tersebut pada Sabtu.

ADNOC menyatakan serangan itu tidak menimbulkan korban. Perusahaan minyak milik Abu Dhabi tersebut mengatakan insiden telah berhasil dikendalikan.

“Insiden tersebut tidak mengakibatkan cedera, dan situasi telah berhasil dikendalikan,” kata ADNOC dalam pernyataannya.

Pemerintah Uni Emirat Arab (UEA), yang ibu kotanya adalah Abu Dhabi, turut mengecam insiden tersebut.

UEA menyatakan “mengutuk dengan sekeras-kerasnya” serangan terhadap kapal tanker yang berafiliasi dengan ADNOC ketika melintasi Selat Hormuz.

Di sisi lain, Iran menyatakan hampir mencapai kesepakatan dengan Oman terkait pengelolaan lalu lintas di Selat Hormuz. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sebelumnya mengatakan kedua negara yang berbatasan dengan jalur perairan tersebut hampir mencapai kesepakatan mengenai navigasi, khususnya penentuan rute pelayaran.

Oman mengatakan pembicaraan masih berlangsung dalam suasana yang “positif dan konstruktif”. Pemerintah Oman juga mengecam serangan terhadap kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz.

Wakil Presiden AS, JD Vance, mengatakan Iran dan negara-negara Teluk, khususnya Oman, tengah membahas mekanisme untuk memastikan arus pelayaran tetap aman di Selat Hormuz.

Menurut Vance, rencana tersebut mencakup pengaturan lalu lintas kapal, pembersihan ranjau laut, serta komitmen Iran untuk tidak menembaki kapal komersial.

“Kami tidak percaya. Kami memverifikasi,” kata Vance dalam wawancara dengan Fox News pada Sabtu.

Vance menegaskan AS akan menilai Iran berdasarkan tindakan yang dilakukan, bukan sekadar pernyataannya.

Kesepakatan Pembukaan Hormuz Belum Tercapai

Selat Hormuz menjadi titik krusial dalam konflik AS-Iran karena merupakan jalur utama pengiriman energi global. Kemampuan Iran untuk menutup atau membatasi akses melalui selat tersebut telah memicu guncangan pasokan energi global, mendorong kenaikan harga bahan bakar, memperburuk inflasi, dan meningkatkan kekhawatiran terhadap cadangan minyak.

Harga minyak bahkan kembali naik pada Jumat karena investor menunggu kesepakatan yang sebelumnya disebut pemerintahan Presiden AS Donald Trump akan membuka Selat Hormuz bagi pelayaran bebas.

Sebelumnya, Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengatakan kepada CNBC pada Selasa bahwa kesepakatan untuk membuka Selat Hormuz dengan kebebasan pergerakan kapal dapat tercapai secepat Rabu. Trump dan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga sebelumnya menyatakan kesepakatan hampir tercapai.

Namun, hingga Sabtu, kesepakatan tersebut belum diumumkan. Lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz pada Jumat tercatat turun 33 persen dibandingkan sehari sebelumnya. Menurut perusahaan intelijen perdagangan Kpler, sebagian besar kapal yang masih melintas menggunakan rute melalui perairan Iran.

Iran dan Oman saat ini disebut tengah menyusun kesepakatan untuk menentukan rute transit kapal melalui selat tersebut. Dalam skema yang dibahas, kapal yang masuk akan melintasi perairan Iran, sedangkan kapal yang keluar akan menggunakan perairan Oman.

Namun, rencana yang lebih ketat juga muncul dari Iran. Media pemerintah Iran pada Kamis menerbitkan rancangan aturan yang akan membatasi lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Rancangan tersebut masih ditinjau oleh parlemen Iran, menurut media pemerintah Fars.

Berdasarkan rancangan itu, kapal berbendera AS dan Israel akan dilarang melintasi Selat Hormuz. Negara lain yang dianggap telah merugikan Iran juga tidak diperbolehkan melintas sampai membayar kompensasi.

Juru bicara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Sardar Mohbi, menegaskan pembukaan kembali Selat Hormuz tidak semata-mata bergantung pada pembicaraan Iran dengan Oman.

“Pembukaan kembali Selat Hormuz tunduk pada mekanisme dan kondisi khusus Republik Islam Iran dan tidak ada hubungannya dengan negosiasi antara Iran dan Oman,” kata Mohbi dalam pernyataannya.

Harga Minyak dan Ancaman Konflik Regional

Ketidakpastian mengenai pembukaan Selat Hormuz turut memengaruhi pasar minyak. Harga kontrak berjangka Brent, patokan minyak internasional, naik lebih dari 1 persen dan ditutup pada 83,55 dolar AS per barel.

Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) naik sekitar 1 persen dan ditutup pada 78,18 dolar AS per barel. Kendati demikian, harga minyak tersebut masih turun lebih dari 7 persen dalam sepekan.

Ketegangan di kawasan meningkat setelah jeda singkat pertempuran AS dan Iran menyusul nota kesepahaman pada 17 Juni kembali diikuti serangkaian serangan dan serangan balasan.

Iran dalam beberapa pekan terakhir juga melancarkan serangan rudal dan drone terhadap sejumlah negara tetangganya di kawasan Teluk.

Pada Kamis, Ketua Parlemen Iran sekaligus negosiator utama dalam pembicaraan dengan AS, Mohammad Bagher Ghalibaf, menuduh Trump menjalankan apa yang disebutnya sebagai “diplomasi teater”.

“‘Serangan besar-besaran akan datang … tunggu, tidak jadi, mereka ingin bernegosiasi.’ Itulah diplomasi teater yang terus berulang,” tulis Ghalibaf melalui X pada Kamis.

Pernyataan tersebut disampaikan beberapa hari setelah Trump membatalkan rencana serangan dan mengatakan bahwa garis besar kesepakatan dengan Teheran telah disepakati.

Namun, pejabat Iran membantah klaim tersebut dan menyatakan bahwa tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung.

Di tengah situasi tersebut, konflik AS-Iran terus meluas di kawasan. Infrastruktur energi negara-negara Teluk dan sejumlah jalur pelayaran strategis kini kembali berada dalam ancaman.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Nabila Ramadhanty

tirto.id - Flash News
Reporter: Nabila Ramadhanty
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Andrian Pratama Taher